Pelajaran Dari Serial TV : Danshari

Danshari : Deny, Dispose, Detach

Akhir pekan ini, saya dan keluarga menghabiskan waktu berdiam diri di rumah saja. Selain pertimbangan biaya, kondisi badan yang tidak terlalu fit juga jadi satu alasan untuk tidak beranjak ke mana-mana.

Lagipula, tidak ada urgensi apapun untuk keluar rumah. Jadilah kami menghabiskan waktu di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah bersama-sama.

Saya kebagian menyeterika, beli soto di dekat rumah sebagai lauk makan, siram-siram taman dan nge-vacuum seisi rumah.

Istri saya, kebagian tugas mandiin si pangeran kecil, nyuapin dan masuk-masukkin baju ke mesin cuci. Sedangkan si pangeran, tugasnya adalah bermain dan makan yang banyak 😅.

Ternyata, menghabiskan waktu seharian di rumah dengan segala aktivitasnya nggak kalah asyik dibandingkan jalan-jalan tempat mainan si pangeran.

Malahan lebih seru. Bisa melihat si kecil menghabiskan 2 buah buku untuk menggambar Bendy And The Ink Machine, yang dia temukan sendiri dari Youtube.

Siang hari, pukul 13.00, ada sebuah acara di Waku Waku Japan yang sudah saya tunggu-tunggu. Acara itu berjudul Danshari: Deny, Dispose, Detach.

Saya penasaran aja seperti apa sih acara itu karena sebelumnya saya sudah pernah mendengar tentang Danshari, sebuah metode berberes asal Jepang. Untuk orang yang memilih menjadi seorang minimalis, tentunya acara seperti ini so interesting.

Singkat cerita, ketika acara mulai, si pemandu acara, Hideko Yamashita, seorang konsultan beberes mendatangi rumah kliennya yang sangat berantakan.

Hideko Yamashita (kiri) dengan kliennya.

Kasus Pertama

Kebetulan, saya lihatnya sedikit terlambat. Namun saya masih sempat melihat ketika di kasus pertama, seorang ibu yang rumahnya penuh sesak dengan barang.

Sangking penuhnya, sampai-sampai tidak ada ruang untuk berjalan.

Yang menarik dari kasus pertama ini adalah betapa sang ibu tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang sama berulang-ulang.
Saya tidak membereskan itu karena sangat merepotkan.
Kenapa menarik? Karena sebenarnya ibu ini tak menyadari bahwa kerepotan-kerepotan yang ia rasakan adalah akibat dari perbuatannya sendiri yang gemar menimbun barang, menyimpan barang yang tidak pernah digunakan, memiliki barang yang sama lebih dari satu supaya ringkas (contoh kursi lipat di wastafel depan dan belakang untuk pijakan anaknya) dan 'tidak merepotkan'.

Sejenak, saya seperti melihat diri saya yang dulu. Betapa saya ingin memiliki barang sama untuk diletakkan di tempat yang berbeda. Alasannya, supaya tidak merepotkan.

Masalahnya, barang itu memerlukan tempat yang tidak saya punyai. Karena dulu saya belum mengenal minimalisme apalagi danshari, ya saya paksakan saja dengan prinsip, pokoke muat, tanpa berpikir kalau rumah jadi rungsek karena terlalu banyak dipenuhi barang.

Kalau saya bukan ngontraktor dan terpaksa pindah ke rumah dengan ukuran lebih kecil dari sebelumnya, mungkin saya juga akan berakhir seperti itu. Menumpuk dan menimbun barang.

Di akhir cerita, si ibu akhirnya berhasil membuang barang-barang yang tidak diperlukan seperti suvenir dari tempat wisata yang ia kunjungi, mainan anaknya dan banyak lagi.

Bahkan, sang anak akhirnya mau ikut membantu setelah melihat ibunya bekerja sangat keras membereskan rumah dengan metode danshari.

Mereka bahkan mau membuang rumah kardus buatan si adik supaya tidak menuh-menuhin tempat. Akhirnya, ibu ini berhasil menciptakan ruang yang lega bagi keluarga untuk menghabiskan waktu bersama.

