Opini Tentang Privilese

Privilese

Beberapa waktu lalu, saya menemukan sebuah postingan yang cukup 'menggugah' tentang makna privilese. 


Di tengah wabah pandemi Covid-19 beberapa perubahan diterapkan oleh sejumlah instansi dan badan usaha dalam rangka mencegah penyebaran virus ini.

Salah satunya adalah dengan memindahkan sejumlah aktivitas ke rumah masing-masing. Aktivitas pendidikan, peribadatan dan juga pekerjaan.

Tak lama, tagar #DiRumahAja pun bermunculan di media sosial oleh warganet dengan beragam postingannya.

Mulai mensyukuri kebijakan #DiRumahAja karena menjadi kesempatan untuk lebih dekat dengan keluarga, hingga yang sambatan karena produktivitas yang menurun saat beraktivitas dari rumah, stres mengatur polah anak-anak karena terpaksa jadi guru dadakan dan banyak lagi jenisnya.

Waktu itu, hanya istri dan anak saya saja yang menerima privilese beraktivitas dari rumah ini. Sedangkan saya, masih tetap harus berangkat ke kantor dan beraktivitas seperti sedia kala plus wajib mengenakan masker.

Melihat bagaimana rekan-rekan melakukan aktivitas pekerjaan dari rumah, sejujurnya ada perasaan iri. Bukankah menyenangkan bisa melakukan aktivitas tanpa jauh dari keluarga tercinta?

Ada perasaan trenyuh membaca postingan-postingan sambatan mereka. Mereka mendapatkan sebuah privilese atau keistimewaan, tapi kok tampaknya mereka tak juga bahagia dengan keistimewaan tersebut.

Padahal, di luar sana banyak lho orang-orang yang berharap bisa bertukar tempat dengan mereka. Melakukan aktivitas pekerjaan dari rumah, dekat dengan keluarga. Namun apa daya, jenis pekerjaan dan kebijakan tempat kerja tidak memungkinkan mereka untuk melakukan itu (bekerja dari rumah).

Tak lama setelah saya selesai meratapi nasib dengan membandingkan privilese orang lain itu, saya kembali berpikir. Bukankah di luar sana juga banyak orang-orang yang terpaksa kehilangan mata pencaharian mereka, karena perusahaan mereka merugi terkena dampak dari wabah Covid-19 ini?

Bukankah orang-orang itu, jika bisa memilih, mereka mungkin bersedia bertukar posisi dengan saya, memiliki pekerjaan dan penghasilan?

Mensyukuri yang kita miliki, apa pun dan berapa pun jumlahnya, merupakan kunci menuju kebahagiaan. Sesederhana itu, walaupun pada kenyataannya, melakukan hal yang sederhana itu tidak mudah. 

Saya masih perlu membandingkan diri dengan orang lain yang tak seberuntung saya untuk mengingatkan saya bahwa saya itu beruntung dan memiliki privilese saya sendiri.


Baca juga Cara Mensyukuri Apa Yang Kamu Punya


Kita semua memiliki privilese kita sendiri-sendiri. Memang tak mudah melihat dan mensyukuri apa yang sudah kita miliki di saat orang lain tampak punya segudang kelebihan dan keberuntungan. Apalah kita dibanding mereka, pikir kita.

Namun, percaya deh. Di luar sana, banyak kok orang-orang yang akan senang sekali jika bisa bertukar tempat dengan kita, menjalani kehidupan yang kita jalani, memilki privilese yang kita milki.

Jadi, masihkah bijakkah kita untuk terus sibuk membanding-bandingkan ketidakpunyaan kita dengan kepunyaan orang lain?


Penutup

Oya, minggu lalu saya akhirnya merasakan juga bagaimana bekerja dari rumah. Dan, mengingat apa yang saya rasakan belakangan ini, saya jadi malu untuk sambat tentang susahnya kerja dari rumah. Memang bekerja dari rumah punya tantangannya sendiri, tapi ya sudah, dijalani saja.

Ingat aja kalau bisa bekerja di rumah adalah sebuah privilese yang harus disyukuri dan dijaga sebagai sebuah amanah. Sebagaimana halnya dengan masih memiliki rumah untuk pulang, keluarga untuk ditemui, dan pekerjaan untuk dijalani.


8 comments:

  1. Bener banget, Mas. Semua sebenarnya sudah tertakar, tapi kadang kita suka memandang takaran orang lain. Jadinya ... ya kurang bersyukur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Takaran orang lain selalu tampak lebih menarik soalnya 😑

      Delete
  2. Saya kayaknya berhenti pengen jadi orang lain setelah punya anak kedua hehehe.

    Rasanya sudah lebih dari cukup pengalaman hidup mengajarkan saya, bahwa setiap orang udah punya sesuatu yang sesuai dengan kemampuannya.

    Hal itu muncul, setelah saya merasa capek banget urus anak kedua.

    Padahal dulu saya menanti lama pengen punya anak kedua, saya iri dengan teman-teman yang anaknya dua.

    Setelah saya dikasih, baru deh saya sadari, bahwa memang semuanya itu udah ada jalannya masing-masing, yang bisa kita lakukan adalah menjalaninya dengan optimis.

    Ibarat udah dikasih tugas sama Allah, kita pasrah atas tugas tersebut dan sepenuh hati mengerjakannya.

    Eh bentar, kayaknya saya butuh termometer buat ukur suhu kepala, tumben gitu saya agak bener mikirnya hahahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali mbak, semua sudah punya jalan masing-masing. Harus dijalani sepenuh hati & ikhlas 😊

      Delete
  3. Saya salah satu yang masih harus keluar rumah untuk bekerja di tengah pandemi Corona ini kang. Rasa was-was tetap ada karena cukup dekat dengan zona merah di Jakarta.

    Tiap mau masuk kerja pasti diperiksa suhu badannya, masuk ke pabrik harus pakai masker, tidak pakai disuruh pulang paksa, otomatis gaji tidak ada.

    Semoga yang bekerja dari rumah tidak mengeluh bosan ya, karena diluar rumah juga ada bahaya.😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya kebetulan WFH-nya gantian, jadi seminggu ada ngantor ada ngerumah.

      Emang harus pinter-pinter ngatur ini-itunya apalagi di rumah ada bos kecil yang lebih galak dari bos besar.

      Namun, apa pun itu...yuk dijalani dengan sebaik-baiknya.

      Delete
  4. Sejauh ini saya enjoy kerja di rumah. Bisa hemat ongkos. Alhamdulillah. Hehe. Semangat mas yang kerja di luar rumah. Jaga kesehatan ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, stay safe & productive ya 😁

      Delete

Bagikan tanggapan, kritik maupun saran kamu tentang tulisan ini.

Jangan lupa klik subscribe sebelum pergi.