Rencana Olah Raga: Biar Sederhana Yang Penting Terlaksana


20 Oktober 2019 adalah tanggal terakhir saya mengunggah tulisan di blog ini. Artinya, sudah lebih dari 2 minggu absen menulis untuk MinimalistWeb.


Selain load pekerjaan yang mulai menggila jelang akhir tahun, saya juga melakukan beberapa eksperimen dalam blogging dan kesehatan pribadi.

Di dalam aktivitas blogging, saya lagi latihan untuk menjadi seorang daily blogger lewat platform blogging sederhana bernama write.as.

Ceritanya sih, terinspirasi dari Seth Godin yang nggak pernah absen nulis di blognya seths.blog. Dan, as predicted, menjaga konsistensi tetap menjadi momok terberat seorang narablog.

Di samping itu, saya juga lagi menyibukkan diri dengan aktivitas fisik...let just say, olahraga ringan-ringan lah. Selain agar badan tetap fit, juga karena, entah kenapa, celana saya berasa lebih sesak ketika dipakai. 

Awalnya saya kira, saya salah ambil celana. Namun, setelah saya lihat-lihat lagi, ya bener...itu celana saya. Apa mungkin saya melakukan kesalahan saat menyeterika? Karena saya dengar, kalau celana diseterika dalam kondisi basah, maka celana akan mengkeret.

Masalahnya, saya selalu memastikan kalau celana yang saya seterika selalu dalam keadaan kering. Lah wong nyeterikanya seminggu sekali tiap akhir pekan.

Jadi kemungkinan terburuknya adalah...saya yang tak sama lagi seperti dulu saat pertama meminang dan membawa pulang celana tersebut.

Di tengah kegalauan itu, tiba-tiba istri saya dengan santai (atau santuy biar kelihatan kekinian) berkata, "Papa gemukan ya?"

Degg!! 

Langsung saya bangkit dari kursi, berjalan ke arah istri saya dengan muka merah padam menahan murka. Saya lewati istri saya yang sedang duduk di kursi santainya, menuju ke detektor medan gravitasi yang tergeletak di ujung ruang keluarga.

Dengan hati-hati saya melangkah ke atas detektor tersebut, dan alangkah terkejutnya saya melihat jarum detektor menunjuk ke angka yang lebih besar 4 poin dari terakhir kali saya berdiri di atas alat itu.


Dan, terjawab sudah misteri di balik penyusutan ukuran celana favorit saya.

Dari situ, saya memutuskan untuk memulai lagi kebiasaan yang sudah lama tidak saya lakukan...olah raga.

Terakhir kali saya rutin berolahraga adalah di tahun 2016. Ketika itu saya bahkan ikut serta di lomba lari 5K dan berhasil menyelesaikan lomba dalam waktu +/- 30 menit.

Bukan yang tercepat memang.

Apa yang terjadi setelah perlombaan selesai? Selesai juga agenda rutin lari pagi saya.

Saat saya berpikir untuk mulai olah raga lagi, ada dua opsi yang terpikir. Opsi pertama adalah mulai lagi rutin lari pagi (walaupun nggak sampai 5 km). Opsi berikutnya adalah melakukan freeletics.


Buat kamu yang belum tahu, freeletics adalah sebuah metode olah raga dengan sistem high intensity interval training (HIIT). Sederhananya, sistem HIIT memangkas waktu yang diperlukan untuk membakar kalori dalam olah raga konvensional (seperti lari) dengan cara meningkatkan intensitas aktivitasnya.

Analoginya seperti jogging vs sprint

Logika sederhana saja, berapa kalori yang kira-kira terbakar lebih cepat lewat dua jenis olah raga tersebut? Sprint tentunya kan. Mana yang lebih ngeselin? Sprint lagi. 

Jadi, konsep HIIT adalah membakar kalori dengan waktu lebih singkat, dengan cara meningkatkan intensitas aktivitas training yang dilakukan.

Freeletics adalah salah satu olah raga yang mengusung prinsip ini.

Kalau kamu penasaran seperti apa Freeletics itu, kamu bisa unduh aplikasi Freeletics melalui Play Store.

Di aplikasi Freeletics ini kamu bisa menemukan dua jenis olah raga, paketan dan eceran. Untuk paketan, sudah jelas, ada beberapa gerakan yang digabung menjadi satu sirkuit yang harus kamu selesaikan (nggak peduli selama apa waktu yang kamu perlukan).

Ada juga gerakan-gerakan lepasan yang bisa kamu pilih.

Overall saya suka menggunakan aplikasi Freeletics ini. Namun, satu kekurangan aplikasi ini adalah ketidakmampuannya untuk mengkustomisasi beberapa gerakan menjadi satu paket training plan sendiri.

Akhirnya saya pun pindah ke Madbarz hingga sekarang.


Alasan saya memilih Madbarz adalah, saya bisa menggabung-gabungkan gerakan favorit saya dan mengkustomisasi mau berapa repetisi per gerakan dan berapa ronde.

Di custom workout buatan saya ini, ada 3 gerakan yang pilih lakukan, yaitu:
  1. Push Ups x 30 reps
  2. Dips x 30 reps
  3. Squat x 30 reps
Alasan saya memilih ketiganya adalah supaya sederhana saja. Karena kalau terlalu banyak gerakan, kuatirnya malah kebagusan tapi nggak bisa dijalankan. Bahasa kerennya sih too good to be true.

Rencananya, di setiap minggu saya mau mengembangkan custom workout ini dari sisi jumlah repetisi dan/atau jumlah rondenya. Sehingga intensitas latihan secara bertahap akan meningkat.

Patokannya adalah, bila saya tak lagi ngoyo menyelesaikan gerakan-gerakan di custom workout saya artinya sudah waktunya porsinya ditambah.

Tahu nggak, untuk 1 putaran olah raga ini (push ups-dips-squats), saya menghabiskan waktu kurang dari 5 menit.

Jadi, saya tidak bisa lagi berdalih tak ada waktu, saya sibuk padahal aslinya malas.

Saya rasa, kamu perlu mencoba juga berolah raga. Coba mulai dari yang sederhana, kamu suka dan kuat kerjakan. Jangan sampai belum-belum udah ogah mulai karena takut olah raga.

Jangan males ya.


Post a Comment

Pages

© 2019

Minimalist Web