Kasus Kedua

Di kasus kedua, kali ini klien Bu Yamashita berhadapan dengan seorang wanita lajang berusia 50-an yang tinggal berdua bersama sang ayah yang kesulitan berjalan.


Wanita pekerja ini sering merasa kesulitan untuk merapikan rumahnya dan menyiapkan segala sesuatu untuk ayahnya yang kesulitan berjalan.


Biasanya kegiatan mengurus rumah ini dilakukan oleh sang ibu. Akan tetapi, itu sudah tak mungkin lagi karena ibunya sedang sakit.

Karena tak biasa itu, ia membutuhkan waktu lama untuk 'hanya' merapikan sedikit.

Kebetulan, saya nggak lihat sampai habis untuk kasus ini karena saya belum sholat Dhuhur 😆. Cuman, saya sempat lihat si wanita ini akhirnya jujur mengakui kalau dia butuh bantuan. 

Kemudian, ia meminta bantuan pada kru untuk membantunya menyortir barang-barang ke dalam maksimal tiga kategori.

Semoga wanita itu berhasil mengatasi masalahnya dan membereskan rumah yang penuh sesak dengan barang.

Kasus Ketiga

Di kasus terakhir, klien yang dihadapi oleh Bu Yamashita kali ini adalah seorang istri yang tinggal bersama ibu mertuanya.

Pada kasus ini, si istri dan ibu mertua menyimpan begitu banyak porselen, botol, alat makan, yang lagi-lagi hampir tidak pernah digunakan.

Bahkan ketika proses membuang, si ibu mertua menemukan botol takar yang selama ini dia cari.

Pernah ngalamin nggak, sangking banyaknya barang yang kita punya, kita itu nggak ingat apa dan di mana barang itu berada. Ini saya alamin sendiri pas beres-beres gegara mau pindahan, 2 tahun lalu.

Saya jadi berpikir, mungkin salah satu tolak ukur sederhana apakah barang yang kita punyai itu terlalu banyak atau tidak adalah dengan melihat ke lemari atau tempat penyimpanan barang lainnya. Coba sebutkan barang apa saja yang ada di dalamnya tanpa membuka lemari itu.

Kalau sulit, mungkin, sudah waktunya dipilah-pilih lagi, mana yang mau disimpan dan mana yang harus pergi.

Kembali ke kasus ketiga Danshari.

Yang menarik dari kasus ini adalah drama mertua-menantu yang suka nggak nyatu…yang senyum-senyum kecut, pasti tahu apa maksudnya.

Ceritanya Bu Yamashita, melihat bahwa sekalipun sudah mengeluarkan banyak barang, tapi rumah mereka masih terasa pengap. Menurut Bu Yamashita, tampaknya hal itu disebabkan kabinet gantung besar di ruang makan mereka.

Menyadari bahwa ada barang-barang si ibu mertua di situ, Bu Yamashita meminta sang istri untuk menyampaikan pesan tersebut ke ibu mertuanya dengan penuh rasa hormat.

Ternyata, alih-alih menyampaikan pesan Bu Yamashita itu, si istri memutuskan untuk mengeluarkan sendiri barang-barang dari kabinet tersebut untuk dibuang.

Tak lama…ibu mertua datang dan melihat menantunya hendak membuang barang-barang tanpa sepengetahuannya, ia pun sontak marah dan pergi meninggalkan rumah.

Melihat kondisi tersebut, Bu Yamashita berusaha menengahi dan menyampaikan alasan sang istri melakukan itu.

Dengan penjelasan-penjelasan Bu Yamashita itu, sang ibu mertua pun mengerti.

Sang istri yang merasa bersalah dan tak ingin melukai perasaan ibu mertuanya tetap melanjutkan proses danshari, tetapi hanya untuk barang yang ia bisa putuskan sendiri untuk dibuang. Dari ruang makan, ia beranjak ke kamarnya untuk me-danshari barang-barang pribadinya.

