January 14, 2020

Sayonara Instagram: Yey or Ney?

Menjadi bloger tentunya tak lepas dari penggunaan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Pinterest dan lainnya.




Karena, media sosial merupakan salah satu alat efektif untuk mempromosikan konten-konten blog kita. Bagaimana pun, ngeblog kan bukan sekedar nulis-publish-finish, lalu ujug-ujug pengunjung berdatangan dari segala penjuru dunia.

Bukan tidak mungkin, kalau kamu adalah seorang selebriti. Kalau kamu seperti saya, yang dikenal tetangga sebelah aja udah sukur banget, maka promosi konten menjadi komponen tak terpisahkan dari aktivitas ngeblog-mu.

Media Sosial Yang Saya Gunakan

Sejak ngeblog di akhir 2016 lalu, saya juga menggunakan media sosial untuk mempromosikan konten-konten blog saya.

Facebook, Twitter dan Instagram adalah jenis media sosial yang saya gunakan, ditambah Whatsapp Story yang saya pakai beberapa bulan belakangan.

Tak hanya melulu mempromosikan konten, ada kalanya saya juga membuat postingan tersendiri dengan tema yang sejalan dengan tema blog.

Untuk Instagram, saya bahkan membuat template postingan menggunakan Canva dan sengaja membuat tema untuk setiap postingan-postingan saya.

Namun, seiring dengan perubahan karir saya di pertengahan 2019 dan beberapa proyek keluarga di 2020, saya perlu mengatur skala prioritas di dalam aktivitas blogging saya. 

Proses Kreatif Yang Melelahkan

Semua bloger pasti sama-sama sepakat, betapa proses kreatif dalam pembuatan konten berkualitas itu menguras waktu, tenaga dan pikiran. Mulai riset, menyusun draf, proofreading, menambahkan gambar ilustrasi atau membuat infografis, hingga sentuhan akhir dan promosi.

Nggak mau dong asal posting konten yang membuat kita menjadi bloger unfaedah.

Nah dengan upaya yang segitunya dalam membuat konten berkualitas dan mempromosikannya, tampaknya ada proses yang perlu dikurangi.

Kenapa Instagram?

Iya, kenapa saya mempertimbangkan untuk menon-aktifkan Instagram ya? Kenapa bukan Facebook atau Twitter maupun Pinterest?

Kenapa Instagram? Pertama, postingannya harus berupa gambar. Kedua, karena saya mengakses Instagram lewat web, tanpa aplikasi, maka ada proses mengunduh postingan dan menyimpannya di ponsel sebelum bisa diposting…jadi, rutenya agak panjang.

Lain halnya dengan Facebook dan Twitter yang bisa langsung saya bagikannya langsung dari Canva. tanpa perlu mengunduhnya dulu. Jadi prosesnya lebih sederhana dibanding Instagram.


Kesimpulan

Buat saya blog adalah media penyaluran hobi dan berbagi cerita dan pemikiran tentang minimalisme dan hidup minimalis yang saya jalani. Just as simple as that.

Tentunya, saya masih perlu mempromosikan konten-konten di dalam blog saya, hanya saja saya ingin lebih selektif memilih media yang saya gunakan.

Tampaknya Instagram, merupakan media yang bukan jadi fokus utama saya untuk mempromosikan atau membuat konten. Jadi, kenapa perlu dipertahankan?

Share: