Apa Yang Kamu Lakukan Lebih Penting Dari Apa Yang Kamu Tahu





Baru-baru ini, saya diajak untuk bergabung di sebuah project oleh sahabat lama. Dulu, kami pernah bekerja bersama dalam satu tim sebelum ada perubahan organisasi dan ia pada akhirnya memutuskan untuk resign dari perusahaan ini.


Cukup menyenangkan dan surprising ketika ia menghubungi saya menawarkan kerja sama untuk menyelesaikan proyek yang sedang ia kerjakan. Walaupun dalam hati saya tahu kalau kerja bareng kawan saya satu ini nggak pernah mudah. Karena ia punya standar kualitas kerja yang tinggi dan selama kerja bareng dia, nggak sedikit pun ada tanda-tanda ia berniat menurunkan standarnya. Good for her and challenging for me at the same time.

Karena itu, walaupun tahu ini nggak akan mudah…tapi saya putuskan untuk ambil tawaran itu.

Personally, saya ingin mengukur sudah sejauh mana sih improvement saya sejak terakhir struggle dengan high standard yang dia punya. Selain itu, saya merasa saya bisa berkontribusi di project yang ia tawarkan, jadi ya why not.

Singkat cerita, saya take part untuk melakukan proses sourcing kandidat karyawan untuk klien yang ia kerjakan. Dan sesuai dugaan, it was not easy. Ada momen di mana aktivitas di pekerjaan utama begitu crowded dan ruwet, saya hampir tidak bisa mengirim update sesuai kesepakatan awal. Tergoda untuk 'cerita' kendala yang saya hadapi yang membuat saya 'wajar' tidak bisa memenuhi ekspektasi, tapi saya urungkan. Bukan apa-apa, di samping malu, saya kira nggak guna juga saya cerita panjang lebar tentang kenapa saya nggak bisa. Kalaupun saya cerita and then what? Pada akhirnya kuncinya ada di cara saya mengelola sumber daya yang saya miliki, dan itu adalah tanggung jawab saya bukan dia.

Fast forward, proyek tersebut akhirnya closed (for me) di mana kandidat yang saya rekomendasikan diterima bekerja.

Entah kenapa, saya tergelitik bertanya kenapa klien memutuskan untuk meng-hire kandidat tersebut. Padahal dari beberapa kandidat sebelumnya juga banyak yang gugur alias gagal.

Lalu kawan saya ini cerita bagaimana pada waktu tes kemampuan teknis, kandidat ini memang perlu catch up karena pengalaman kerjanya berbeda dari tuntutan posisi yang saat itu dicari. Namun, kandidat ini mampu menyelesaikan tugas yang diberikan (terlepas dari keterbatasannya) dengan baik dan on time.

"Wow! Keren juga nih anak," batin saya.

Kalau dipikir-pikir, ya juga sih, kita semua punya kelebihan dan kekurangan. Ada hal-hal yang bisa kita lakukan, ada pula hal yang tidak bisa kita kerjakan. Namun, yang sering kita lupa, kita juga punya hal-hal yang harus kita kerjakan dan selesaikan, nggak peduli apakah kita bisa atau tidak mengerjakannya.

Kalau kamu pernah ada di situasi seperti ini, saat tak ada banyak pilihan selain terus maju, maka saya ucapkan "Selamat!" Artinya kamu sudah berhasil melampaui batas dirimu.

Dan, jika kamu belum pernah ada di situasi tersebut…saya doain kamu segera kecebur dan hopefully kamu strong enough untuk bangkit dan take action. Bukan apa-apa, sering kali lewat kondisi-kondisi semacam inilah Tuhan menyuruh kita untuk menggunakan semua potensi yang sudah Ia anugerahkan.

No one give a shit about what you think you can or can't do.

"Tapi aku nggak bisa, aku nggak pernah melakukan itu."

Well, sorry to say but…no one give a shit about what you think you can or can't do. Mereka cuma peduli sama apa yang kamu lakukan, bukan yang kamu tahu, bisa atau nggak bisa lakukan.

Saya punya kakak ipar yang hidup sebagai single parent dengan dua orang anak. Kalau mau nurutin 'bisa dan nggak bisa' saya yakin seyakin-yakinnya, kakak saya pasti berpikir nggak bisa. Namun, dengan keterbatasan pilihan yang tersedia, kakak memilih untuk terus maju. Move on lah istilahnya anak-anak jaman sekarang.

Kalau nggak move on, konsekuensinya ada dua jiwa suci yang akan terlantar, jauh dari fitrah mereka.

Apakah mudah? Tentu saja tidak. Saya yang 'cuma' dikasih seorang anak aja masih merasa kesulitan mendidik anak. Padahal itu sudah dibantu istri saya. Lah kakak saya? Struggle on their own. Pastinya susah setengah mati. Walaupun saya nggak pernah lihat atau dengar mereka mengeluh dengan keadaannya, tapi saya tahu it's not easy for them.

Makanya saya kadang suka sebel dan sensi ketika melihat atau mendengar orang nyeletuk "Ya nggak bisa" saat diminta melakukan suatu hal baru. At least coba dulu gitu lho. Kalau memang nggak bisa, kasih tahu kalau udah dicoba dan ternyata memang nggak bisa. Trus baiknya bagaimana. Bukan belum-belum udah bilang "Ya nggak bisa".

