Tentang Merasa Cukup


Koentji bahagia adalah mensyukuri dan merasa cukup dengan yang kita miliki. Sederhana memang, walau kenyataannya tak semudah itu. Lagi pula, siapa bilang sederhana itu mudah? 

merasa cukup


Kisah Seorang Tukang Batu

Alkisah, ada seorang tukang batu yang kesehariannya adalah mengumpulkan bongkahan-bongkahan batu dari pegunungan. Setiap hari, tukang batu ini mendaki gunung dan memukulkan martilnya ke gunung yang ia daki dan mengumpulkan bongkahan-bongkahan batu untuk ia jual.

Teriknya sinar matahari sudah jadi santapannya sehari-hari, tetapi agaknya hari itu rasanya matahari memancarkan panas yang lebih dari biasanya.

Di tengah kelelahan mengumpulkan bongkahan-bongkahan batu, dalam hati ia bergumam, “Panas sekali hari ini, dasar matahari sialan!”

Tak kuasa menahan panas, tukang batu ini memutuskan untuk istirahat sejenak di bawah sebuah pohon yang rindang. Angin sepoi-sepoi mengelus tubuhnya dengan lembut, memanjakan dirinya dengan kesejukan surgawi. Tak berapa lama ia pun tertidur dengan pulas di bawah pohon besar yang melindunginya dari terpaan panas matahari.

Di dalam tidurnya yang pulas bak bayi, ia bermimpi bertemu dengan seorang kakek tua. Kakek itu tersenyum lalu mendekati si tukang batu. “Kamu adalah pemuda yang baik, hari ini aku berikan kepadamu tiga buah permintaan,” kata kakek tua itu sambil tersenyum. “Pejamkan matamu dan teriakkan apa keinginanmu, maka kau akan mendapatkan apa yang kamu minta,” lanjut sang kakek.

Tukang batu itu tersenyum dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada sang kakek yang beranjak menjauh. Si tukang batu melompat kegirangan sampai terpeleset dan terjatuh dengan keras hingga ia pun terbangun dari mimpinya.

“Ah, ternyata hanya mimpi di siang bolong,” gumam si tukang batu. “Sebaiknya aku segera menyelesaikan pekerjaanku dan bergegas pulang, sebelum larut malam,” katanya dalam hati.

Terik matahari kembali menyambut kedatangan si tukang batu yang melangkah menjauhi pohon tempatnya tidur siang barusan. Tak kuasa menahan panas, si tukang batu berpikir bagaimana rasanya jika ia menjadi matahari. Sepertinya menjadi matahari sangat menyenangkan, begitu gagah dan perkasa. 

Lalu ia pun memejamkan matanya seraya berteriak, “Aku ingin jadi matahari!”

Tiba-tiba si tukang batu merasakan kepalanya seperti berputar-putar dengan hebat sampai ia terjatuh karena tak mampu menahan guncangannya.

Saat membuka matanya, betapa terkejutnya ia saat menemukan di depan matanya terbentang pemandangan yang belum pernah ia lihat. Seolah-olah ia sedang terbang di angkasa. 

“Tunggu dulu, aku terbang…” 

Si tukang batu itu melihat dirinya dan bukan main, ia kini menjadi matahari seperti keinginannya. Tubuhnya memancarkan cahaya  yang begitu terang dan panas yang tak tertahankan. Ia merasa bangga dengan dirinya. Ia memancarkan panas ke seluruh makhluk di permukaan bumi. 

“Rasakan kalian, sekarang kalian tahu bagaimana rasanya menjadi diriku!” 

Tak lama kemudian, datanglah awan hitam mendekat. Tak butuh waktu lama, awan itu menutupi matahari dari memancarkan sinarnya. Tukang batu yang merasa terkalahkan oleh awan mendung itu tanpa pikir panjang segera memejamkan matanya seraya berteriak, “Aku mau jadi awan!”

Kembali, tukang batu itu merasa kepalanya berputar-putar dan tak berapa lama kemudian, ia pun berubah menjadi awan.

Setelah menjadi awan, ia merasa sangat bangga dan besar kepala. Ia mengelilingi seluruh bumi dan menumpahkan hujan yang begitu deras sampai membanjiri beberapa bagian permukaan bumi. Melihat manusia dan hewan tenggelam dalam banjir yang ia buat. Tanah longsor akibat hujan deras yang ia ciptakan.

Hingga akhirnya, ia bertemu dengan sebuah gunung besar. Melihat gunung yang berdiri dengan angkuhnya itu, mengingatkannya akan gunung yang selama ini ia daki sebagai tukang batu. 

“Hmm…sekarang saatnya membalas dendam, akan aku buat longsor gunung yang sombong ini,” gumam si tukang batu yang sekarang sudah menjadi awan. Dengan penuh emosi, ia serang gunung itu dengan hujan badai, berharap gunung tersebut akan longsor. Namun, sekeras apa pun ia mencoba, gunung itu tetap tegar berdiri.

Merasa terkalahkan, ia berpikir untuk menjadi gunung  yang kuat dan perkasa. Terik matahari dan hujan deras tak kuasa menundukkan keperkasaan sang gunung. Lalu, tanpa berpikir panjang, kembali ia pejamkan matanya dan berteriak, “Aku mau jadi gunung!”

Dan, ia pun berubah menjadi gunung.

Betapa bangganya, kini ia lah makhluk paling kuat di muka bumi. Tak ada satu pun kekuatan yang mampu menggoyahkan dirinya. Sampai suatu ketika, di suatu pagi datanglah seorang anak manusia membawa martil dan paku. Manusia itu adalah tukang batu, sama sepertinya dahulu.

