Aku & Canva Di Dunia Digital

canva



Apa sih aplikasi yang kamu pakai untuk mengolah, menyunting dan me-make over gambar untuk postingan-postingan blog maupun media sosial lainnya? 

Jika kamu menjawab Canva, yuk tos-an dulu.

Yap, setiap orang yang mulai dan sedang menekuni industri kreatif tentunya sudah tak asing dengan aplikasi desain grafis yang sudah eksis sejak 2012 ini.

Saya mengenal aplikasi besutan Melanie Perkins ini kurang lebih, tahun 2016-an. Ceritanya saya selalu penasaran sama postingan-postingan keren salah satu teman kantor yang menggeluti sebuah bisnis MLM di bidang kecantikan dan perawatan tubuh.

Waktu itu saya perhatikan postingan-postingan teman saya di media sosial seperti Facebook dan Instagram ini secara desain visualnya kok keren-keren. Pakai aplikasi apa sih.

Saya sih nggak tertarik menggeluti bisnis MLM, cuma seneng aja sama desain komunikasi visual.

Dan, singkat cerita...teman saya mengenalkan saya ke sebuah aplikasi berbasis web bernama Canva. Waktu itu mereka belum punya aplikasi untuk smartphone. Jadi utak-atik desain hanya bisa dilakukan melalui komputer.

Bisa sih pakai ponsel, tapi ya gitu...bikin darah tinggi. Karena web mereka sendiri masih belum responsif seperti sekarang.

Saya amaze sekali dengan kemudahan membuat desain grafis menggunakan Canva ini. Stok template yang mereka miliki pun banyak sekali. Dari yang gratisan hingga berbayar. Hasilnya pun udah kaya bikinan desainer profesional.

Helpful sekali buat saya yang lagi seneng-senengnya bikin konten Instagram dulu.

Sampai sekarang, Canva masih menjadi senjata rahasia (tapi nggak rahasia) saya untuk playing around with graphic design seperti favicon blog, logo blog, hingga postingan-postingan untuk Facebook Page saya.

Kadang saya juga menggunakan Canva untuk membuat undangan pelatihan digital yang saya sebarkan melalui Whatsapp.

Tips Menggunakan Canva

Buat kamu yang baru pertama kali menggunakan Canva, saya mau share beberapa hal yang saya perhatikan ketika membuat desain grafis dengan Canva.

Ini sebatas pengalaman pribadi saya, yang masih amatiran dalam dunia desain grafis.

1. Tentukan Konsep

Seperti halnya ngeblog, membuat desain juga perlu konsep dan perencanaan

Canva memang menyediakan banyak sekali template yang bisa kamu gunakan. Tapi kadang sangking banyaknya pilihan, bisa-bisa kita bingung sendiri menentukan desain yang sesuai kebutuhan.

Pengalaman saya membuat logo Minimalist Web dengan Canva, konsep yang mau saya angkat adalah minimalis dan sederhana.

Idenya saya dapat dari logo Miniso Life. Desain berbasis teks, dua kata dengan permainan ketebalan font.

Miniso Life
Inspirasi desain logo Minimalist Web

Memiliki konsep awal ini cukup membantu kita membuat desain dengan lebih efektif, karena kita sudah tahu hasil akhir desain kita nantinya.

2. Bermain-main dengan Icon

Salah satu elemen favorit saya dalam membuat desain grafis adalah icon.

Saya biasa menggunakan icon sebagai pengganti informasi berbasis teks. Misalnya waktu saya membuat desain undangan digital, saya menggunakan icon-icon seperti icon location untuk tempat acara, atau icon kalender untuk hari dan tanggal.

Prinsipnya, sebuah gambar bercerita lebih banyak. 

Canva
Contoh desain dengan permainan icon

Kalau 1 icon bisa menggantikan beberapa karakter teks, kan jadi bisa hemat tempat tuh. Dan nggak bikin yang baca males karena kebanyakan teks.

3. Memilih font

Saya nggak terlalu hafal sama ragam dan jenis font yang beredar di dunia. 

Jadi yang biasa saya lakukan untuk memilih font adalah dengan menggunakan template kombinasi teks yang disediakan Canva.

Biasanya template-template ini merupakan kombinasi dari 2-3 jenis font, tergantung teksnya.

Yang saya lakukan adalah, memilih salah satu dari font kombinasi ini dan menghapus sisanya, sesuai kebutuhan saya.

Dan untuk font, saya membatasi penggunaan jenis font maksimal 3 jenis dalam satu desain. Terlalu banyak varian font kesannya norak menurut saya.

4. Kombinasi warna

Jenis desain favorit saya adalah desain dengan nuansa minimalis dan simple. Tidak terlalu rame, dan ada banyak ruang kosong, sehingga terkesan lega.

Seperti font, kalau bisa sih jangan terlalu banyak kombinasi warnanya. Tahu sih, pelangi itu cantik karena colorful, tapi nggak berarti desainmu akan secantik itu ketika semua warna kamu masukkan di desainmu.

Pilih setidaknya 3 warna lah, nggak usah banyak-banyak.

Untuk memilih warna, saya akhir-akhir ini menggunakan palet warna dari colorhunt menggunakan kode hex warna.

Singkatnya saya cari warna yang saya mau, saya salin tuh kode hex-nya, terus saya paste di Canva.

As simple as that.

Oya bonus info nih buat kamu yang bingung menentukan warna yang cocok untuk desainmu, kamu bisa isi dulu kuis warna.

Atau lebih lengkap tentang memilih warna, kamu bisa main ke blognya Neil Patel.

***

Jadi itu cerita saya menggunakan Canva dan beberapa hal yang biasa saya perhatikan dalam membuat desain grafis. Feel free lho kalau mau nambahin.

6 comments:

  1. wahh ini blog-nya beneran minimalis banget...bersih...
    selain itu canva juga bisa digunakan sebagai senjata untuk membuat berbagai template digital dan bisa di jual juga hasilnya. meskipun ada aplikasi lain yang sejenis macam snappa tapi nggak tau kenapa kok lebih sreg pakai canva di banding yang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, I take that as compliment hehehe.

      Saya baru tau Snappa. Mungkin boleh nih sesekali main-main ke situ. Sreg atau nggak itu mungkin karena faktor kebiasaan aja mbak.

      Delete
  2. Halo Mas Prima, ini saya blogwalk balik dari Gariswarna. Memang untuk web aplikasi desain, Canva masih terbaik untuk urusan UI. Intuitif dan mudah digunakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Versi mobile web-nya pun juga user friendly.

      Delete
  3. aku banget nih jadi canva lovers sekarang, pelan2 blogku juga mulai ada sentuhan canva :). yaa walaupun terlambat banget kenal canva, tapi lebih baik telat dari pada ga sama sekali ya, hihi...

    terima kasih Canva!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...iya, terlambat lebih baik daripada nggak sama sekali. Make it looks better.

      Delete

Bagikan tanggapan, kritik maupun saran kamu tentang tulisan ini.

Jangan lupa klik subscribe sebelum pergi.
EmoticonEmoticon

Connected