Kemudahan Yang Tak Memudahkan


Di kantor, tempat saya bekerja, kami memiliki sebuah unit koperasi simpan pinjam untuk para karyawan.

Waktu wawancara kerja dulu, hal ini juga sempat disinggung oleh Manager Personalia kala itu. Cuma, saya nggak terlalu ambil pusing dengan kemudahan pinjaman ini-itu, karena waktu itu fokusnya mah keterima kerja dulu.

Singkat cerita, saya mulai bekerja dan mulai bisa merasakan 'kemudahan' fasilitas kredit dari koperasi ini.



Oh iya, selain simpan pinjam, koperasi di tempat saya juga punya toserba yang menyediakan fasilitas pembayaran kredit dengan cara potong gaji.

Enak ya, ambil sekarang bayarnya pas gajian. Alhasil, karena terbiasa dengan kemudahan-kemudahan semacam ini, saya pun keterusan. Hampir setiap bulan, gaji yang saya terima tidak pernah utuh. Selalu ada potongan.

Namun, karena nggak sendirian yang gajinya kepotong belanja...ya saya mah woles aja. Saya menganggap itu sebagai sebuah kelumrahan.

Tak berhenti dengan kredit toko, saya juga iseng-iseng pinjam uang untuk keperluan yang kalau diingat-ingat lagi, nggak ada penting-pentingnya, apalagi faedah, udah pasti nggak ada.

Dan, singkat cerita saya selalu kebingungan untuk menjawab pertanyaan kenapa gaji aktual saya beda dengan yang tercetak di slip gaji.

Ya saya tahu karena potongan koperasi, tapi beli apa aja ya waktu itu, saya benar-benar lupa. Gimana nggak lupa, lah asal ngambil tanpa mikir.

Waktu berjalan dan saya mulai 'berkenalan lagi' dengan konsep riba, bahaya riba baik untuk kehidupan dunia dan akhirat.

Saya belum mempelajari secara mendalam konsep riba ini, hanya yang saya tangkap adalah riba = buruk. Sesederhana itu.

Akhirnya, saya melakukan sesuatu yang harusnya saya lakukan sejak dulu...berhenti dari keanggotaan koperasi.

Bukan perkara mudah buat saya untuk berhenti dari keanggotaan koperasi, mempertimbangkan 'kehilangan-kehilangan' fasiltas yang selama ini memudahkan saya.

Tapi, seperti halnya berhenti merokok, berhenti total seketika itu lebih efektif daripada mengurangi sedikit-sedikit. Setidaknya cara itu berhasil buat saya.

Jadi, dengan konsep yang sama, saya pun berhenti menjadi anggota koperasi.

Terlepas dari bahaya riba yang saya juga belum paham-paham banget, alasan saya berhenti itu juga karena ingin sesekali menerima gaji saya penuh tanpa potongan yang saya sendiri lupa dipakai buat apa.

Awalnya agak aneh dan kikuk saat mulai menggunakan mode transaksi tunai daripada kredit potong gaji, tapi entah kenapa, rasanya lebih damai sekarang.

Sekarang, sembari belajar dan berlatih untuk lebih bijak menggunakan uang, biarlah semua uang yang saya terima dikelola istri saya. 

Kebetulan istri saya secara alami lebih suka uang masuk daripada keluar. Jadi ya, uang kami berada di tangan yang tepat lah.


***

Silahkan berlangganan (subscribe) kalau kamu suka esai-esai seperti ini, atau bagikan ke temanmu.

Share:

8 comments:

  1. Cerita ringan tapi menginspirasi nih. Yap "kemudahan-kemudahan" itu memang bikin diri juga jadi lebih mudah terlena ya dan i think keluar dari circle yanv memudahkan sekaligu melenakan itu adalah keputusan yang tepat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, semoga bermanfaat mbak 😊

      Delete
  2. Saya merasakan hal ini waktu suami punya kartu kredit 5 tahun lalu.

    Awalnya sih sebenarnya maah bermanfaat banget.
    Kartu kredit tersebut cuman kami pakai buat belanja bulanan saja.

    Jadi saya belanja pas tanggal 20an, tanggal yang tua banget buat kebanyakan orang.

    Saya pilih tanggal segitu karena semua supermarket sepi hahaha.
    Jadi bebas antrian.

    nggak ada yang salah kan ya, pas gajian, semua tagihan belanjaan itu di CC, saya bayar penuh.
    Nggak pernah kena denda or something.

    Sampai akhirnya, lama-lama saya merasakan, saya jadi lebih konsumtif.
    Dari yang total belanja saya biasanya 100ribu misalnya, lama-lama bengkak sampai 2 kali lipat bahkan lebih.

    penyebabnya ya karena promo-promo kemudahan dari CC tersebut.

    Sampai akhirnya kartu itu disalah gunakan oleh paksu dan akhirnya saya minta ditutup saja.

    Sekarang belanjaan saya jauh lebih irit, hanya belanja sebutuhnya saja, mau ada godaan diskonan pun nggak ngaruh hahaha.

    Kadang memang kemudahan malah menyusahkan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fasilitasnya sih nggak salah, tapi karena yang pake nggak bijak...akhirnya jadi masalah ya mbak.

      Delete
  3. Tahun lalu waktu tinggal di kota perantauan, aku terbilang konsumtif. Bahkan beli snack untuk dikosan aja sampai berlebihan. Alih2 nonton yutub sambil ngemil, ini makanan sampai lewat kadaluarsa belum dimakan.

    Tapi, semenjak kembali ke kampung halaman aku jadi lebih hemat dan bijak tiap kali mau beli sesuatu.

    Hmmmmm.... entah karna pendapatan yg lebih kecil, atau aku yg mulai mendewasa yaaa hahahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang kedua sepertinya, mendewasa 😁

      Delete
  4. memang prinsipnya kita harus bisa mengatur

    ReplyDelete

Bagikan tanggapan, kritik maupun saran kamu tentang esai ini.

Kalau kamu suka dan mendapat manfaat dari konten-konten blog ini, silahkan subscribe.