Menjaga Privasi Tetap Di Ranah Pribadi


Keep your privacy private


Cuma itu poin yang mau saya sampaikan melalui tulisan kali ini.

Jadi, kalau ada yang lagi buru-buru kejar setoran blogwalking ke 50 blog hari ini, bisa meninggalkan komentar dari sepenggal kalimat tersebut.

Kalimat-kalimat berikut ini hanya kalau kamu lagi luang, cari bacaan buat sekedar killling time nunggu balesan chat di Whatsapp yang sudah tercentang biru, tapi entah kenapa sedari tadi hanya tampak tulisan "sedang mengetik...".

Hari ini saya diingatkan lagi tentang pentingnya menjaga informasi-informasi pribadi tetap rahasia.

Namun, saya mau cerita dulu tentang akun Facebook yang saya gunakan saat ini. Singkatnya, akun ini merupakan akun Facebook kedua saya.

Akun ini saya buat seiring dengan keputusan untuk mulai aktif di dunia blog. Pikir saya, menggunakan media sosial adalah salah satu cara efektif dan direkomendasikan oleh beberapa 'pakar' pemasaran online.

Awalnya, teman-teman saya di Facebook adalah sesama bloger (setidaknya saya kira demikian, karena mereka adalah anggota grup Facebook khusus bloger seperti Warung Blogger dan Blogger Crony). Jadi tak heran kalau lini masa saya isinya tak jauh-jauh dari pembahasan seputar literasi dan blog.

Sedikit banyak informasi-informasi yang mereka bagikan, jadi bahan belajar seputar kepenulisan gratis buat saya.

Karena teman-temannya sesama penggiat literasi, saya tak (terlalu) malu membagikan tulisan saya yang nggak terlalu ancur ini. Diketawain pun nggak jadi soal, kan saya nggak akan ketemu mereka selain lewat Facebook.

Setidaknya kalau malu, nggak kebawa mimpi lah.

Lalu, selang beberapa bulan saya cukup aktif berbagi tulisan dan menanggapi karya-karya teman baru saya ini, saya mulai coba sedikit demi sedikit memberanikan diri untuk memasukkan teman-teman saya dari akun Facebook sebelumnya ke akun yang baru ini.

Walaupun sempet ragu dan takut. Tar kalau diketawain gimana, tar kalau dimaki gimana, tar kalau dirundung gimana, jangan-jangan gini atau jangan-jangan gitu (ciri khas orang kebanyakan makan Jangan).

Akhirnya, saya mulai menambah satu demi satu teman-teman dari grup sebelah dengan segala resikonya. Ada yang kaget, ada yang biasa aja. Ada yang nanya "Kok gini," atau pertanyaan lain seputar akun baru ini.

Alhamdulillah, responnya nggak buruk-buruk amat.

Seiring berjalannya waktu saya mulai menambah teman baik yang saya kenal pribadi maupun tidak. Pun dengan menerima permintaan pertemanan dari siapa pun, kenal mau pun tidak.

Kok Nggak Diseleksi?

Sejak awal saya membuat akun ini, memang sudah niat untuk dijadikan akun publik.

Artinya, siapa pun bisa kepo-in isi akun ini. Mulai postingan-postingan di beranda, hingga tautan ke akun media sosial lain seperti Twitter atau Instagram. Sukur-sukur mau sambang ke blog biasa-biasa saya dan mendapatkan faedah darinya sekali pun tidak meninggalkan jejak sedikit pun.

Kenapa saya bisa se-pede ini? Simpel, saya tidak memposting apapun yang sifatnya pribadi seperti foto anak dan istri, nomor yang bisa dihubungi, alamat rumah maupun informasi lainnya.

Logika sederhananya, lah akunnya saja dibuat publik, masa isinya informasi pribadi dan rahasia?

Dulu, di akun pertama saya nggak banyak mikir tentang apa yang mau diposting. Cara berpikirnya masih sangat sederhana (atau lebih tepatnya, naif), ini kan Facebook-ku, terserah dong mau posting apapun.

Sampai akhirnya saya belajar through the hard way bahayanya mengumbar informasi pribadi di media sosial.

Kasus penyalahgunaan foto anak yang dulu sempat ramai sampai pertikaian yang dipicu oleh sebuah postingan atau komentar tak bertanggung jawab, membuat saya mikir-mikir dalam menggunakan media sosial.

Rasanya pemikiran 'Kan Facebook-ku, ya terserah aku dong!' tak lagi tampak sebagai sebuah pandangan yang bijaksana.

