Dibuang Sayang: Menangani Barang-Barang Sentimentil


Sebuah pertanyaan muncul di sebuah grup Facebook yang berisi orang-orang yang tengah maupun sedang mencoba menjalani hidup minimalis.

Bisakah saya menjadi minimalis dengan tetap menyimpan barang-barang sentimentil?

Bagi beberapa orang, termasuk saya, mengidentikkan minimalis atau hidup minimalis dengan memiliki barang sesedikit mungkin. Bahkan sebagian menganggap ada angka maksimal kepemilikan barang untuk menjadi minimalis.

Lebih dari itu, kamu sudah tidak minimalis lagi.

Well, ternyata hidup minimalis tidak harus semenderita itu. Lagi pula, siapa yang menjamin bahwa dengan memiliki sedikit barang, kamu akan menjadi lebih bahagia?

Menurut saya, esensi dari hidup minimalis bukan tentang berapa banyak barang yang boleh kamu miliki. Banyak/sedikit itu relatif. Tergantung kondisi dan kebutuhan masing-masing individu.

Bagaimana dengan barang-barang sentimentil? Bolehkah saya menyimpan barang-barang itu dan tetap menjadi minimalis?

Hey, jangan tanya saya. Itu kan hidupmu, kamu lah yang lebih tahu mana yang kamu perlukan dan tidak perlukan.

Kalau saya boleh berbagi pengalaman pribadi tentang hidup minimalis, terutama tentang menyimpan barang-barang sentimentil ini, apa yang saya lakukan adalah dengan meniru apa yang diajarkan Marie Kondo di bukunya, The Life Changing Magic of Tidying Up.

Caranya adalah:
  1. Membayangkan hidup yang saya ingin jalani.
  2. Menyimpan barang-barang yang sejalan dengan kehidupan ideal tersebut.
  3. 'Membuang' barang-barang yang tak sejalan dengan kehidupan ideal saya.

Untuk langkah pertama dan kedua, sepertinya tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Masalahnya adalah ketika masuk ke langkah ketiga, membuang barang.


Tidak semua orang dengan mudah membuang baju pemberian orang tersayang di hari yang istimewa, sekalipun baju tersebut sudah tidak pernah lagi dipakai. Entah karena kondisinya yang sudah tak layak pakai, atau ukurannya tak lagi sama seperti dulu.

Jadi gimana dong?

Untuk barang-barang 'terbuang' ini, apa yang saya lakukan adalah, masih dengan pendekatan yang diajarkan Marie Kondo di bukunya.

Pertama, sentuh barang itu dan coba rasakan, apakah masih ada getaran-getaran kebahagiaan seperti saat pertama memilikinya? Jujurlah kepada dirimu sendiri. 

Kedua, jika tak ada lagi getaran kebahagiaan yang kamu rasakan saat menyentuh barang tersebut, mungkin inilah waktu yang tepat untuk 'membuang' barang itu dari hidupmu.

Ketiga, ucapkan terima kasih yang tulus kepada barang-barang yang hendak kamu buang. Sampaikan betapa kamu berterima kasih karena baju, jam, sepatu atau apapun itu telah ada menemanimu selama ini, memberimu kehangatan, perlindungan dan kebahagiaan. Namun, kini adalah waktu untuk berpisah. Minta mereka untuk memberikan kehangatan dan kebahagiaan seperti yang pernah mereka berikan kepadamu, kepada tuan baru mereka (jika kamu memilih untuk menjual atau menyumbangkannya).

Saran saya, lakukan ketiganya sendiri. Kalau bisa jangan ada siapapun di situ. Anggaplah momen tersebut sebagai momen terakhir kebersamaan bersama barang-barang itu.

Selain untuk menjaga privasi dan suasana tetap kondusif, bagi sebagian orang bicara dengan barang bukan sesuatu yang lumrah. Daripada kamu dikira gila, mending kamu lakukan sendiri saja lah.

Sekali lagi, hidup minimalis bukan tentang sesedikit apa barang yang bisa kamu miliki, tapi bagaimana setiap barang yang kamu miliki memberi nilai tambah buatmu.

Hal yang sama berlaku untuk barang-barang sentimentil.

2 comments

  1. aku kayaknya tipe yg ga terlalu mau inget brg2 yg punya kenangan sentimentil :D. tapiiiiii ada 1 brg yg kungkin ga bakal pernah aku buang, walopun yg ngasih mantan misalnya.

    Buku. kalo brgnya berupa ini, ntah novel ato buku fav ku lainnya, mau yg ngasih mantan yg udh jd musuhpun, ttp bakal aku simpen, saking sayangnya ama BUKU :D. Tp kalo brg2 yg bukan berupa buku, maaaf... lgs msk tong sampah, ato aku ksh ke orang. Berupa perhiasan, aku jual laah wkwkwkkwwk. cuma buku thok yg bakal aku kenang :p

    pernah ada 1 mantan yg tau bgt hobiku ttg buku, jd selama msh pacaran ama dia, hadiahnya pasti novel semua. itu msh aku simpen sampe skr. :D

    ReplyDelete
  2. Saya termasuk orang yang nggak terlalu berat buat buang-buang barang yang memang tidak terlalu penting (kecuali yang berkesan banget), sedangkan suami saya berbeda banget. Di situlah terjadi bentrokan...haha. Dibilang mau mengenang juga nggak, tapi lebih ke cuek gitu deh kalau suamik...huhu

    ReplyDelete

Post a Comment

Pages

© 2019

Minimalist Web