Manusia itu mendaki gunung dan tak lama kemudian, ia mulai bekerja. Dengan martilnya ia menghajar gunung itu menjadi bongkahan-bongkahan batu kecil.

Si tukang batu yang kini menjadi gunung mengaduh kesakitan setiap kali martil manusia itu menghajar tubuhnya. Dan, ia baru menyadari bahwa menjadi manusia ternyata adalah yang terbaik. Namun, semua sudah terlambat…ia sudah menghabiskan jatah permintaannya. Kini ia hanya bisa merenungi nasibnya yang berakhir menjadi sebuah gunung.

Sebuah Refleksi

merasa-cukup
The Muslim Show
Seperti si tukang batu, kadang kita kerap membandingkan kesulitan yang kita alami dengan kebahagiaan yang dimiliki orang lain.

Karena kesibukan membanding-bandingkan hal yang tak sebanding ini, kita jadi lupa bahwa sesungguhnya kita sudah punya banyak, kadang lebih dari yang kita perlukan.

Namun, agaknya sulit sekali untuk merasa cukup dengan semua itu.

Padahal kalau kita mau berpikir jernih, kita saja bisa iri dengan kehidupan orang lain…bukankah tidak menutup kemungkinan, ada orang lain yang juga iri dengan kehidupan yang kita sia-siakan ini?

Share:

24 comments:

  1. Betul kang, kita selalu melihat rumput hijau pada tetangga sebelah, sehingga lupa bersyukur atas apa yang kita punya.

    Makasih banyak, cerita tukang batu nya menginspirasi.👍

    ReplyDelete
  2. Yaampun, Mas. Aku jadi tersadarkan, ternyata aku ini termasuk orang yang kurang bersyukur. Yang masih suka membandingkan-bandingkan kekuranganku dengan kebahagiaan yang diposting orang-orang di media sosial. :'(

    ReplyDelete
  3. Alhamdulilah. Semenjak saya menggunakan motto "Compete With My Self" justru saya sering membandingkan diri sendiri.

    Dengan begitu saya bisa memperbaiki kekurangan terdahulu untuk menjadi lebih baik. Dulu tuh hidup saya rasanya julid banget sama orang lain. Untung diberi kesadaran sekarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya itu lebih sehat ya mbak, karena apple to apple...membandingkan 2 hal yang memang sebanding, diri yang dulu vs diri sekarang.

      Delete
  4. Masya Allah, benar sekali. Cerita yang sangat inspiratif. Selama ini kita membandingkan hal yang tidak sebanding. Jadi, nggak akan pernah ketemu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih tanggapannya mbak...semoga bermanfaat 😊

      Delete
  5. sukak banget sama kisah tukang batu. sangat menginspirasi dan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih apresiasinya....buat self reminder juga.

      Delete
  6. Bersyukur adalah salah satu cara yg sangat baik untuk menikmati segala pemberianNya. Hehe..

    Sangat menginspirasi, makasih mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih apresiasinya, semoga bermanfaat.

      Delete
  7. Saya pernah membaca kisah yang mirip dari dongeng Jepang. Ya intinya hidup bakal enak kalau kita bisa bersyukur. Kapan cukup itu datang? Ya saat kita memilih bahwa kita memang sudah cukup. Tidak perlu ditunggu. Saya jadi teringat pesan seorang kawan bahwa kehidupan yang kita keluhkan boleh jadi adalah kehidupan yang orang lain idamkan. Jadi tak perlu mengiri. Semua punya medan perjuangan dan kenikmatan sendiri. Selamat berakhir pekan! Selamat bersyukur!

    ReplyDelete


  8. Terkadang apa yang kita lihat indah itu belum sesuai yaa mas.

    Namun hal yang kita lihat buruk juga belum tentu buruk kenyataannya.

    Meski terkadang dalam kehidupan nyata banyak juga orang menilai sesuatu dari luarnya saja.

    Dan Inpirasi diatas mungkin bisa kita jadikan pedoman terutama saya pribadi.😄😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini untuk self-reminder saya juga mas. Moga-moga ada faedahnya ya.

      Delete
  9. Sangat menginspirasi. Tak akan pernah ada kata cukup jika kita terlalu sibuk membandingkan bandingkan hidup kita dengan hidup orang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yups, karena kita cenderung membandingkan hal-hal yang sudah jelas nggak sebanding tapi dipaksain untuk terus dibandingin.

      Nyiksa diri sendiri ini mah 😎

      Delete
  10. Kita harus selalu mensyukuri apa yang kita dapatkan ya Mas. Memang mudah diucapkan dan sulit dilakukan, namun harus diusahakan, kalau perlu dipaksakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sederhana memang nggak sama dengan mudah.

      Delete
  11. Sederhana itu rumah makan padang Mas, enak :P
    Begitulah tabiat manusia, tidak akan pernah merasa puas dengan yang dimilikinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mostly memang seperti itu karena terbiasa. Jadi kenapa nggak dirubah saja kebiasaannya?

      Delete
  12. Iya bener pak. Saking seringnya melihat sesuatu di luar kita. Membuat kita lupa mensyukuri banyak hal yang kita miliki 🙂. Tulisan yg bagus pak. Makasih tulisannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih apresiasinya Bun...semoga bisa bermanfaat ya.

      Delete

Bagikan tanggapan, kritik maupun saran kamu tentang esai ini.

Kalau kamu suka dan mendapat manfaat dari konten-konten blog ini, silahkan subscribe.