January 9, 2020

15 Hal Tentang Hidup Minimalis

Fumio Sasaki, di dalam bukunya Goodbye Things, membagikan 15 hal yang perlu kamu tahu dalam perjalananmu menuju hidup minimalis.

#1) Lebih Sedikit Barang Tak Akan Mengurangi Rasa Puas

Konsep kepemilikan memiliki arti bahwa sesorang tahu dan sadar terhadap apa yang mereka milki. 
Allen Ginsberg pernah menyatakan bahwa jika kita memberi perhatian 2 kali lebih banyak pada selembar karpet, itu sama artinya dengan memiliki 2 lembar karpet.

Artinya, jumlah kepemilikan tidak ada hubungannya dengan kadar kepuasan yang diperoleh sesorang.

#2) Tentukan Kekhasanmu Sendiri

Kita tidak perlu memiliki banyak baju untuk bisa hidup bersih dan nyaman. Ada nilai gaya tersendiri dari mengenakan pakaian yang sama dan berfungsi jadi semacam seragam pribadi.

Jika saya menyebut nama Steve Jobs, apakah kamu membayangkan ia mengenakan pakaian selain kaos turtleneck hitam, celana jeans dan sepatu New Balance?

Bagaimana dengan Bob Sadino?

Mode bisa jadi menyenangkan, tapi terus menerus mengejar tren secara berlebihan pada akhirnya akan menyusahkan diri kita sendiri.

#3) Menjadi Lebih Orisinal Tanpa Banyak Barang

Menjadi autentik tidak ada hubungannya dengan memiliki barang-barang unik yang tidak dimiliki orang lain.

Pengalaman membangun karakteristik diri kita, bukan benda. Menyingkirkan hal-hal yang ‘mengganggu’ bisa jadi pembuka jalan bagi kita untuk menemukan orisinalitas kita.

#4) Buanglah Barang-Barang Yang Sudah Kamu Pertimbangkan 5x

Tiap hari ada ribuan pikiran yang terlintas di benak manusia. Coba saja kamu hitung ada berapa pikiran yang bersliweran di kepalamu setiap jamnya.

Dalam hal membuang barang, jika kita belum membuangnya, bisa jadi kita sempat memikirkannya. Apabila pikiran itu sudah menghinggapi benakmu 5 kali, artinya kita sudah siap untuk berpisah dengan barang tersebut.

Namun jika kita tidak kunjung mengambil tindakan, lima pikiran itu akan berkembang menjadi seratus, serib dan seterusnya.

#5) Lewatkan Tahap “Sampai Ketemu”

Ada kalanya, kita belum yakin betul bahwa kita sudah siap untuk membuang benda-benda kepemilikan kita.

Ada satu teknik yang bisa kamu gunakan untuk mengatasi masalah ketidakyakinan ini. Caranya adalah dengan mengumpulkan barang-barang yang hendak dibuang ke dalam satu tempat (e.g. lemari, kardus dll.), setelah itu letakkan di tempat yang berbeda.

Kemudian, tunggu seminggu atau sebulan (tergantung jenis barangnya).

Apabila ketiadaan barang-barang tersebut tidak menciptakan kendala signifikan, bisa jadi sebenarnya kamu tidak memerlukan barang tersebut. 

Ini ibarat mengucapkan “sampai ketemu” kepada barang-barang kita.

Seiring waktu (dan terus digunakan) keterampilan ini menjadi sebuah kebiasaan, sehingga kamu bisa melewatkan tahap “sampai ketemu” ini dan langsung membuang barang-barang yang tidak diperlukan.

#6) Sedikit Ketidakbahagiaan Membuatmu Lebih Bahagia

Awalnya terpaksa, lama-lama bisa, akhirnya biasa. Di dalam bukunya, Fumio Sasaki menceritakan pengalamannya beralih dari penggunaan handuk tebal ke tenugui.

Memang awalnya tidak nyaman, tetapi lama-lama ia pun mampu menemukan kenyamanan dari menggunakan tenugui, dan tetap bahagia.

