Papa Juga Lupa


Mata kuliah parenting yang paling sulit adalah menjadi parent (orang tua). 

Saya ingin membagikan sebuah esai yang pernah saya baca dulu tentang seorang ayah, karya W. Livingstone.

Apresiasi tinggi saya ucapkan kepada mas Sridewanto Pinuji yang telah mengabadikan esai inspiratif ini di blognya.

Selamat membaca dan semoga bisa memberi faedah buat kita semua, terutama saya yang sering lupa peran saya sebagai seorang ayah.


Papa Juga Lupa

Dengarlah, Nak….

Papa lakukan semua ini ketika kamu tidur, saat satu tanganmu menyangga pipimu yang gembil dan tertutup beberapa helai rambut keritingmu itu.

Sendirian Papa memasuki kamarmu. Beberapa menit yang lalu, ketika Papa membaca buku di luar, menerpalah satu gelombang penyesalan.

Dengan penuh perasaan bersalah, sekarang Papa duduk di samping ranjangmu.

Ada beberapa hal yang telah Papa lakukan, nak:

Papa marah karena kamu hanya cuci muka sebelum berangkat ke sekolah.

Papa berteriak manakala sepatumu kotor dan tidak dibersihkan.

Papa juga menghardikmu pada saat kamu begitu saja melempar handuk yang habis dipakai ke lantai.

Ketika sarapan, lagi-lagi kamu membuat Papa marah.

Kamu menumpahkan sayur, makan bersuara, dan sikumu di meja.

Terus, saat kamu mau berangkat ke sekolah, Papa juga membentak karena jalanmu tidak tegap dan hanya melambaikan tangan ke Papa.

Sore harinya, lagi-lagi Papa tidak suka dengan apa yang kamu lakukan.

Ketika bermain kelereng, dengkulmu menempel ke tanah dan membuat celanamu kotor, bahkan Papa lihat ada lubang di sana.

Karena itu, maka Papa lagi-lagi marah padamu di depan teman-temanmu dan menyeretmu masuk ke dalam rumah.

Jika saja kamu tahu, celanamu itu mahal dan mengotorinya akan akan menambah pekerjaan.

Setelah itu, ingatkah kamu saat Papa membaca dan kamu datang dengan pandangan penuh harapan?

Saat itu Papa pun tak sabar karena kamu mengganggu keasyikan membaca.

Kamu berdiri gamang di pintu dan Papa bertanya, “Mau apa kamu?”

Kamu tidak berkata apa pun, Nak, malah berlari begitu saja, melingkarkan tangamu di leher Papa dan memberikan ciuman di pipi.

Kemudian, kamu pun berlari, kembali masuk ke kamarmu.

Nak, tak lama kemudian buku yang Papa baca melorot ke pangkuan dan sebentuk ketakukan menyergap.

Kebiasaan apa yang telah Papa lakukan?

Hobi menemukan kesalahan dan menghardik hanya karena kamu adalah lelaki muda yang belum lagi dewasa….

Itu semua bukan karena Papa tidak sayang, namun karena harapan yang terlalu tinggi kepadamu.

Papa telah mengukurmu dari sudut pandang seorang lelaki dewasa….

Padahal tidak ada yang keliru dengan semua perbuatanmu dan apa yang kamu lakukan sungguh sempurna…..

Terutama ketika kamu datang dan memeluk, kemudian mencium Papa.

Malam ini tak ada hal lain yang lebih penting, Nak. Jadi Papa di sini, di sampingmu ketika kamu tertidur dan Papa sungguh merasa malu.

Ini adalah penebusan dosa sebab Papa tahu kamu tidak akan paham jika Papa bilang semua ini ketika kamu terjaga.

Namun, besok pagi, Papa akan berubah, akan menjadi ayah yang sebenarnya….

Papa akan menjadi sahabatmu, sedih jika kamu sedih, dan tertawa jika kamu gembira.

Papa akan menahan diri jika kecewa dan memilih diam. Papa hanya akan bergumam dan menjadikannya semacam ritual, ‘Kamu bukanlah siapa-siapa kecuali lelaki kecil, hanya anak kecil….’

Sepertinya selama ini Papa keliru dengan melihatmu sebagai seorang lelaki dewasa.

Namun, sekarang aku melihatmu… ketika meringkuk di baju tidurmu yang mulai terlihat sempit.

Ternyata kamu tak berubah. Bagi Papa, kamu adalah seorang bayi yang kemarin masih digendong Mama.

Papa telah meminta terlalu banyak, terlalu banyak….

10 comments:

  1. terima kasih, Mas, sudah meneruskan pesan luar biasa ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya yang terima kasih mas, udah diingetin 😊

      Delete
  2. Tulisan yang mengharukan kang, saya juga kadang berharap terlalu banyak, pengin anak bisa seperti anak lain yang berprestasi, akhirnya mungkin membebani anak.

    Tapi sekarang lebih slow sih, yang penting tetap ajari anak, masalah hasil insya Allah tidak akan mengecewakan kalo kita sudah berusaha.😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya seringnya kurang sabaran sama perilaku anak yang "tidak ideal", lupa kalau dia mungkin sedang mencoba cara baru, atau sekedar bersenang-senang.

      Terlalu memaksakan semua harus dilakukan dengan cara saya atau cara yang 'normal'.

      Delete
  3. Aku jadi mbrebes mili bacanya, Mas. Sebenarnya aku masih belum benar-benar merasakan menjadi ibu. Karena hanya sampai usia lima hari anakku sudah dipanggil Yang Kuasa. Semoga aja aku segera diberi kesempatan untuk menjadi ibu sepenuhnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Turut bersimpati mbak Roem. Semoga Allah mendengar dan mengabulkan doa Mbak Roem.

      Delete
  4. Suratnya mengharukan. Mungkin itu yang ayahku rasakan hingga akhirnya ia pergi meninggalkanku dan semuanya.

    Terima kasih Pa.

    Keren Kak. Tulisannya minimalis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih apresiasinya. Semoga bermanfaat.

      Delete
  5. Replies
    1. Tisu aja ya, bahunya lagi dipake

      Delete

Bagikan tanggapan, kritik maupun saran kamu tentang tulisan ini.

Jangan lupa klik subscribe sebelum pergi.
EmoticonEmoticon

Connected