Kamu Aja Nggak Serius, Kok Minta Orang Lain Nyeriusin Kamu




Pernah nggak ketemu sama orang yang bawaannya itu serius mulu? Begitu seriusnya, sampai-sampai dari kejauhan sudah berasa awan gelap yang mengerikan menyelimutinya. Aura yang begitu dingin dan menyeramkan, seolah berada di dekatnya saja membuat kita lupa bagaimana apa itu bahagia.

Kira-kira, kalau kamu ketemu sama orang seperti itu, berani nggak guyonan, begejegan, clometan sama si doi? Waduh, kayanya enggak deh.

Tapi di sisi lain, ada juga orang yang berbeda 180 derajat dengan orang ini. Kalau yang pertama itu bawaannya serius mulu, yang ini mah jauh dari serius. Sukanya guyon, bercanda, ketawa-ketiwi tiada henti. Orang ini menyenangkan sekali digodain, digangguin, diisengin, bahkan dirundung sekali pun. Karena apapun yang kamu lakukan ke dia, dia akan menanggapinya dengan santai dan penuh canda.

Sayangnya, sekalipun menyenangkan bisa nggangguin orang seperti ini, tapi biasanya orang kaya gini susah banget diajak serius.

Akibatnya giliran dia butuh diseriusin, nggak ada orang yang percaya kalo dia lagi serius. Kalau ternyata kondisinya urgent gimana? Kan runyam tuh jadinya.

Ingat nggak dongeng tentang penggembala domba yang suka berbohong? Cerita anak-anak tentang seorang penggembala domba yang ngerjain warga bahwa domba-dombanya diserang serigala, padahal nggak. Akhirnya, pas ada serigala beneran, orang-orang udah nggak lagi percaya sama si penggembala itu. Dan, ya sudah, bye bye domba-domba gembalanya.

Mungkin itulah yang disebut oleh pakar di dunia pemasaran sebagai branding. Bagaimana kita membawa diri kita, tanpa kita sadari telah membangun brand image diri kita di mata orang lain. Dan, orang lain pun akhirnya bereaksi terhadap branding yang kita ‘bangun’ tersebut.
It starts from you

Jadi, kalau kamu termasuk orang yang sulit untuk mendapatkan respek dari orang lain, nggak ada yang nanggepin kamu dengan serius, mungkin sebelum kamu mulai menyalahkan dunia, ada baiknya kamu mencoba melihat ke dalam dirimu sendiri. Mungkin, kamulah penyebab dari semua perlakuan yang kamu terima.

Kalau kamu susah diseriusin, mungkin kamu yang kebanyakan guyon bahkan di tempat dan waktu yang salah. Pun demikian sebaliknya kalau nggak ada orang yang mau bercanda ria bersamamu. Bisa jadi mereka ngeri berada di dekatmu.


Paling sederhana sebenarnya adalah memahami konteks, situasi dan juga kondisi. Seperti kata pepatah, lain ladang lain belalang. Beda tempat, beda waktu, beda lingkungan, tentunya beda pendekatan. Kalau semua-semua main gebyak uyah dengan dalih, “Aku ya gini ini orangnya,” ya saya hanya bisa bilang, good luck with your life.

1 comment

  1. aku coba inget2 apa ada temenku yg begini yaaa. tp sampe capek ngingetinnya, ga nemu sih.. berarti msh pada normal orang2 disekelilingku :p. G prnh ada masalah ama org yg suka guyon. justru aku seneng temenan ama org begini. tp ya ituu, hrs tau japan wktnya guyon, kpn utk serius :D. kalo itu aja ga bisa bedain, yo wiiis, cari temen lain yg lbh cocok :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Pages

© 2019

Minimalist Web