#7) Buanglah Meski Menyenangkan

Beranikan diri dan lepaskan barang-barang yang menimbulkan rasa senang, apa yang akan kita dapatkan sebagai gantinya sungguh luar biasa.

#8) Lebih Cepat, Lebih Baik

Sebagian besar barang-barang kita adalah barang berharga. Mulai suvenir, foto-foto bersejarah, buku yang sudah dibaca berkali-kali, hadiah dari orang yang penting bagi kita dan lainnya.

Upaya untuk mendapatkannya, harga yang harus kita bayar, atau kenangan di dalamnya, membuat nilai barang itu semakin tinggi di mata kita.

Namun, sadarkah kita kalau barang itu sebenarnya adalah benda biasa?

Jika suatu hari nanti kita ‘berpulang’, bagaimana nasib barang-barang itu. Sampai hatikah kita membebani orang-orang yang kita cintai untuk merawat barang-barang ‘peninggalan’ kita?

#9) Membuang Barang Hanya Mengurangi Kepemilikan, Bukan Siapa Kita

Membuang barang yang kita sukai memang rasanya menyakitkan. Namun, ingatlah kalau barang-barang itu bukan diri kita. Kedekatan kita dengan barang-barang tersebut hanya ada di pikiran kita.

#10) Pertanyakan Cara-Cara Pemanfaatan Barang

Bagaimana barang-barang yang ada digunakan selama ini? Adakah cara lain untuk menggunakannya?

Terinspirasi dari apa yang dilakukan oleh Marie Kondo, Fumio Sasaki mencoba menggantung spons cuci piring hingga kering. Dengan melakukan ini, ia tidak lagi memerlukan wadah spons.

Ada kalanya kita perlu ‘melanggar’ aturan tentang bagaimana cara menggunakan barang-barang yang kita miliki.

#11) Jangan Pikirkan, Buang!

Tanpa kita buang pun, sebenarnya ada kejadian-kejadian yang membuat kita berpisah dari barang seperti, tertinggal di taksi, dicuri orang, sampai lupa disimpan di mana.

Jadi, daripada terus berpikir “buang atau tidak” percayalah pada intuisimu.

Seperti yang dikatakan Bruce Lee dalam film Enter The Dragon, “Jangan pikirkan, rasakan!”

Mungkin dalam konteks minimalisme, kita bisa sesuaikan kata-katanya menjadi, “Jangan pikirkan, buang!”

#12) Minimalisme Bukan Perlombaan Untuk Mengurangi Barang

Seorang minimalist adalah ia yang mengetahui apa yang benar-benar penting untuknya, mengurangi barang agar ia bisa berfokus pada hal-hal yang esensial.

Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda tentang barang yang dianggap penting.

Tidak perlu melangkah terlalu ekstrim dengan membuang semuanya supaya bisa mengklaim diri kita adalah minimalist sejati.

Minimalisme adalah cara, bukan tujuan. 

#13) Keinginan Membuang Dan Memiliki Berada Di Satu Sisi Mata Uang Yang Sama

Saat otot ‘minimalis’ sudah terbentuk, seseorang akan dengan mudah terpeleset menjadi ‘tukang buang barang’, seolah-olah ini adalah sebuah pencapaian.

Mengetahui apa yang harus dibuang, dan kenapa harus dibuang jauh lebih penting ketimbang sekedar membuang.

#14) Tentukan Versi Minimalismu Sendiri

Kita semua berbeda, kondisi, situasi, masalah, hambatan yang kita alami tak sama. Jadi, berhentilah ‘meniru’ minimalist lain mentah-mentah.

Alih-alih, bereksperimenlah dan temukan versi minimalismu sendiri.

#15) Minimalisme Adalah Cara Dan Permulaan

Seperti sudah disampaikan sebelumnya, membuang barang tidak menjadikan seseorang sebagai minimalist. Karena seorang minimalist adalah ia yang tahu apa yang penting dan menyingkirkan yang menghalanginya kepada hal-hal, yang sebenarnya, penting.

Menjadi seorang minimalist adalah sebuah langkah awal untuk menjalani kehidupan yang lebih ringan, bersahaja dan penuh makna.

