Baik Itu Nggak Selalu Baik


Bisakah kamu membayangkan orang baik yang kamu kenal? Seperti apa dia?

Apakah ia murah senyum? Mungkinkah dia itu ringan tangan? Atau santun perilaku dan kata-katanya?

Adakah di antara kamu membayangkan orang berperangai kasar, tempramental, pedas tutur katanya dan acuh tak acuh, sebagai sosok berlabel ‘baik’?

Share di kolom komentar ya kalau ada.

Dulu, saya menggambarkan orang baik sebagai pribadi yang ramah, santun, suka menolong, menyemangati saat saya sedih, murah senyum dan hal-hal baik lain yang membuat saya merasa nyaman bersamanya.

Ternyata, saya keliru.

Tidak semua orang baik itu baik. Maksudnya, hanya karena seseorang melakukan sesuatu yang membuat kita tak nyaman, tak serta merta berarti ia jahat (lawan kata dari baik).

Malah, ada kalanya orang yang paling jahat, menyebalkan dan membuat kita tak nyaman, justru merupakan orang-orang yang benar-benar baik, sayang dan peduli terhadap diri kita. Di balik kegarangan yang mereka tunjukkan, jauh di dalam hati, sebenarnya mereka melakukan itu karena mereka cuma ngeman kita.

Ah masa? Kalau mereka memang baik, nggak perlu dong marah-marah tiap hari gitu.

Hmm…gini ya, ada beberapa hal yang perlu kita ketahui sebelum melabel mereka ‘jahat’.

Yang pertama, bisa jadi jahatnya mereka itu disebabkan karena mereka tidak tahu cara lain untuk menunjukkan sayang mereka kepadamu.

Kan bukan salah mereka kalau mereka lahir dan besar di lingkungan yang keras. Mereka juga nggak milih punya kehidupan seperti itu kan.

Kalau seperti itu, ya bukan salah mereka banget kan kalau perilaku mereka pun seperti itu. Alhasil, jadilah mereka orang ‘jahat’ di matamu.

Kedua, coba deh sebelum manyun, berdirilah di depan cermin. Siapa tahu sosok di cermin itulah penyebab ‘kejahatan’ mereka selama ini.

Ya kali, kita adalah orang yang…diobong nggak kobong, diguyang nggak teles, diguak mbalik (dibakar tidak terbakar, disiram tidak basah, dibuang malah balik), alias bebal bin keras kepala.

Karena ngeman-eman masa depan kita bila kita tak kunjung berubah, akhirnya mereka yang memilih untuk berubah. Dan dalam hal ini, merubah cara mereka memperlakukan kita.

Bukankah kita tidak bisa merubah siapa pun kecuali diri sendiri?

Nah, itulah yang mereka lakukan. Merubah diri mereka, terhadapmu.

Ironis, betapa kita kadang menyayangkan melihat orang yang selama ini begitu baik pada, tiba-tiba berubah 180° tanpa mau introspeksi, bahwa kita ternyata ikut andil dalam perubahan mereka.

4 comments

Post a Comment

Pages

© 2019

Minimalist Web