Mengukur Kualitas Pribadi


Ikuti Resepnya & Gunakan Lidahmu - JW Sasongko


kualitas pribadi



Seperti halnya memasak, untuk menghasilkan masakan berkualitas, kita perlu resep. Apalagi jika kita belum pernah membuat makanan tersebut sebelumnya.

Resep membantu kita mengetahui bahan apa saja yang perlu kita siapkan dan bagaimana mengolahnya dengan baik. Namun, sekalipun kita sudah ikuti resep itu dengan patuh dan taat, apakah menjamin bahwa makanan tersebut bisa dimakan?

Yang biasa eksperimen di dapur tentu tahu gimana frustasinya dan depresinya masak capek-capek tapi rasanya nggak karu-karuan.

Padahal, sudah nurut resep lho.

Tahukah kamu kenapa bisa begitu? Karena, ada satu langkah di dalam setiap resep yang berbunyi, “tambahkan sesuai selera” atau “beri secukupnya”.

Menggunakan Analogi Memasak

Seperti halnya dengan memasak, tak jarang kita jumpai resep (teori) dan realitas berbeda 180 derajat. Resep, adalah gambaran ideal, seharusnya, semestinya, dan standar.

Menggunakan bahan-bahan, bumbu dan cara mengolah yang tertulis di dalam resep 100%, tidak menjamin kualitas hasil masakan kita.

Kok bisa?

Bahannya memang sama-sama menggunakan wortel, tetapi jika kualitas wortel di resep dan di dapur tidak sama, ya bagaimana bisa hasil masakannya sama. 

Ini adalah tantangan bagi si juru masak. Bagaimana ia mampu meracik, meramu dan mengolah bahan di dapur untuk menghasilkan masakan seperti yang ada di resep, menunjukkan kualitasnya sebagai seorang juru masak.

Parameternya sederhana, kepuasan para tamu yang menikmati masakan tersebut.

Siapa peduli apakah si juru masak mengikuti resep atau tidak, yang penting buat mereka adalah bisa menikmati makanan untuk mengatasi rasa lapar mereka.

Kesimpulan 

Konsep, standar, pedoman, resep merupakan gambaran kondisi ideal. Namun, kondisi lapangan jarang dan tampaknya...tidak pernah mungkin ideal.

Bagaimana kita mampu ‘menaklukkan’ kondisi tidak ideal dengan menghasilkan masakan berkualitas yang bisa dinikmati, menunjukkan kualitas kita sebenarnya.

Catatan Pribadi:

Idealnya, menulis itu dilakukan dengan kondisi yang tenang dan bebas gangguan. Nyatanya, saat menulis esai ini, saya harus bergelut dengan laron dan kecoa yang entah dari mana datangnya. 

Jadi kalau kamu lihat tulisan ini berantakan dan jauh dari sempurna, silahkan berikan tanggapanmu di kolom komentar.


Share:

8 comments:

  1. Saya banget nih yang paling bingung setiap kali nemu resep dengan tulisan 'taburkan secukupnya :)
    Soalnya kemampuan memasak saya itu minimalis sekali. Tapi yang penting 'edible' dan anak-anak mau memakan, pelanggan nomer satu sayaa.
    Jujur saya belum berani membagi hasil masakan saya dengan tetangga. ehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selama anak-anak suka kayanya itu yang terpenting deh hehehehe....

      Delete
  2. Saat ekspektasi dan realita ga sejalan, itu rasanya memang gemeeees yak :D. Tapi aku sendiri bakal berusaha supaya realita yg ada ga terlalu mengecewakan. Gunakan improvisasi, biar setidaknya ga mutung2 banget Ama hasil yg didapat :D.

    Makanya aku ga terlalu saklek Ama yg namanya aturan. Aturan, prosedur, itu ttp perlu, tapi kdg kalo situasinya ga cocok, ya perlu lbh fleksibel :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget mban Fanny, membuat rencana itu ibarat peta biar nggak kesasar...walaupun tetap aja bisa kesasar gegara petanya ga update sama aktualnya.

      Harus bisa gercep buat improvisasi.

      Delete
  3. Hahahaha, makanya saya kalau masak malas liat resep, bahkan bikin kue sekalipun.
    Saya lebih suka sesuai insting aja.
    Nggak heran, masakan saya kadang enak, tapi lebih seringnya rasanya aneh hahaha

    Saya nggak tahu kalau masakan biasa sih, tapi kalau bikin kue, bahkan takaran resepnya sama, hasilnya bisa beda loh :D

    Oh ya, ngomong-ngomong, saya jadi ingat mengapa orang idealis jarang jadi pemimpin, soalnya terlalu saklek.
    Saya dulu punya bos cewek, beliau pinter banget, disiplin, tapi saklek, akhirnya sulit bisa memimpin dengan baik :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Idealis itu perlu biar nggak nggladrah ke mana-mana, tapi eksekusinya juga perlu realistis.

      Delete
  4. Waduuuh saya paling nggak bisa kalau masak pakai resep tambahkan sesuai selera, karena jadi keasinan biasanya hahahaha~ entah karena rasa percaya diri yang kurang, atau merasa hambar terus-terusan :D

    Ya begitu juga hidup kali yaaa, kalau ditambahkan sesuai selera akan jadi indah apabila pas. Nah giliran nggak pas pasti berantakan. That's why setiap dari hidup butuh batasan dan takaran :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, harus dipageri...tapi pager pun juga jangan digembok terus2an ☺

      Delete

Bagikan tanggapan, kritik maupun saran kamu tentang esai ini.

Kalau kamu suka dan mendapat manfaat dari konten-konten blog ini, silahkan subscribe.