Jangan Sibuk Tanya Gimana Caranya Tapi...

Punya banyak ide, aspirasi dan target kalau nggak dilakukan ya nggak akan jadi apa-apa. Masalahnya, sudahkah kita menanyakan pertanyaan yang tepat saat hendak memulai sesuatu, apa pun itu? 

Klik pada judul untuk mulai membaca dan diskusi bersama di kolom komentar.

Jika kamu suka dan mendapat manfaat dari setiap tulisan dalam situs ini, silakan subscribe agar kamu menerima update tulisan-tulisan terbaru setiap minggunya.

Happy reading! 
pertanyaan kunci

Tahun ini ada nggak hal baru yang mau kamu mulai? Mulai menulis buku misalnya, atau mulai olah raga supaya asupan-asupan yang masuk ke dalam tubuh terpakai sebagaimana mestinya, dan tidak hanya diam menumpuk di satu tempat yang itu-itu melulu.

Atau, kamu mau mulai menjalani hidup minimalis biar rumahmu nggak kesumpekan sama barang-barang yang nggak pernah kamu pakai sejak kamu beli 2 tahun lalu? 

Biasanya, apa sih hal pertama yang kamu tanyakan ke dirimu waktu hendak memulai rencana-rencanamu itu?

Gimana ya caranya?

Apakah kamu menanyakan hal ini juga, seperti saya? Kalau iya, ternyata kamu dan saya mengajukan pertanyaan yang salah.

Masalah Yang Timbul Akibat Salah Bertanya

Ada dua masalah utama yang sering saya alami saat hendak memulai sesuatu. 

Masalah pertama, terjadi ketika saya tidak terlalu banyak mikir saat memulai. Istilahnya hajar bleh. Mulai aja dulu.

Karena mulainya impulsif, nggak dipikir matang, akhirnya alih-alih menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan berguna, yang ada malah bikin hidup makin ruwet.

Misalnya, tahun ini saya lagi tertarik nih untuk mulai journaling menggunakan teknik bullet journal. Karena ‘sepertinya’ seru tuh, mulai lah saya browsing-browsing gimana caranya melakukan bullet journal.

Dari kanal Youtube hingga blog saya jabanin supaya saya tahu, bagaimana melakukan bullet journal dengan benar.

Guess what, alih-alih produktivitas saya meningkat (seperti yang dijanjikan di video dan artikel tutorial itu), nyatanya saya malah makin ruwet bin njelimet.

Sibuk memilah-milih ‘media yang tepat’ untuk melakukan bullet journalling, ngutak-ngatik kontennya, sampai menghiasnya hingga tampak menarik.

Padahal, that’s not the point dari melakukan bullet journaling.

Masalah kedua, adalah ketika saya terlalu dalam memikirkannya sehingga tanpa terasa waktu berlalu dan saya belum juga memulai.

Hmm…dari dua masalah ini, mana yang relate sama kamu?

Jadi Tanya Apa Dong?

Pengalaman memulai bullet journaling bermasalah ini hanyalah satu dari sekian banyak masalah yang saya alami dari memulai sesuatu.

Dan kalau dipikir-pikir, semua masalah yang saya alami ini memiliki satu persamaan. Saya memulai dengan menanyakan hal yang salah, yaitu bagaimana caranya.

Karena saya sibuk mencari tahu caranya, saya lupa 2 hal penting yang harusnya saya tanyakan di awal, jauh sebelum saya mulai melangkah:
  1. Kenapa saya mau memulai ini; dan
  2. Kapan saya harus mulai

Pertanyaan #1: Kenapa Saya Mau Memulai?

Menurutmu, kenapa pertanyaan ini penting untuk dijawab di awal? 

Berdasarkan pengalaman pribadi, dengan mengetahui kenapa kita mau repot-repot memulai sesuatu, kita bisa lebih efektif dan efisien dalam bekerja. 

Selain itu, memiliki alasan yang tepat akan memberikan tenaga untuk tetap bertahan ketika menghadapi tantangan, kesulitan dan hambatan. Lagian let’s face it, problem is something we can’t live without.

Tahu kenapa kita melakukan apa yang kita lakukan, bisa membantu kita untuk memutuskan apakah kita perlu lanjut atau cukup. Bahkan, ada kalanya kita sebenarnya nggak perlu melakukan itu sedari awal.

Itu kalau, kita tahu kenapa kita perlu memulai.

Pertanyaan #2 : Kapan Saya Harus Memulai?

Sepertinya ini sudah jadi masalah umum orang-orang perfeksionis ya. Segitunya ingin semua serba sempurna dan ideal yang berujung pada ndak mulai-mulai.

