2 Prinsip Utama Beres-Beres


Declutter alias beres-beres adalah sebuah kata yang paling muncul kalau bicara soal gaya hidup minimalisme. Mungkin cocok dibuat jadi kata kunci bagi narablog yang mengulas tentang hidup minimalis.

Di awal perkenalan dengan minimalisme, saya kira beres-beres itu artinya sebatas membuang benda-benda yang tidak diperlukan, maupun tidak memberi nilai tambah buat saya.

Alhasil, saya berusaha keras untuk membuang banyak hal yang menuh-menuhin tempat. Kadang kebablasan.
Akhirnya, dengan penuh cinta dan kasih sayang, istri saya mengultimatum kebiasaan saya membuang-buang yang tidak dipikirkan masak-masak ini.

Sebagai direktur keuangan, respon itu wajar mengingat dampak kegiatan 'beberes' saya ini membuat keuangan kami jadi nggak beres. Karena akhirnya saya perlu membeli barang baru gegara yang sebelumnya 'kebuang'.

Sempat berpikir juga, sepertinya kalau seperti ini, artinya hidup minimalis nggak cocok buat saya.

Kemudian saya ketemu dengan bukunya Marie Kondo yang terkenal itu, The Magic of Tidying Up. Di dalam buku itu, Marie Kondo menceritakan kesalahannya dalam berberes yang ia lakukan adalah berusaha membuang sebanyak mungkin.

Sayangnya kecepatan ia membuang barang tak sebanding dengan kecepatannya membawa masuk barang-barang baru. Sehingga membuatnya cukup frustasi dengan aktivitas berberes yang tampaknya never ending ini.

Lalu, ia menemukan bahwa kunci sukses berberes sebenarnya ada dua hal. Pertama menentukan barang apa yang hendak disimpan, dan kedua, di mana barang itu mau disimpan.

Bukan tentang membuang sebanyak mungkin.

Di situ pulalah letak kesalahan saya. Alih-alih menentukan apa yang mau saya simpan dan mau disimpan di mana, saya justru berfokus pada meminimalisir jumlah barang-barang saya. Padahal bukan itu intinya.

Hidup minimalis itu tidak berarti hidup tanpa barang sedikit pun. Bukan, bukan itu.
Walaupun ya, kita perlu membuang barang yang tidak kita butuhkan di dalam prosesnya.

Namun, membuang bukan tujuan akhir.

Bagaimana menurutmu?

7 comments

  1. Udaa lama banget penget menerapkan gaya hidup minimalis, yg cuman ada beberapa barang penting tanpa ada barang tambahan yg berlebihan seperti skrng ini. Biar hidup lebih terasa luas dan gak sumpek. wkwkw karena kadang kesumpekan timbul dr dr melihat barang" yg memenuhi ruangan, uda ditata sih tp jd keliatan penuh banget gtu :" anyway, makasih sharingnya 🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Didesain dulu aja bun, hidup minimalis yang dimau yang seperti apa. Bayangin seperti apa sih hidup minimalis versimu.

      Terus baru deh tengok kanan-kiri, apa-apa aja yang kudu stay, dan mana yang harus check out supaya hidup minimalis versimu bisa terealisasi.

      Dream big, start small.

      Delete
  2. Pengen juga sih barang dirumah itu tidak menggunung. Tapiii.. Kok ya tidak bisa 😌 beli ini itu lagii. Rumah yg tadinya sudah agak lega. Jadi penuh barang lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm...coba ngontrak deh. Jadi ngontraktor itu yang bikin saya dan istri ekstra hati-hati bawa masuk barang ke rumah.

      Ya kalo, next kontrakan ukurannya lega. Kalau ukurannya lebih 'kompetitif', mau ditaruh mana dong barang-barangnya.

      Delete
  3. Saya paling benci barang banyak, maunya simple, tapi pas mau pergi2 banyak baju buat mix and match *plak, banyak maunya hahahaha.

    Sepertinya memang begitu ya, bukan seberapa banyak kita membuang barang, tapi apa yang akan disimpan dan di mana.

    Kalau kami agak berlawanan nih, saya sering banget buang barang yang nggak kepakai, lalu diambil oleh pak suami ditumpuk di depan rumah sampai jadi sarang tikus, beteh hahahaha

    ReplyDelete
  4. sampe skr aku aja blm lulus mau praktekin ini mas. masalahnya aku dan suami tipe yg sangat beda. aku maunya simple dan membuang brg2 yg memang udh ga perlu, tp dia justru seneng nimbun. dengan alasan mungkin suatu saat butuh. sebel jadinya... krn rumah yg ga besar, jd nimbun .. aku cuma takut bakal jd sarang tikus. makanya diem2 ya aku buang jg brg2 yg ga prlu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gpp, selama doi tau mau disimpen di mana barang-barang just in case needed itu sembari nunggu saat barang tersebut actually needed.

      Pengalaman saya sama ortu sih, kurang lebih kaya gitu mbak. Nyimpen-nyimpen karena siapa tau tar butuh. Eh giliran butuh beneran malah beli baru.

      Walhasil, timbunan barang-barang pun kian menggunung.

      Delete

Post a Comment

Pages

© 2019

Minimalist Web