Penjelasan dari Bu Yamashita dan bagaimana menantunya gigih melakukan danshari, ia pun melunak dan turut membantu walau kadang hanya sebatas memberi masukan dan pendapat saja.

https://japanahome.com/journal/danshari-decluttering-happier-life/

Lesson Learned

Ada beberapa poin yang saya pelajari dari acara Danshari : Deny, Dispose, Detach ini.

Yang pertama, kita perlu membuang barang-barang di dalam proses danshari. Namun, kita juga perlu barang di dalam kehidupan kita. Poinnya bukan pada seberapa banyak yang bisa dibuang, melainkan seberapa tepat kita mampu menentukan apa yang harus disimpan.

Kedua, meminta bantuan tak akan membuat kita tampak lemah. Jika memang tidak mampu dan perlu bantuan, mintalah.

Kita semua punya hal yang bisa kita lakukan dan hal yang tidak bisa kita lakukan. Karena itulah Tuhan menciptakan orang lain kan.

Ketiga, apa yang menurut kita baik belum tentu baik juga bagi orang lain. Seperti yang terjadi pada kasus ketiga.

Melakukan danshari atau memulai hidup minimalis, terlebih bila kita tinggal bersama orang lain memang perlu pendekatan berbeda dibandingkan jika kita tinggal sendiri. Kita perlu juga mempertimbangkan bagaimana kesiapan orang lain melakukan apa yang menurut kita baik.

Daripada 'memaksakan kehendak' kita, kenapa nggak mulai saja dari diri sendiri dan biarkan orang lain melihat perubahan positif dari diri kita?

Terakhir, dari ketiga kasus itu ada kesamaan kebiasaan yang membuat mereka menjadi penimbun, yaitu ketika mereka terlalu sentimentil dengan barang-barang mereka. Dibuang sayang istilahnya.

Mungkin karena barang tersebut adalah pemberian seseorang yang istimewa, atau memiliki kenangan.

Tidak salah memang, tetapi bukankah kenangan itu ada di dalam diri kita, bukan di dalam barang-barang itu? Menyimpan barang-barang yang memiliki nilai sentimentil hingga akhirnya kita sendiri lupa akan keberadaan barang tersebut, rasanya bukan sesuatu yang juga bijak dilakukan.

Membuang barang yang tidak kita perlukan akan membuat hidup kita jauh lebih sederhana. Namun, perlu diingat bahwa mudah dan sederhana adalah dua hal yang sangat berbeda.

6 comments

  1. Saya tertegun ketika membaca kalimat terakhir dan, sangat setuju dengan apa-apa yang Mas tulis! Luar biasa. Omong-omong, desain blognya bagus, bikin betah. Salam kenal, Mas. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benerrr bikin betah.,. Salah 1 tujuan saya klo blogging itu yg pertama mau lihat design blog orang ...hehe

      Delete
    2. Terima kasih apresiasinya, semoga isinya juga bermanfaat ya.

      Delete
  2. Menarik. Saya jadi pengen coba di rumah. Untuk beres-beres. Mensortir barang-barang di rumah dan menata tempatnya.

    Barusan tadi pagi ngalamin. Saya sampai repot. Lupa naruh masker dimana. Cari sana cari sini. Sampai emosi sendiri. Tahunya di lemari terselip di belakang lipatan pakaian.

    Saya setuju desain blog ini bagus. Kapan-kapan saya mau tiru. hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih apresiasinya, semoga bisa bermanfaat ya.

      Delete
  3. Ternyata metode beberes ala Jepang itu banyak versinya ya..saya baru kenal sama metode konmari aja hehe. Dan soal beberes rumah saya ngalamin kayak yang kasus ketiga. Terkadang saya juga suka bertengkar sama ibu gara2 saya buangin barang2 'timbunan' blio yg sebenernya ga penting hehe. Sungguh beberes itu adalah sebuah tantangan tersendiri. n its all about mindset

    ReplyDelete

Post a Comment

Pages

© 2019

Minimalist Web