Bukan Dia Yang Harus Berubah



We can't change people, but we can change the way we play the game.

Berhubungan dengan orang lain memang penuh warna, karena tiap orang punya sifat dan karakter masing-masing. Belum lagi value pribadi yang sangat beragam.

Ada kalanya ke-bhineka-an itu mengasyikkan dan menyenangkan. Walaupun, tak jarang bikin tensi melonjak tinggi.

Tapi ya begitulah manusia, deritanya tiada henti ceritanya selalu berwarna-warni.

Pengalaman Pribadi

Lain ladang, lain belalang. Begitulah ajaran yang disampaikan guru-guru Bahasa Indonesia semasa sekolah.

Kalau tempatnya beda, orang-orangnya pun berbeda, pun demikian dengan nilai dan budaya yang berlaku di tempat tersebut.

Salah satu tantangan ketika masuk ke dalam lingkungan baru seringkali terkait dengan penyesuaian diri.

Banyak saya lihat di lingkungan pekerjaan, orang-orang pandai dengan segudang pengalaman, berguguran bukan karena faktor teknis, tapi oleh faktor non-teknis seperti tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.

Umumnya mereka akan membandingkan kondisi di tempat baru mereka dibandingkan tempat lama yang berbeda mulai 27°, 45°, 90° hingga 180°. Dari suasananya hingga rekan kerjanya.

Saya pun mengalami benturan budaya alias culture lag saat pertama kali dimutasi ke departemen lain. 

Dari sisi pekerjaan beda sih udah jelas, tapi nilai dan budaya yang completely different ini juga sempat membuat saya kesulitan untuk menyesuaikan diri, setidaknya secara sosial.

Bullshit lah kalau ada yang bilang, jangan mencampuradukkan profesionalitas dengan hubungan personal. Karena nyatanya, relasi personal dengan rekan kerja juga turut andil dalam kesuksesan, minimal, menyelesaikan tugas-tugas kita.

Berada di sebuah lingkungan kerja selama 7 tahun, membentuk idealisme saya terhadap lingkungan kerja, etos kerja, dan nilai dalam bekerja. Akibatnya, saat berada di lingkungan yang benar-benar berbeda, idealisme saya berontak.

Dengan membawa pola pikir dari 'rumah lama', saya mengabaikan 'kearifan lokal' yang tak sejalan dengan nilai yang saya yakini. Saya pun mencoba 'merubah' lingkungan saya ke arah yang saya yakini sebagai sesuatu yang benar.

Alhasil, saya memaksakan pandangan saya dan bisa ditebak, tidak ada penerimaan rekan-rekan baru saya. Saya bahkan sempat bersitegang dengan salah seorang rekan kerja yang...nggak banget, dari kacamata tempat lama saya.

Mencoba Cara Lain


Semakin hari, hubungan sosial saya dengan rekan kerja tak kunjung membaik. Jurang pemisah di antara kami bahkan terasa kian lebar dari hari ke hari.

Hingga suatu hari, saya ingat nasehat salah satu atasan saya tentang merubah diri sendiri, seperti yang saya kutip di awal tulisan ini. Poinnya, kita nggak bisa merubah orang lain tetapi, kita bisa kok merubah pendekatan kita.

Masuk akal, karena sebagaimana kita tahu bahwa manusia adalah makhluk egois. Artinya, kita hanya akan merespon pada apa pun yang menguntungkan kita.

Saya mencoba introspeksi, dengan mempertanyakan cara saya mengkomunikasikan ide-ide atau pun pertanyaan-pertanyaan saya kepada mereka.

Tampaknya, di situlah letak permasalahannya.

Tak ingin pertikaian konyol ini berlangsung lebih lama, saya memutuskan untuk merubah cara main saya. Mulai dari sikap saya kepada rekan-rekan baru hingga cara saya menyampaikan ide atau saran perbaikan.

Hal pertama yang saya lakukan adalah, 'menerima' mereka sebagaimana adanya. Saya menyadari kalau mereka bukan orang yang sama dengan rekan kerja saya selama 7 tahun. Karenanya tidak adil menuntut mereka menjadi seperti rekan kerja saya yang dulu. Lagi pula, siapa saya nyuruh-nyuruh mereka berubah.

Dengan menerima bahwa mereka berbeda, saya mulai bisa mengenali seperti apa sih rekan-rekan baru saya ini, style mereka, hingga bagaimana 'cara main' yang pas dengan mereka.



Perlahan, hubungan saya dengan mereka mulai membaik, baik dari pekerjaan hingga personal.

Sekarang saya percaya kita bisa merubah orang lain dengan cara merubah diri kita terlebih dahulu, minimal...cara pandang kita tehadap mereka.

Pelajaran buat saya untuk berhenti mencoba merubah orang lain dan mulai merubah diri sendiri. Bagaimana menurutmu?


6 comments:

  1. Kalo ngadepin org yg kepala batu gmn ya mas... Apa kitanya jg hrs mengalah demi dia? Kegeeran dia nanti krn dibutuhin... Maunya sih sama" imbang gitu hi hi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Diperlakukan seperti batu aja mbak. Kalo bentuk batunya udah oke, ya tinggal dipasang sesuai kebutuhan.

      Kalo belum ok, ya dibentuk dulu. Bisa pakai palu atau drill.

      Maksudnya, kalau dia masih bisa dirubah ya dirubah. Kalau sulit ya pakai alat seperti bantuan orang lain yang lebih powerful dari dia.

      Kalau udah mentok nggak bisa dirubah, ya ubah aja situasinya. Karena seringkali orang berubah karena situasi dan kondisi maksa dia untuk berubah.

      But first, pahami dulu dia itu jenis batu yang seperti apa biar tepat penanganannya.

      Delete
  2. Betul banget mas, daripada memusingkan hal yang tidak bisa kita kontrol. Lebih baik kita memulai dengan apa yang bisa kita lakukan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, karena selalu ada hal yang bisa kita lakukan di tengah-tengah keterbatasan kita.

      Tinggal mau fokus ke mana. Yang bisa atau nggak bisa dilakukan.

      Delete
  3. Kalau dunia kerja memang gitu yak, ketemu orang yang nggak asyik sementara kita harus kerja sama dengan dia.
    Sungguh sebuah tragedi rasanya.
    Cuman ya paling aman itu, kitanya yang berubah, keliatan kita ngalah, tapi sebenarnya kita yang menang loh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenermya berubah itu nggak selalu harus ngalah sih mbak. Kebetulan aja di case saya, saya ambil 'bawah'nya dulu.

      Delete

Bagikan tanggapan, kritik maupun saran kamu tentang tulisan ini.

Jangan lupa klik subscribe sebelum pergi.