Sayonara Instagram: Yey or Ney?

Menjadi bloger tentunya tak lepas dari penggunaan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Pinterest dan lainnya.




Karena, media sosial merupakan salah satu alat efektif untuk mempromosikan konten-konten blog kita. Bagaimana pun, ngeblog kan bukan sekedar nulis-publish-finish, lalu ujug-ujug pengunjung berdatangan dari segala penjuru dunia.

Bukan tidak mungkin, kalau kamu adalah seorang selebriti. Kalau kamu seperti saya, yang dikenal tetangga sebelah aja udah sukur banget, maka promosi konten menjadi komponen tak terpisahkan dari aktivitas ngeblog-mu.

Media Sosial Yang Saya Gunakan

Sejak ngeblog di akhir 2016 lalu, saya juga menggunakan media sosial untuk mempromosikan konten-konten blog saya.

Facebook, Twitter dan Instagram adalah jenis media sosial yang saya gunakan, ditambah Whatsapp Story yang saya pakai beberapa bulan belakangan.

Tak hanya melulu mempromosikan konten, ada kalanya saya juga membuat postingan tersendiri dengan tema yang sejalan dengan tema blog.

Untuk Instagram, saya bahkan membuat template postingan menggunakan Canva dan sengaja membuat tema untuk setiap postingan-postingan saya.

Namun, seiring dengan perubahan karir saya di pertengahan 2019 dan beberapa proyek keluarga di 2020, saya perlu mengatur skala prioritas di dalam aktivitas blogging saya. 

Proses Kreatif Yang Melelahkan

Semua bloger pasti sama-sama sepakat, betapa proses kreatif dalam pembuatan konten berkualitas itu menguras waktu, tenaga dan pikiran. Mulai riset, menyusun draf, proofreading, menambahkan gambar ilustrasi atau membuat infografis, hingga sentuhan akhir dan promosi.

Nggak mau dong asal posting konten yang membuat kita menjadi bloger unfaedah.

Nah dengan upaya yang segitunya dalam membuat konten berkualitas dan mempromosikannya, tampaknya ada proses yang perlu dikurangi.

Kenapa Instagram?

Iya, kenapa saya mempertimbangkan untuk menon-aktifkan Instagram ya? Kenapa bukan Facebook atau Twitter maupun Pinterest?

Kenapa Instagram? Pertama, postingannya harus berupa gambar. Kedua, karena saya mengakses Instagram lewat web, tanpa aplikasi, maka ada proses mengunduh postingan dan menyimpannya di ponsel sebelum bisa diposting…jadi, rutenya agak panjang.

Lain halnya dengan Facebook dan Twitter yang bisa langsung saya bagikannya langsung dari Canva. tanpa perlu mengunduhnya dulu. Jadi prosesnya lebih sederhana dibanding Instagram.


Kesimpulan

Buat saya blog adalah media penyaluran hobi dan berbagi cerita dan pemikiran tentang minimalisme dan hidup minimalis yang saya jalani. Just as simple as that.

Tentunya, saya masih perlu mempromosikan konten-konten di dalam blog saya, hanya saja saya ingin lebih selektif memilih media yang saya gunakan.

Tampaknya Instagram, merupakan media yang bukan jadi fokus utama saya untuk mempromosikan atau membuat konten. Jadi, kenapa perlu dipertahankan?

26 comments

  1. Yey deh kalao sayaa. ehehe bukan apa-apa , cuma karena saya emmang belum lama ini membuat akaun Ig nya jadi memang belum aktif bgt. Kebetulan saya pribadi kurang suka dng platformnya yg lebih mengutamakan foto.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agak riweh ya harus edit foto n pasang caption tiap kali mau posting.

      Delete
  2. Kalau aku media sosial cuma punya wa dan ig. Dua-duanya belum aku manfaatkan untuk promosi blog. Masih newbie dan masih pemalu. Hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Justru mumpung masih newbie itu harus sering promosi...soalnya kalo salah masih dimaklumin. Hehehe.

      Delete
  3. ku sudah menghapus instagram, karena untukku, sudah tidak ada urusan yang terlalu mendesak di instagram. tapi yaa tergantung orangnya lagi ya, sesuaikan dengan masing-masing pribadi saja..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul, kembali ke preferensi masing-masing. It's just Instagram.

      Delete
  4. owalah, aku malah fokus di instagram, karna menurutku masih asyik dan justru aku banyak tau hal lewat instagram. seperti aku banyak nemu akun2 menarik yang posting foto dan video lettering art, aku banyak belajar dari sana (karna aku hobi lettering art juga).

    malah justru, aku pasif di Facebook dan Twitter. Kalau dulu sih memang gencar main Facebook dan Twitter. Tapi belakangan aku gak nemu interest lagi di kedua platform tersebut. Tapi meskipun begitu, aku masih pakai keduanya untuk share postingan blog aku.

    ReplyDelete
  5. kalo saya lebih aktif di IG,
    twitter dan facebook udah jarang banget disentuh.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe...kembali ke preferensi pribadi ya mbak.

