Alasan Lemarimu Mendadak Penuh Sesak


Menjalani hidup minimalis itu bukan berarti nggak boleh punya banyak barang lho. Selama barang-barang itu memang penting, bermanfaat dan bikin kamu hepi, ya simpan saja.

Nggak ada aturan baku, berapa banyak barang yang boleh dimiliki oleh seorang minimalis.

Setiap orang punya kebutuhan dan gaya hidup yang berbeda. Nggak bisa dong disama-samain.

Lemari minimalis

Seorang minimalis bukanlah pembenci barang, hanya saja kami memilih untuk menghindari kelebihan barang.

Salah satu cara mudah untuk tahu apakah kamu kelebihan barang atau tidak adalah dengan menyebutkan semua barang yang di lemarimu. Kalau kamu hampir nggak bisa mengingat apa isi lemarimu sama sekali, artinya sudah waktunya untuk meninjau kembali...apa aja sih yang selama ini menghuni lemarimu.

Oya, ngomong-ngomong soal isi lemari...saya kadang suka ngutak-atik penataan barang-barang di lemari saya, baik itu di rumah atau di kantor.

Seneng aja sih bisa menata barang-barang di dalamnya menjadi lebih rapi dan terorganisir (yang sering dipakai diletakkan di bagian depan dan sebaliknya).

Kalau dipikir-pikir, hobi ini muncul sejak saya berkenalan dengan minimalisme dan teknik Konmari.

Dan, tahu nggak? Ada dua hal yang menurut saya nih...bikin lemari itu tiba-tiba menyempit bin mengkeret alias mendadak nggak cukup lagi. Ini murni berdasarkan pengalaman pribadi saya hidup bersama orang-orang yang...ya, bisa dibilang kebalikan dari saya yang suka keteraturan ini.

#1 Isinya kebayakan.

Ya, jelas lah...kalau lemari berkapasitas 50, dipaksa muat untuk 500 ya nggak lama ya harus ganti.

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, nggak ada yang salah dengan menyimpan banyak barang selama barang-barang itu memang berguna dan bikin kita bahgia.

Tapi kalau menyimpan barang hanya karena takut kekurangan, siapa tahu nanti perlu, atau membeli 2 barang yang sama hanya supaya 'praktis' nggak perlu mindah-mindah, padahal berat juga nggak...ya jelas aja sebentar sudah nggak muat itu lemari.

Coba deh dilihat-lihat lagi, apa iya sih semua barang yang ada di lemari itu memang kamu perlukan.

Jangan-jangan ada beberapa barang yang mungkin sudah nggak layak simpan seperti, sisa makanan, makanan kadaluarsa dll.

Eh jangan ketawa dulu, ada lho orang yang nyimpen makanan kadaluarsa sampai 2 tahun gara-gara dia lupa dan di saat bersamaan terus menumpuk barang baru lainnya hingga penuh sesak.

Solusinya sederhana, walau tak mudah yaitu, buang yang tak diperlukan tanpa ragu.

Sederhana karena jelas dan logis, ngapain disimpan kalau udah nggak diperlukan, nggak pernah dipakai, bahkan lupa keberadaan barang itu.

Namun tak mudah karena beberapa dari kita suka menunda atau tidak menganggap membuang barang itu perlu. Atau bisa juga karena berasa nggak enak buangnya secara barang itu adalah pemberian orang yang istimewa.

Tapi, percaya deh...mengurangi barang-barangmu bisa membuat hidupmu lebih 'ringan' dan lebih baik. I've been there dude.

#2 Natanya Nggak Karuan

Sebagian orang tidak menganggap penataan sebagai sesuatu yang penting, asal naruh, lalu bingung waktu nyari barang yang mereka perlu dan mereka ingat pernah letakkan di lemari, tiba-tiba hilang.

Tentu saja ada kemungkinan pencuri menerobos masuk dan mengambil barang tersebut. Tapi, nggak jarang itu terjadi karena barang yang mereka cari ketumpukan dengan barang lainnya yang mereka taruh sembarangan. Belum lagi kalau ingatan yang mereka banggakan ternyata nggak setajam bayangan mereka.

Ada banyak cara menata barang-barang kita supaya lebih rapi dan terutama memudahkan hidup kita.

Salah satu yang saya gunakan untuk baju-baju di lemari saya adalah metode melipat baju ala Marie Kondo. Sedangkan untuk barang-barang di tempat kerja, saya menggunakan prinsip taruh depan yang sering dipakai. Saya juga menggunakan label untuk memudahkan identifikasi lokasi barang-barang yang saya perlukan.

Takes time memang, tapi kalau dilakukan dengan benar, menata barang-barang hanya perlu dilakukan sekali dan selebihnya, tinggal jaga kebiasaan meletakkan kembali barang di tempatnya setelah menggunakan.

KESIMPULAN

Dua hal yang sering bikin lemari saya mendadak penuh adalah isinya kebanyakan dan natanya berantakan. Dan ternyata ini yang bikin hidup saya so complicated beberapa tahun ini.

Setelah mengetahui akar masalahnya, menentukan langkah selanjutnya jadi lebih well..nggak mudah, tapi sederhana.

***
Silahkan berlangganan (subscribe) kalau kamu suka esai-esai seperti ini, atau bagikan ke temanmu.

6 comments

  1. Yang kurasakan setelah mencoba gaya hidup minimalis adalah mudah ketika pindahan. Barang yang dibawa gak banyak, dan ternyata aku cuma butuh barang itu2 saja kok, baru sadar 😅

    Sampai saat ini, saya belum selesai memilah2 buku2 koleksi saya. Masih ada rasa berat hati dan gak tega untuk berpisah. Dan juga masih nimbang2 di kasih ke mana. Sungguh dilema terbesar saat ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau memang mbak Tika feel happy dengan menyimpan buku2 itu keep aja mbak. Jadi minimalis nggak berarti harus buang semua yang disayang kok 😊

      Delete
  2. Saya sih minimalis, tp anak dan suami, enggak. Bikin stress jg kadang2 ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena mbak Rini expect too much ke anak2 & suami, membandingkan standar mereka dengan standar minimalis mbak.

      It's okay kok kalau mereka punya pilihan hidup berbeda, just accept it.

      Hanya karena kita minimalis, nggak berarti semua orang harus jadi minimalis bukan?😁

      Delete
  3. kalau lemari baju, aku selalu beli satu artinya harus dikeluarkan satu, jadi gak pernah kebanyakan. yg dikeluarkana ku kumpulkan bakal dikasih ke orang lain dan gak pernah aku keluarkan baju yg sudah usang masih bagus semua. kalau lemari buku, penuh kudu mikir apa tambah lemari atau disusun lagi biar muat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju banget bun. Kalau buku, hmm...gimana kalau dibuat perpustakaan. Kan bisa simpen banyak tapi tetep bermanfaat.

      Delete

Post a Comment

Bagikan tanggapan, kritik maupun saran kamu tentang tulisan ini.

Jangan lupa klik subscribe sebelum pergi.