Tidak Boleh Gagal


Inspirasi dari serial TV, Doctor X.

Barusan selesai nonton sebuah serial TV di kanal Waku Waku Japan berjudul Doctor X. Mengisahkan tentang seorang dokter bernama Michiko Daimon yang memilih menjadi dokter lepas karena tidak suka terikat dengan kebijakan dan aturan rumah sakit.

Saya tidak mengikuti serial ini dari awal, hanya saja kebetulan pas ganti-ganti saluran TV kok sepertinya bagus nih film. Ternyata memang bagus sih. Apalagi latar belakang rumah sakit yang cukup menarik buat ditonton bersama istri yang punya latar belakang di dunia kesehatan.

Di episode yang kami tonton tadi, mengisahkan tentang putri kepala rumah sakit yang menderita tumor (lupa istilah medisnya).

Satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa sang putri adalah lewat operasi. Namun, dokter-dokter di rumah sakit itu tidak ada yang berani melakukan operasi. Karenanya muncul opsi untuk mengirim putri kepala rumah sakit itu ke sebuah rumah sakit di Amerika. Alasannya, tim dokter di sana berpengalaman melakukan operasi yang sama.

Namun, kepala rumah sakit menolak ide itu. Pertimbangannya, tim dokter biasanya melakukan operasi di rumah sakit itu, masa karena pasiennya kebetulan adalah putri kepala rumah sakit, maka penanganan harus dilakukan di Amerika.

Singkat cerita, salah satu dokter bedah yang juga adalah tunangan sang putri mencari tahu tentang riwayat operasi oleh tim rumah sakit di Amerika tersebut.

Ia pun mengetahui bahwa tim dokter yang melakukan operasi kala itu dipimpin oleh seorang dokter lepas yang bernama Doctor X.

Kemudian ia mencari tahu tentang Doctor X ini yang tak lain adalah dokter asal Jepang.

Lalu, dokter bedah tunangan sang putri mengatur pertemuan antara Doctor X dengan kepala rumah sakit di sebuah restoran.

Setelah pertemuan selesai, Doctor X dan Kondo (dokter yang jadi tunangan putri kepala rumah sakit) berjalan bersama sambil mengobrol.

Dari obrolan tersebut, Kondo mengakui kalau ia pernah melakukan operasi yang sama tapi gagal. Nyawa pasien yang ia tangani tak tertolong.

Itulah yang membuatnya meminta bantuan Doctor X. Ia tidak bisa membayangkan apa jadinya bila ia gagal.

Lalu, dengan wajah serius, Doctor X berkata, "Dokter mana yang boleh gagal?"

Kondo terdiam. Lalu Doktor X pun melanjutkan, "Aku tak mau gagal, jadi aku mau melakukan operasi, sedangkan kamu takut gagal jadi tidak mau melakukan operasi." Seraya pergi meninggalkan Kondo.



Mendengar kata-kata itu, saya langsung berkata dalam hati, "Iya ya."

Maksud saya gini, siapa sih yang mau gagal? Sepertinya kok tidak ada satu pun orang yang ingin gagal. Bahkan orang yang berniat gagal pun ingin sukses menjadi orang gagal.

Hal pembeda antara pemenang dan pecundang adalah tindakan.

Apakah para pemenang adalah orang yang tidak takut gagal? Saya kok nggak yakin ya. Takut gagal itu alami dan manusiawi. Pertanyaannya apa yang kita pilih untuk lakukan? Terus melangkah atau berhenti alias cari aman.

Saya sendiri lebih cenderung tidak melakukan apa-apa alias mundur teratur, supaya saya tidak perlu merasakan pahitnya kegagalan. Namun, sayangnya (atau untungnya) saya hidup di lingkungan yang tidak mentolerir pilihan 'aman'. Akhirnya, terpaksa saya harus meninggalkn zona nyaman itu untuk mulai berani mencoba.

Gagal lalu dihabisi dimarahi habis itu termasuk resiko yang harus disikapi dengan bijak. Bukan dengan menghindar, tapi lewat persiapan matang.

Dengan mengetahui bahwa kita mungkin gagal padahal tidak boleh gagal, kita (harusnya) bisa lebih baik di dalam mempersiapkan tindakan kita. Kemungkinan-kemungkinan gagal dan bagaimana mengantisipasinya. Setidaknya, meminimalisir dampaknya.

Jadi, apakah kamu takut gagal?

Post a Comment

Pages

© 2019

Minimalist Web