Mencegah Lebih Baik Daripada Menyesali


Mencegah lebih baik daripada menyesali

Fenomena penyebaran Covid-19 a.k.a Corona di Indonesia saat ini, membuat banyak sekali himbauan-himbauan terkait cara-cara mencegah penularan Corona.

Memang mencegah lebih baik daripada menyesal.

Sayangnya, tindakan pencegahan seringkali diremehkan dan disepelekan hanya karena itu belum terjadi. Nggak cuma tentang Corona, di pekerjaan pun saya pernah mengalami hal serupa.

Begini ceritanya... .

Sebelum menempati posisi pekerjaan sekarang sebagai Document Controller, saya pernah menghabiskan waktu kurang lebih 7 tahun bekerja di bawah bos yang easily panic ketika terjadi perubahan atau menangkap sinyal-sinyal yang tidak beres.

Karena kepanikannya itu, beliau kerap mengambil keputusan yang kadang sulit untuk kami pahami alasannya dan nggak jarang, bingung bagaimana cara mengeksekusi instruksi beliau yang sangat cepat dan mendesak itu.

Barulah ketika tensi mulai mereda, dan kami mulai bisa memahami apa yang beliau mau dan bagaimana melakukannya, kami mulai menyadari bahwa apa yang beliau lakukan itu adalah sebuah upaya pencegahan.

Bos saya selalu menekankan pada kami tentang pentingnya persiapan yang matang dan kesederhanaan dalam tindakan.

Darinya, saya belajar bahwa agar segala sesuatu berjalan sesuai rencana, kami harus mau memberi effort lebih untuk memastikannya. Mulai dari membuat timeline dan monitoring setiap kemajuan sekecil apa pun, hingga berkoordinasi dengan pihak terkait.

Oh iya, versi bos saya dulu, berkoordinasi itu nggak sebatas mengirim email saja lho. Chatting, datangi dan pastikan para penanggung jawab paham dan yang terpenting, melakukan porsi mereka. Jadi, kalau beliau tanya progress dan kita menjawab, "Ya, sudah saya email," maka siap-siap menjalani your worst day ever. Besok gitu lagi? Ya udah gitu aja terus sampai kiamat.

Prinsipnya gini, pada akhirnya kita semua akan kerja keras. Kalau kita kerja keras (ngoyo) di awal, kita bisa punya waktu untuk menghadapi hal-hal yang tidak terduga.

Dibandingkan bila kita melakukan segala sesuatu dengan sangat prosedural, hanya mengerjakan bagian kita tanpa memastikan bagian lain mengerjakan bagiannya, dan ternyata benang kusutnya ada di tempat lain. Trus kita bisa apa?

Kalau mau salah-salahan, kita nggak salah. Tapi, seringkali udah nggak penting lagi siapa yang salah ketika terjadi masalah.

Hanya karena si anu main-main dengan korek api, nggak berarti kita nggak akan kena imbasnya ketika terjadi kebakaran bukan?

Bagi orang lain, memang melakukan effort se-ngoyo ini itu nggak guna, bukan bagian dari job desc, tapi coba deh pahami gambar besarnya.

Memastikan bagian lain melakukan tugasnya, nggak berarti kita take over kerjaan dia lho ya. Ingat, ending-nya adalah, kita menyelesaikan pekerjaan kita (yang di dalamnya dipengaruhi kinerja orang lain) dengan baik, sesuai harapan.

Selain memastikan semua persiapan dilakukan dengan baik, kesederhanaan proses operasional juga tak kalah penting.

Sering kali kita mendadak perfeksionis saat menyusun rencana sehingga eksekusinya terbengkalai. Harus begini, harus begitu, idealnya seperti ini, dll.

Tentu saja mematangkan persiapan itu kadang perlu mempertimbangkan banyak aspek. Namun, pengalaman saya, ketika kita terlalu ruwet dengan segala detil persiapan, bisa jadi kita lupa, tujuan sebenarnya dari aktivitas tersebut.

Kita terlalu kreatif menambahkan berbagai macam 'aksesoris' yang tidak esensial karena kita lupa, hasil akhir yang diminta itu apa.

Ibarat kata, kalau pelanggan kita pesan pisang goreng, ya sajikan pisang goreng, bukan kebun pisang. Walaupun 'niat' kita baik, memberi pelanggan kebebasan memilih pisang sesuai seleranya. Tapi kan ya kesuwen dan nggak sesuai order pula.

Mencegah itu lebih baik daripada menyesal. Tidak mudah memang, karena kita sedang mengatasi masalah yang belum terjadi, bermain-main dengan skenario terburuk untuk menyiapkan tindakan penanganannya.

Tapi yakin deh, preparing is better than sorrying.

Lagi pula, hanya karena kita punya APAR, bukan berarti kita berharap ada kebakaran kan? Melainkan persiapan saat kemungkinan terburuk (kebakaran) terjadi.

6 comments:

  1. Setujuuuu banget. Mencegah dari dulu selalu LBH baik, Krn setidaknya kita sudah melakukan persiapan bila hal buruk terjadi. Dan LBH bgs kalo ditambah dengan kedisiplinan yang kuat. Aku salut dgn China yg bisa cepet banget menghadapi virus Corona. Bener2 mengikuti apa yg diperintahkan pemerintahnya. Tp memang sih, teknologi mereka juga udh canggih. Jadi musibah besar seperti ini bisa cepet disikapi.

    Berharap Indonesia bisa seperti itu. Orang2 mau berfikir maju ke depan, saling membantu di saat begini, disiplin saat diminta stay at home, kec utk pekerja yg aku tau tidak bisa kayak gitu.

    Di kantorku sendiri, malah sampe dibikin SOP khusus menghadapi wabah seperti ini. Kantor pusat di Hongkong dan Inggris lgs sigap membuat dan cabang2 di Indonesia lgs cepet implementasi dan inform ke semua staff. Setidaknya kalo worst scenario terjadi, para Staff udh tau harus seperti apa :)

    ReplyDelete

  2. Tapi kalo ke seafood resto....pesen gurame lebih joss kalo milih dulu guramenya di aquarium nya ketimbang terima mateng 😋😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...makanya contohnya ga pake seafood 😂

      Delete
  3. betul, pencegahan itu memang penting bahkan di pekerjaan , persiapan yang matang akan mampu menyelesaikan dengan baik

    ReplyDelete
  4. Hahahaha bener nih yang perfeksionis saat menyusun rencana.. Kadang² kalau terlalu prefeksionis eksekusinya jadi terbengkalai.
    Ya mau gimna lagi untuk mndpatkan hasil yang baik kan harus melakukan pertimbangan dari berbagai aspek.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak pertimbangan iya, tapi nggak perlu terlalu perfect sehingga nggak mulai mulai.

      Simply plan, do and improvise.

      Delete

Bagikan tanggapan, kritik maupun saran kamu tentang tulisan ini.

Jangan lupa klik subscribe sebelum pergi.
EmoticonEmoticon

Connected