Kalau saya jadi yang nyuruh, sekali dua kali sih oke lah. Tapi kalo dikit-dikit bilang nggak bisa dengan gampangnya, ya saya juga akan dengan gampang bilang, "Lakukan, mboh piye carane".

Bukan saya nggak mau tahu apa kesulitannya, tapi itu adalah cara saya mengatakan "Coba dulu" untuk orang-orang yang terlalu malas untuk sekedar mencoba.

Saya tahu, mencoba sesuatu yang baru itu nggak mudah, perlu effort lebih dari biasanya dan beresiko. Ya kalau berhasil, kalau gagal gimana. Sudah ngoyo tapi hasilnya jauh dari harapan, dikritik pula.

Mending kalau kritik itu dikasih bareng sama solusi. Yang repot itu kalau habis mengkritik terus pergi. Nggak sadar kalau yang dikritik itu lagi down.

Tapi hei, bukan waktunya untuk larut dalam kesedihan mendalam Ferguso. Semarah-marahnya kamu, sedih macam apa pun, nggak akan merubah pendapat orang-orang itu tentangmu. As a matter of fact, mereka bahkan mungkin lupa pernah mengkritisimu dan membuatmu merasa seperti manusia terburuk yang pernah ada.

Jadi, menurutmu apa masih perlu terus menerus terpuruk dalam kesedihan atas penilaian orang yang bahkan tidak ingat, pernah menilaimu buruk?

Kenapa nggak, stand up for your own. Coba lagi, belajar dari kegagalan sebelumnya, ambil pendekatan berbeda. Daripada menyesali kegagalan dan menutup diri selamanya. Kalau kamu nggak mau melakukan itu untuk dirimu sendiri, setidaknya lakukan untuk orang-orang yang percaya sama kamu dan menggantungkan hidupnya kepadamu. Apa yang akan terjadi sama mereka jika kamu berhenti berusaha.

Berhentilah bersikap egois. It's not just about you. Kamu bisa berhenti untuk meratapi keterbatasanmu atau menangisi ketidakberdayaanmu sekarang, bila kamu tahu betapa berharganya kamu bagi seseorang dan betapa nasib mereka ditentukan oleh apa yang kamu lakukan. Bukan apa yang kamu tahu.

Jika kamu seperti saya, orang yang sangat beruntung karena memiliki orang-orang yang selalu ada saat dibutuhkan, mungkin sudah waktunya kamu berhenti mengandalkan mereka untuk membantumu. Lalu mulailah menjadi orang yang bisa diandalkan bagi mereka yang tak pernah berhenti percaya dan mencintamu dengan setulus hati.

Saya tahu ini tidak mudah. Tapi hei, kamu bisa kok. Kamu hanya perlu memulai. Setidaknya mulai merubah kosa katamu dari ya nggak bisa menjadi bisa nggak ya, as simple as that.

***

Last but not least, saya ingin berterima kasih pada kalian yang telah menyadarkan saya pentingnya berjuang dan berusaha, serta mendampingi saya dalam setiap proses perkembangan diri saya hingga hari ini. I won't be here without you.

Sometimes we learn more through the hard way that really are, pain in the ass.

14 comments:

  1. Ih, saya juga gregetan kalo ada orang pas ditanya, dengan mudahnya ngomong gak bisa (maunya dibantuin aja) entah mentalnya yang malas atau gak mandiri, kdg capek sendiri kalo harus ngasih motivasi atau teguran yg gak bikin tersinggung apalagi kalo itu dgn org dekat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Well, kalau ditegur dengan cara biasa nggak mempan, mungkin bisa coba cara lain. In the end, kita nggak bisa ngerubah orang lain...yang bisa kita ubah adalah "cara main" kita 😊

      Delete
  2. Nih artikel bikin orang pingin baca nyampek habis...yg kuingin dari baca ini adalah tulisan lakukan dulu jangan bilang TDK bisa...komposisi isi udah pas dg judul.gaya bahasa sesuai dg penulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks mbak Apria tanggapannya. 😁

      Delete
  3. Yanh kayak gini wajib dishare ke grup WA

    ReplyDelete
    Replies
    1. Feel free bang. Semoga bisa bermanfaat 😊

      Delete
  4. Sudah bolak-balik saya berada dalam situasi seperti itu, yang jelas jalani saja dulu, dalam hidup ini kan lebih banyak yang kita tidak tahu, jadi bukan hal yang buruk kalau kita mencoba dan melakukan kesalahan, banyak2 melakukan kesalahan biar terbiasa dgn kesalahan. manusia ini tempatnya salah dan dosa, semua. Hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh salah, tapi sekali aja. Masih ada kesalahan lain yang perlu dicoba 😁

      Delete
  5. Mungkin karna aku apatis dan egois jadi seringkali terjebak di situasi kaya gini, keeping up terus sampe akhirnya mutusin give up but for another reason. kesannya kaya kabur sebelum bener-bener bisa, dan memang kabur, tapi selalu aja berusaha bohong sama diri sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. It's okay to quit. Selama mbak Rere punya alasan bagus untuk itu.

      Delete
  6. Replies
    1. Seriously? Terima kasih apresiasinya.

      Delete

Bagikan tanggapan, kritik maupun saran kamu tentang tulisan ini.

Jangan lupa klik subscribe sebelum pergi.
EmoticonEmoticon

Connected