Kesimpulan

Tidak ada definisi pasti yang menjelaskan berapa banyak maupun jenis barang apa saja yang boleh dimiliki seorang minimalist.

Minimalisme bukan tentang berapa banyak barang yang kamu punya. Minimalisme hanya sebuah cara untuk mencapai tujuan. Satu hal yang pasti, tujuannya bukan mengurangi jumlah barang.

Share:

14 comments:

  1. Berasa ditabok ya kak, aku bangeet tuh, harus dicoba nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh...mohon maaf, ga bermaksud nabok :(

      Delete
  2. Saya baru punya bukunya konmari itu pun belum habis dibaca padahal udah lama beli ups. Sepertinya bagus juga buku goodbye things ini.

    Saya pun tertarik dengan hidup minimalis meski pada praktiknya masih nihil banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awalnya saya juga mau beli itu buku, tapi akhirnya melenceng ke Goodbye Things-nya Fumio Sasaki hehehe...

      Delete
  3. Thank you for sharing. Cocok banget ni tulisan buat yg suka nimbun2 club, jd mau share wkwk...

    ReplyDelete
  4. Tertarik nih aku untuk hidup minimalis, yah meskipun sepertinya tidak mudah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sederhana memang tidak selalu mudah mbak :)

      Delete
  5. Sebenarnya sudah dari dulu ku gak suka menimbun barang. Sumpek banget rasanya, apalagi rumah gak luas, rasanya pengen bongkar dan buang semua.
    Tapi apalah mamah ini sukanya masih nyimpen barang-barang anak, mikirnya, "entar bisa buat adik-adiknya. mayan gak usah beli lagi"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sama istri dulu mikirnya juga gitu, tapi sejak jadi kontraktor (ngontrak sana, ngontrak sini) dan ngalamin dapat rumah berukuran lebih kecil dari sebelumnya, bikin kita mikir dan mutusin kalau kita nggak bisa terus-terusan nyimpen barang seperti ini.

      Delete
  6. Hidup saya terbilang minimalis mas, karena saya sering di luar entah untuk biztrip atau hanya jalan-jalan, alhasil saya selalu berada dalam situasi hidup compact yang membuat saya sadar kalau saya sebenarnya nggak butuh banyak barang hehe. Alhasil sampai sekarang, rumah saya pun kosong melompong isinya nggak banyak :D

    Rasanya senang karena nggak punya terlalu banyak attachment pada barang-barang, dan apa yang saya punya memang yang saya butuhkan. Tapi basic dan standar minimalis setiap orang itu berbeda, karena kebutuhan juga berbeda-beda. Jadi tinggal dicocokkan dengan life style dan kebutuhannya saja :D

    By the way, good article mas. Keep writing~ :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Esensinya sih hanya hidup dengan barang2 yang memang dibutuhkan dan memiliki arti atau memberi nilai tambah.

      Tapi memang sih, situasi itu juga mempengaruhi pola pikir untuk mulai menjalani hidup minimalis.

      Misal saya nih yang notabene kontraktor (tinggal di rumah kontrakan), membayangkan biaya angkut selangit jadi mikir2 kalau mau punya banyak.

      Belum lagi, ya kalau next kontrakan ukurannya lebih lega, lah kalo lebih shrinked..kan jadi menderita hehehe.

      Delete
  7. Saya paling nggak suka ruangan yang penuh Mas, saya suka yang lapang.
    Bukan cuman ruangan, lemaripun demikian.
    Sayangnya ada satu kekurangan saya, nggak kuat ama barang khususnya baju yang 'cute' gitu, pasti dibeli.

    Dengan lemari masih bisa diselipin baju baru, dijamin saya bakal beli terus, makanya saya bertahan dengan lemari penuh, biar nggak beli baju yang nggak dibutuhkan dulu hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...ya kasihan lemarinya atuh mbak, kelempoken.

      Atau gini aja, next time mau nambah2 isi lemari, coba deh discuss sama si lemarinya. Doi masih muat nggak didhulang lagi. 😁

      Delete

Bagikan tanggapan, kritik maupun saran kamu tentang esai ini.

Kalau kamu suka dan mendapat manfaat dari konten-konten blog ini, silahkan subscribe.