Katanya Perbaikan, Kok Jadi Berantakan?


Lah kok bisa?


Sejak jelang lebaran tahun ini, tampak jalan utama By Pass Surabaya-Malang menjalani program 'rehabilitasi' alias perbaikan jalan. Program yang masih berjalan hingga hari ini di beberapa ruas jalan yang rusak parah terus dilakukan.

Berbeda dengan program perbaikan jalan yang pernah saya lihat sebelumnya. Program ini tampak lebih 'niat dan bermodal'.

Kalau dulu, yang namanya perbaikan jalan ya sebatas jalan berlubang ditambal dengan kombinasi batu dan aspal. Kali ini, perbaikan jalan dilakukan dengan cara melubangi jalan sepanjang area yang ditentukan, sedalam kurang lebih 1 meter.

Lalu di lubang tersebut dicor ulang. Ibaratnya seperti membuat ulang jalan dari awal lagi.

Kalau dilihat-lihat, tampaknya perbaikan dengan cara seperti ini (sepertinya) lebih tahan lama dibandingkan sebelumnya yang hanya melapisi jalan berlubang dengan aspal.

Namun, konsekuensinya....prosesnya jadi lebih lama.

Dan, seperti sudah menjadi satu paket. Setiap ada pengerjaan perbaikan jalan, di situlah timbul kemacetan parah.

Demikian pula dengan proses perbaikan kali ini. Sepintas sempat terpikir, katanya perbaikan kok malah berantakan sih? Jadi macet tak berujung gini.

Tapi ya...namanya juga proses. 

Perubahan, perbaikan, pengembangan, semua menjanjikan masa depan yang lebih baik. Namun, proses menuju ke sana seringkali jauh dari yang namanya indah, menyenangkan, bahkan tak jarang membuat kondisi jadi lebih buruk dari yang ada saat ini.

Terus gimana? Nggak usah ada perbaikan saja? Kan nggak gitu juga toh.

Sebenarnya kita cuma perlu menyadari kalau perubahan itu perlu proses, dan yang namanya proses perlu waktu.

Lama tidaknya tergantung perubahannya. Makin besar cakupannya, makin lama prosesnya. Pertanyaannya, cukup sabar kah menjalani proses yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang lebih besar?

Post a Comment

Pages

© 2019

Minimalist Web