      Delete
  6. Saya cuma punya IG~ nggak main twitter / FB hehe. Tapi IG-pun bukan yang aktif setiap hari. Hihihi. Posting terakhir pun sepertinya sudah beberapa minggu yang lalu :D

    Agak susah kalau keep up semuanya, jadi prioritas saya masih di blog untuk sekarang :>

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan sebenernya nggak keep up pun ya nggak masalah2 banget toh ya.

      Our life, our choice.

      Delete
  7. masih pakai IG, tapi memang dikhususkan buat jualan, kalau ig pribadi ada tapi aku log out dr aplikasi.. he he he

    ReplyDelete
  8. NEYYYYY pake banget mah kalau saya! hahahaha
    Belom mau nutup Mas, lah saya mendulang rupiah juga dari IG.
    Lumayan banget buat nutupin kesepian job blog :D

    Jujur malah kadang fee job di IG itu lebih besar dari fee job blog, makanya lumayan banget.

    Cuman memang jujur, lebih rempong di IG, sekilas sih mudah, cuman posting foto doang, tapi prosesnya itu loh, ngambil foto itu take nya berkali-kali, apalagi kalau ada videonya, saya pernah 3 kali revisi video, dannnn saya hampir nyerah.

    Selain jobnya menggoda, saya masih butuh IG buat syarat job blog, sekarang mah pake job blog udah include ama postingan IG hiks.

    Btw, share di pinterest dulunya tuh bisa mendongkrak DA, tapi sekarang nggak lagi deh kayaknya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahha...kalau mbak rey, pasti dipakai lah sumber rejeki (eh kaya nama toko deket rumah).

      Lah saya 😅

      Delete
  9. it depent on your neccessity sih ya. Sampe skrg masih dipake IG kadang2, tapi buat ikut event aja. Ga seserius apa2 dishare di IG sih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Which is why, akhirnya diputuskan untuk ndak dipakai

      Delete
  10. Kalau cuma ngepost di feed bisa kok langsung di web pake chrome (kalau pake browser lain kurang tau sih). Buka instagram.com, klik kanan pilih 'inspect', pastikan toogle device toolbarnya warna biru (posisinya sebelah tulisan Element), trus Refresh pagenya (harus direfresh), udah deh :D. Kali2 aja mau dipraktekin kapan2 mas hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selama ini sudah seperti itu kok mbak, cuman memang berasa sudah nggak add values aja main IG.

      Delete
    2. Salut banget sama blogger yang bisa aktif ngeblog dan masih bisa ngurus sosmed juga, karena itu memang bukan pekerjaan mudah, bahkan sangat melelahkan...Sy masih pakai IG sampai sekarang, branding juga sih sebagai penulis buku yang baru jadi kepompong...hehe.

      Delete
  11. aku sendiri sih YAY, karena akun instagramku itu beberapa fitur terbarunya tdk ada, padahal sudah update ke versi terbaru. pingin menutupnya, tapi masih ada kontrak sponsored post, jadinya ya terpaksa masih aktif.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gpp...selama menghasilkan dan sejalan dengan personal valuenya mbak Anti.

      Delete
  12. Kalau menurut saya, benar dengan mundur dari instagram, yang penting ada satu social media yang kita kembangkan. Tidak perlu semua social media kita kembangkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kualitas di atas kuantitas ya mbak.

      Delete
  13. Pernah mencoba detoks dari Instagram selama setengah tahun. Hasilnya? Luar biasa. Saya memang jadi nggak se-update itu soal jalan-jalannya si A ke Bali atau malam minggunya si B bersama pacar yang (jujur) bikin iri. Tapi di sisi lain saya jadi punya banyak waktu luang yang bisa dialihfungsikan buat kegiatan-kegiatan yang lebih berfaedah sekaligus mengumpulkan kembali self-esteem saya yang mudah banget terkikis karena membandingkan diri sendiri dengan kebahagiaan orang lain :) Kalau Mas Prima sendiri, setelah uninstall Instagram apa ada perubahan positif yang dirasakan? Bagi dong pengalamannya (atau mungkin bisa dijadikan post terpisah yang lebih menyeluruh). Oh ya, salam kenal dari pembaca baru :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal mbak Ristra, terima kasih sudah meluangkan waktu mengunjungi web sederhana ini.

      Kalau saya pribadi, sejak awal menggunakan IG untuk share quote inspirasi. Cuma karena prosesnya panjang dan ruwet, dari bikin sampe publish, akhirnya mundur teratur. Dan hanya menggunakan media Twitter & Facebook.

      Sejak "pensiun" dari Instagram, yang jelas, hidup lebih simpel karena nggak terlalu nggethu ngecek udah berapa like atau comment yang saya terima.

      That's all sih.

      Terima kasih masukannya, mungkin saya akan pertimbangkan untuk membuat satu postingan tersendiri tentang life without Instagram.

      Delete

Post a Comment

Bagikan tanggapan, kritik maupun saran kamu tentang tulisan ini.

Jangan lupa klik subscribe sebelum pergi.