Tidak Seminimal Yang Kamu Kira


Saat memutuskan untuk menjalani atau tertarik dengan konsep hidup minimalis, kita akan mendapati banyak ironi di dalam gerak-gerik kita.

Minimalis kok punya mobil, kok menikah, kok punya anak, kok gini, kok gitu.

Mungkin karena menggunakan istilah 'minimal' itu kali ya, sehingga konotasinya identik dengan 'sedikit'. 

Kan minimal.

Sebenarnya seperti apa sih hidup minmalis itu? Benarkah menjadi minimalis tidak boleh punya ini dan itu, atau ada batasan angka yang diperbolehkan supaya masih masuk kategori minimalis?

Siapkan kuotamu untuk menyaksikan video tentang hidup minimalis berikut ini:


Sebenarnya, hidup minimalis itu bukan tentang berapa banyak barang yang boleh kamu punya atau simpan. Melainkan, kenapa kamu memutuskan untuk memiliki dan menyimpan barang-barang itu.

Apakah barang itu memang penting buatmu? Memberi nilai tambah? Atau...bikin kamu merasa bahagia?

Kalau iya, ya sudah...simpan saja.

Setiap orang punya versi hidup minimalis mereka masing-masing. Karena, tiap orang berbeda. Kondisinya nggak sama, value-nya beragam. Apa yang baik, bermanfaat dan penting, bisa jadi nggak segitunya juga buat orang lain. Ya nggak apa-apa.

Hidup minimalis itu bukan tentang hidup dengan sesedikit mungkin. Namun, hanya menyimpan benda/barang yang memiliki nilai untuk kita. Sesederhana itu kok.

Pada akhirnya, hidup minimalis itu nggak lebih dari sebuah cara untuk menjalani hidup secara maksimal dan penuh makna.

Hidup minimalis, jika dilakukan dengan bijak dan waras, akan membantu kita menciptakan ruang yang diperlukan untuk menjalani hidup dengan lebih optimal.

Analoginya seperti ini, jika di rumahmu ada sebuah patung burung hantu berdiri di tengah ruangan, maka untuk membersihkan ruangan tersebut bisa jadi langkah yang perlu kamu lakukan adalah:
  1. Menepikan patung
  2. Membersihkan ruangan
  3. Membersihkan patung
  4. Mengembalikan patung
  5. Merapikan alat bersih-bersih

Jika patung burung hantu itu tidak pernah ada, maka mungkin yang perlu kamu lakukan hanya:
  1. Membersihkan ruangan
  2. Merapikan alat bersih-bersih

Sisa tenaga dan waktu bisa kamu pakai untuk melakukan hal lainnya seperti melukis, menulis, membaca dan banyak lagi.

Bukan berarti kamu nggak boleh menyimpan patung burung hantu lho ya. Kalau kamu suka, bahagia dan mendapat faedah dengan menyimpan patung itu ya simpan saja.

Poin saya lebih pada, dengan memiliki sedikit barang, artinya sedikit pula 'biaya' yang harus kita keluarkan untuk 'merawat' barang-barang itu.

Tentunya, kamu juga perlu bijak memilih mana barang yang perlu disimpan dan mana yang tidak. 

Mulailah dengan membayangkan gaya hidup idealmu, apa saja yang kamu perlukan. Lalu, perhatikan barang-barang di sekitarmu. Apa saja yang 'memenuhi syarat' untuk tetap tinggal dan menjadi bagian dari gaya hidup idealmu? Kemudian, tentukan di mana kamu akan menyimpannya.

Sedangkan untuk barang-barang yang tak memenuhi syarat, ada 3 hal yang bisa kamu lakukan:
  1. Jual
  2. Sumbang
  3. Buang

Ini hidupmu, kamu yang tentukan seperti apa hidup yang mau kamu jalani.

6 comments

  1. ada ya konsep memiliki kehidupan seperti itu. ya bener sih ya, lebih tidak mubadzir. gak semua-muanya ingin dimiliki. serahkahnya bisa terpangkas.

    ReplyDelete
  2. Lebih tepatnya, hidup lebih ringkas dan ringan sih. Aku sudah merasakan manfaatnya untuk diriku sendiri. Gampang banget klo mobilitas tinggi.

    Btw aku salfok dengan pernyataan minimalis koo menikah. Single lebih minimalis drpd duo gitu ya wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe...pancingan biar tetep stay tune 😅😅😅

      Delete
  3. Konsep patung di buku minimalis karya Francine Jay memang bikin ngangguk-ngangguk. Jadi selama ini mikir banyak banget buang waktu untuk hal yang sama berulang-ulang, karena merawat barang yang mungkin tidak perlu 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertanyaannya, kenapa barang yang tidak diperlukan itu bisa ada di rumah kita, sampai sekarang pula hihihi...

      Delete

Post a Comment