Lah wong posting yang baik-baik aja bisa dicaci, apalagi posting yang nggak ada baik-baiknya sama sekali, privasi lagi.

Karena itulah, saya mulai overprotektif pada akun-akun media sosial saya, termasuk akun Facebook lama saya. Saya cek dan sunting ulang informasi pribadi saya, termasuk pembatasan akses untuk melihat foto-foto lama di akun Facebook yang dulu.

Overprotektif saya bukan tanpa alasan. Sebatas ingin melindungi privasi keluarga kecil saya, istri dan anak, dari jamahan orang di luar sana yang saya tidak tahu baik atau jahat.

Perlu proses memang, secara pada dasarnya saya termasuk orang yang agak 'eksibionis'.

Namun, berhubung hidup saya bukan cuma tentang saya, tapi juga orang-orang di sekitar saya, maka membatasi akses untuk hal-hal pribadi merupakan opsi yang bijaksana walau tak mudah.

Ada kalanya, semakin sedikit yang orang tahu tentang kita...lebih baik.

Bagaimana denganmu? Apakah kamu punya opini tentang menjaga privasimu?

****

Oya sebelum kamu pergi, ada wallpaper buat ponsel pintarmu yang bisa kamu unduh di sini.

10 comments

  1. Saya baca ini langsung klik dari wa grup, dan lagi ga santai kok... sengaja baca, hahaha. Saya sempet kaya gitu mas. Semua foto anak suami si ig saya arsipkan. Klo pun ada foto anak ato suami gambar nya blur ato punggung doang. Facebook juga gitu. Karna kebanyakan share postingan fb master nya dari IG. Bahkan pp ig dan fb saya cuman gambar sepatu saya (sampai sekarang) bukan karna jaga privasi sih, karna ga ada foto yg bagus aja, wkwkwk. Tapi sejak saya mulai nulis lagi, saya sering nulis ttg true story saya sbg ibu dan ttg perkembanvan anak saya. Kadang saya selipkan foto anak saya yg lagi bikin karya ( bukan foto selfie) sbg sample anak lagi ngerjain karya nya sendiri. Jaga privasi udah seharusnya karna khawatir penyalahgunaan, tapi menurut saya konten status dan postingan juga harus di filter. Klo pegi ksini, makan kesana, lagi ini dan itu teruss selfie dan uplot, itu buat saya pribadi ngerasa udah kelewat batas ngeekspos ranah privasi. Gmn menurut mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau selfie & upload-nya karena tuntutan pekerjaan, ya nggak masalah. Tapi saya pribadi, nggak akan upload wajah anak or istri saya...secara milik pribadi, bukan untuk konsumsi publik hehehe.

      Delete
  2. Aku juga mulai untuk menjaga privasi. Mau sharing foto aja, kalo ada orang lain dan belum minta ijin orangnya, aku tempel mukanya pake stiker lucu2 wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga tapi kalo itu fotonya anak/istriku...kalo foto orang lain, hmm...belum sampe sejauh itu sih.

      Delete
  3. Sharing yang menarik. Saya cukup menjaga privasi dan karenanya saya pun memiliki 2 akun untuk IG, Twitter, dan FB.

    Teman kantor, teman gereja dan keluarga ada di sirkel yang sama yang di-setting private, dan di sana saya berbagi keseharian. Meski tetap nama sekolah anak sih nggak saya upload ya. Hehehe.

    Sementara teman dunia maya yang sering berbagi soal literasi berada di FB yang publik. Di akun publik, meski saya masih berbagi info tentang keluarga tapi sangat dikurasi.

    Selain faktor keamanan, saya merasa nyaman berbagi hal pribadi dengan orang-orang tertentu saja. I've done it since 2009 :D hehehe.

    ReplyDelete
  4. Kalau menurut saya menjaga privasi tidak ada hubungannya dengan blog sih. Jadi inget awal saya nulis blog, sama sekali tidak ada privasi yg saya tuliskan. Hanya opini tentang masalah kiwari saja. Dan sesuai dengan yang mas prima tulis, tulisan saya menjadi bahan bully selama sebulan. Dan itu lumrah, setidaknya mulai aja dulu baru perbaiki.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm...tergantung konten tulisannya sih. Sekiranya menyangkut hal pribadi, sebaiknya diolah sedemikian rupa supaya tidak mengumbar privasi ke ranah publik.

      Karena kita nggak akan pernah tahu siapa yang baca tulisan kita bukan.

      Ya pinter-pinternya, ngolah kata-kata aja sih.

      Delete

Post a Comment

© 2019

Minimalist Web