Tips Memilih Hadiah Ala Marie Kondo


Kamu tahu? Ada perasaan menyenangkan saat memberi hadiah kepada orang yang istimewa untuk kita. Terlebih ketika hadiah yang kita berikan itu 'berguna' buat mereka.

Namun, pernah nggak sih kamu merasa kecewa bila hadiah pemberian kita itu nggak pernah dipakai, apapun alasannya, dan pada akhirnya diberikan kepada orang lain.

Sedih? Ya lah, manusiawi kok.



Memilih hadiah

Saya juga nggak sekali dua kali ngalamin seperti itu. Maunya nyenengin, eh ternyata yang mau disenengin flat-flat aja.

Kalau udah gini, biasanya langsung nyanyiin lagunya mas Bondan Prakoso, "Saat kau berharap, keramahan cinta, tak dapat kau rengkuh...ya sudah lah."

Ya sudah lah.

Ya emang, mau gimana lagi. Kan bukan kewajiban mereka nyenengin atau ngebahagiain kita toh?

Singkat cerita, waktu saya lagi scrolling-scrolling timeline salah satu media sosial saya, ada seorang teman yang nge-share sebuah tautan menuju web Konmari.

Judulnya pun cukup provokatif untuk di-klik. Sehingga jempol ini tak kuasa untuk ngeklik.

Oya, buat kamu yang belum tahu, Konmari adalah sebuah metode beres-beres yang dipopulerkan oleh pakar beberes asal Jepang, Marie Kondo. Nama Konmari sendiri merupakan perwolak-walikan dari nama si penemu metode ini, si Marie Kondo sendiri.

Judul artikel itu adalah Choosing Gift That Will Spark Joy.

Dalam tulisan sederhana itu, Sis Marie membagikan 3 tips yang bisa kita lakukan dalam memilih hadiah.

1. Pikirkan Gaya Hidup Si Penerima. Yang Spesifik!

Hal pertama yang sering saya lupakan saat mencari hadiah atau hendak memberi sesuatu untuk yang tersayang adalah, orang seperti apa sih penerima hadiah ini?

Bapak adalah orang yang sangat loman. Beliau senang sekali memberi sesuatu kepada orang lain, nggak keluarga, nggak siapa pun.

Sempat terpikir, mungkin memberi adalah cara bapak menyenangkan diri.

Cuman, nggak jarang niat baik bapak saat memberi itu, nyatanya tidak malah membantu atau menyenangkan si penerima, tapi justru merepotkan.

Menurut saya, karena buat bapak, memberi adalah hobi. Namun beliau suka lupa, yang diberi itu butuhnya apa, sukanya apa, maunya apa.

Saya inget banget waktu bapak ngasih saya oleh-oleh minuman sari lemon, yang berakhir dengan mubazir alias tak tersentuh.

Kenapa gitu? Pertama, stiker label di botol menunjukkan kalau minuman-minuman itu udah kadaluarsa. Kedua, bapak ngasihnya banyak betul. Ketiga, saya nggak doyan aja minuman seperti itu, entah beliau tahu apa nggak.

Jadi serba salah. Diterima itu ya nggak bisa diapa-apain, ditolak nyakitin yang ngasih.

Ya mau nggak mau saya terima, meskipun saya tahu, saya nggak akan minum dan pasti kebuang.

Kadang, buat orang-orang seperti bapak, memberi itu adalah sebuah kesenangan. Bisa jadi, memberi adalah bahasa kasihnya bapak. Namun, ketika kita memberi tanpa mau tahu si penerima itu orang seperti apa, bisa jadi kita bukan malah nyenengin maupun bantuin lho.

Bisa-bisa malah ngerepotin si penerima. Repot buat ngempet nolak, repot buat tetep nerima dan bawa pulang, repot mau diapain dan repot menata hati saat harus membuang pemberian itu.

Jadi, coba deh mulai besok. Tiap kali kita mau ngasih sesuatu ke orang lain, kepoin lah lifestyle mereka. Favorit mereka apa, preferensi mereka apa.

Nggak apa-apa kan susah dikit daripada... .

2. Bayangkan mereka memakai pemberian kita.

Next thing, sebelum kita memilih hadiah terbaik untuk mereka yang tersayang, coba deh bayangin mereka pakai apa yang kita kasih.

Makan makanan yang kita kasih, pakai baju yang kita kasih, jam tangan dan banyak lagi.

Kira-kira mereka suka nggak? Cocok nggak sama mereka? Warnanya, modelnya dan lainnya.

3. Ikhlasin.

Terakhir nih, kalau ngasih yang ikhlas.

"Lho aku ikhlas kok ngasihnya"

Ya kalau kamu ikhlas, harusnya dipakai atau pun nggak, nggak masalah kan? Tapi coba jujur sama diri sendiri, waktu kamu ngasih hadiah tapi nggak pernah dipakai, sambat nggak?

True purpose of a gift is to be received - Marie Kondo

Hadiah, pemberian itu tujuannya untuk diterima, titik. Jangan lah kita membebani diri sendiri maupun si penerima dengan ekspektasi tinggi.

Coba bayangin saat kamu dipaksa memakai sesuatu yang kamu nggak suka hanya untuk menyenangkan orang atau sungkan. Nggak enak kan?

Jadi kenapa kamu melakukan itu kepada orang lain? 😊

Kesimpulan

Memberi hadiah itu baik, tapi ada baiknya kita juga mempertimbangkan tentang 3 hal berikut:
1. Lifestyle si penerima
2. Bayangin mereka pakai hadiah itu
3. Ikhlasin

Kamu punya ide lain?

Share:

4 comments:

  1. wah benar juga ya, makasih tipsnya

    ReplyDelete
  2. Iya sih.. kadang masih suka ngasih sesuatu ke orang berdasarkan kesenangan dan kebutuhan kita. Harusnya beli bukan "apakah kita suka barang itu" tapi "apakah dia suka barang itu".

    Btw, sepertinya tampilan blognya beda ya? Hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe iya, pengen ganti suasana sejenak 😁

      Delete

Bagikan tanggapan, kritik maupun saran kamu tentang esai ini.

Kalau kamu suka dan mendapat manfaat dari konten-konten blog ini, silahkan subscribe.