Zig Ziglar, salah satu pembicara dan praktisi di dunia penjualan pernah berkata:

Jika Anda menunggu semua lampu jalan menyala hijau, Anda tidak akan pernah meninggalkan garasi rumah.

Logikanya gini, anggaplah kita lagi mau liburan bersama keluarga. Semua persiapan sudah selesai dilakukan, baju, bekal dan segala tetek bengeknya sudah masuk ke dalam mobil, dan kita siap berangkat.

Lalu si ayah (yang di dalam ilustrasi ini berperan sebagai pak supir yang bekerja mengendarai mobil supaya benar jalannya) masuk mobil dan berkata, ”Okay, sekarang kita tunggu semua lampu jalan berwarna hijau baru kita berangkat ya.”

Menurutmu, kapan mereka akan berangkat? Mungkin minggu depan, kalau nggak ya bulan depan, atau tahun depan….eh, bisa-bisa, auk deh.

Seperti halnya pertanyaan pertama, kalau kamu sukses menjawab pertanyaan ini kamu akan lebih fokus mengerjakan yang harusnya kamu kerjakan, alih-alih mbulet dengan ini-itu yang sebenarnya nggak esensial.

Membuat perencanaan matang bukan berarti rencana yang kamu buat itu sempurna dan tanpa cela. Kamu hanya perlu membuat rencana yang cukup baik dan menyisakan ruang untuk improvisasi.

Tanya Gimana
#1MINGGU1CERITA

Kesimpulan

Jadi, alih-alih menanyakan “bagaimana caranya” sebaiknya kita ajukan 2 pertanyaan sederhana ini: kenapa dan kapan sebaiknya kita mulai. Bagaimana caranya itu nanti, menyesuaikan dengan jawaban kita atas 2 pertanyaan itu.

Tapi hei, itu menurut saya lho. 

Bagaimana denganmu? Apa yang jadi pertimbangan kamu sebelum memulai sesuatu? Pertanyaan-pertanyaan apa yang perlu kamu jawab sebelum mulai melangkah?

Yuk, share & discuss.

8 comments

  1. Hahaha kalau saya kayaknya hanya menanyakan hal itu untuk basa basi deh, soalnya saya bukan tipe orang yang mudah percayaan.

    Saya lebih suka langsung dicoba, langsung praktek, lalu evaluasi sendiri.

    Dan memang benar tuh Mas, kebanyakan orang nanya "gimana caranya?"
    Udahlah dijawab panjang lebar, eh cuman ngangguk-ngangguk doang, nggak dipraktikin.

    Itu banyak terjadi pada pertanyaan,
    "Bagaimana caranya ngeblog?"
    "Bagaimana caranya dapat duit melalui blog?"
    Dan semacamnya, tapi tidak praktik hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya orang yang kaya gini itu, jenis orang yang mudah 'tersilaukan' dengan sesuatu yang dikerjain/dimiliki orang lain.

      Keliatannya enak, senang, bahagia...pengen lah tau gimana caranya.

      Tapi, giliran dikasih tau, ngeyel, ndebat, mbantah, nyinyir.

      Lah ini mau nanya apa usul? 😃

      Delete
  2. Langsung intropeksi diri nih hehe... iya juga ya kebanyakan nyari tau eh malah gak mulai2.

    Akhirnya cuma jadi good planner but bad executor haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. You're not alone mbak. Yang nulis ini juga serupa tapi tak beda kok.

      😁

      Delete
  3. Setuju, Mas. Yang penting lakukan dulu. Untuk hasilnya seperti apa, lihat aja nanti. Kalau gak segera bertindak, akhirnya gak akan jalan. Terkadang bersikap bodo amat lebih baik daripada kebanyakan mikir dan gak segera melakukan sesuatu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak, lagian lho...mungkin tah semua hal yang kita rencanain itu bisa terlaksana semua?

      Ya sudah, jalanin aja dulu. Toh udah tau kenapanya dan kapannya.

      Delete
  4. Iya pak bener. Alasan itu penting banget. Kalau kita nggak tahu alasan yang kuat kita melakukan sesuatu itu, kita akan berhenti di tengah jalan. Karena kebingungan atau hasilnya setengah-tengah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul bun, the why itu ibarat bahan bakar. Kalo bahan bakarnya ga pas, malah bisa bikin mesin rusak.

      Delete

Post a Comment

Bagikan tanggapan, kritik maupun saran kamu tentang tulisan ini.

Jangan lupa klik subscribe sebelum pergi.