Minimalist Blogging


Apa saja sih yang biasanya bloger perlukan sebelum mulai menyusun draf konten blognya?


Perlu materi tulisan pasti ya. Lalu, jangan lupakan alat tulisnya, baik digital (e.g. laptop, PC atau ponsel) maupun kovensional (e.g. pensil, bolpoin dan kertas). Eh, jangan lupakan juga kopinya biar tambah semangat. Hmm...kalau kebanyakan kopi, kasihan ginjalnya, jadi mesti siapin air putih juga dong ya. Udah semua, sekarang dah bisa mulai nulis dong.

Eh bentar, kok di luar hujan. Waduh harus mindahin jemuran dulu nih.

Waktunya balik dan mulai nulis...tapi, cek Instagram dulu ah, siapa tahu ada yang nge-like atau nge-follow. Sekalian cek Facebook dan jangan lupakan Twitter juga.

Baiklah, waktunya nulis. Eh tapi...nggak ada musiknya kah?

Gitu aja terus sampai tiba-tiba nggak terasa udah lewat dua kali Adzan.

Ruwet banget ya mau mulai nulis aja.

Ya begitulah gambaran proses menulis konten ala saya dulu. Dengan seabrek ini dan itu yang sebenarnya tidak membuat saya lebih produktif menghasilkan konten. Tapi, terus dilakukan. 

Aneh kan?

Lalu, saya ketemu dengan sebuah podcast tentang menulis dari The Minimalists.

Dari situ saya belajar bahwa, untuk mulai menulis, yang saya perlukan hanya:

  Duduk di kursi

Duduk di kursi dengan alat tulis yang sudah siap sedia dan...menulislah.

Sesederhana itu.

Menulislah terus sampai:
  - Otak buntu atau,
  - Waktu habis

Sedikit Penyesuaian

Berhubung aktivitas menulis lebih banyak saya lakukan lewat ponsel, maka saya bisa lebih fleksibel memilih tempat dan waktu untuk mulai menulis.

Belakangan, saya lebih banyak menulis di kamar ketika istri dan anak sudah pada tidur semua.

Hanya saya dan ponsel. Tanpa kopi, musik, kudapan maupun aksesoris lainnya. Ponsel pun saya aktifkan mode Pesawat untuk menghindari distraksi dari media sosial lewat notifikasi.

So far so good. Bagaimana denganmu?

10 comments

  1. Saya termasuk yang kalau lagi mood menulis bisa langsung menulis tanpa harus siap-siap dulu (apalagi sampai ke coffee shop dulu) hihi~ tapi saya juga termasuk orang yang kalau lagi malas bisa nggak menulis sampai berbulan-bulan :D

    Jadi bagi saya mood itu bukan di set up, tapi lebih ke bawaan perasaan hehehe. In the end, memang sebenarnya menulis itu mudah, seperti yang mas bilang, hanya butuh kursi saja (bahkan bisa sambil tiduran juga) :>

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih tepatnya menulis itu sederhana, karena yang sederhana tidak selalu mudah.

      Delete
  2. Tidak bisa dipungkiri, menulis itu butuh mood yang bagus.
    Saya kadang sedih kalau pak suami melarang saya menulis di waktu yang nggak tepat, seolah nulis itu kayak ngetikin skripsinya orang hahahaha.

    Padahal, bahkan suami nulis status facebook aja nggak ada ide katanya, lah saya nulis di blog di atur waktunya hahaha.

    Etdah jadi curcol.
    Tapi karena masalah tersebut, ditambah dengan deadline berbaur dengan kurangnya waktu, saya belajar untuk memaksa mood saya datang, di saat deadline nulis di depan mata, sementara waktu sedikit dan mood nggak ada.

    Akhirnya sedikit demi sedikit saya belajar menulis kapanpun, atau dengan kata lain, mendobrak mood biar bisa menulis tanpa alasan hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hebat ya bisa menguasai mood, padahal saya tau itu sulitnya minta ampun.

      Soal suami yang melarang mbak Re nulis, saya yakin beliau punya pertimbangan atau persepsinya sendiri.

      Ibarat berdebat antara gambar apa yang benar di koin 500 rupiah, bunga atau garuda. Keduanya sama-sama benar, hanya berbeda 'sudut pandang'.

      Saya yakin dirimu bisa temukan cara untuk menemukan jalan tengahnya.

      Keep up the good work ya mbak.

      Delete
  3. Oh saya salut dengan blogger yang mampu memanfaatkan gadget mobile spt ponsel.

    Karena setelah terbiasa saya sadar apa artinya menjadi konsisten dan gigih yakni memanfaatkan segala hal.

    Blog minimalis nya enak dibaca

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih apresiasinya.

      Konsisten itu memang sulit, ditambah unclear goal dan over-perfectionist kita, membuatnya tambah sulit.

      Delete
  4. Saya juga sering menulis di aplikasi Wordpress biar cepat dan mumpung ada ide. Ide kalau cuma dicatat, biasanya malas untuk dikesekusi. Kecuali artikel lomba yang butuh riset dan pemasangan foto/infografik, mau ga mau ya pakai laptop pas udah di rumah. Pokoknya menulis kapan saja, di mana saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nulis tiap hari, publishnya pas waktunya aja...bukan begitu mas?

      Delete
  5. Selain laptop, sahabat menulis aku adalah notepad di hp. Tapi kalau emang lagi buntu, nulis sebaris hapus - nulis sebaris hapus. Huft.

    Aku jadi mikir, ide nulis tuh ibarat ilham. Tau2 dateng sendiri. Karna kalo pas lagi ada ide, jemari ini ngetik ngebut banget sampe lupa napas (hehe lebay sih ini). Eh tau2 tulisan udah jadi aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...inspirasi itu memang kadang mirip hantu, datang dan pergi tak ada yang tahu.

      Eh tapi, sebelum di-publish, dicek dulu ya...jangan sampe ada salah ketik.

      Menulislah dengan hati, tapi publikasikan dengan hati-hati.

      Delete

Post a Comment