Apa Yang Saya Pelajari Tentang Membuat Konten

blog content

Konten adalah raja dan sang ratu adalah, pembaca.



Salah satu hal paling sulit di dalam aktivitas apa pun adalah konsisten. Tak terkecuali, ngeblog.

Sudah jadi rahasia umum kalau keberhasilan seorang bloger ditentukan oleh konsistensi dia dalam menghasilkan konten yang berkualitas secara kontinyu. Nah, ini yang sulit.

Kalau sekedar memperbarui konten sih, nggak terlalu sulit. Bikin aja konten ala kadarnya, untuk sekedar menggugurkan kewajiban update blog post. Perkara apakah konten itu bisa dinikmati, menginformasi mau pun menginspirasi pembaca mah, nggak jadi soal.

Atau, menghasilkan konten yang sarat informasi, menginspirasi dan memberi nilai tambah bagi pembaca tetapi postingnya 6 bulan sekali.

Well, sebenarnya seperti apa pun kualitas kontennya, berapa kali jadwal postingnya, semua terserah masing-masing bloger sih. Blog mereka sendiri, jadi ya up to them. Kan masing-masing bloger punya value pribadi yang beda-beda. Jadi ya, sah-sah saja.

Cuma, kalau saya pribadi sih...saya lebih memilih membuat konten yang memberi nilai tambah bagi si pembaca, secara rutin (rutin buat saya adalah minimal seminggu sekali). Tapi itu saya lho, bloger kemarin sore yang masih grothal-grathul di dunia per-blogging-an.

Bicara soal konten, ada beberapa hal yang saya pelajari tentang membuat konten yang baik. Setidaknya ada 3 elemen penting yang perlu kita perhatikan dalam membuat konten: persiapan-eksekusi-promosi.

1. Persiapan

Menurutmu, berapa banyak konten yang bisa kamu hasilkan bila kamu punya waktu luang seharian penuh? 10, 50, 100? Atau...tidak sama sekali.

Sangking nafsunya bisa ngupdate blog, saya pernah sengaja mengambil cuti untuk menulis. Crazy ya? Iya. Waktu itu saya kira, saya nggak bisa rajin ngupdate postingan gegara saya nggak punya waktu. Sibuk kerjaan, sibuk dengan urusan keluarga.

Singkat cerita saya pun duduk di depan layar laptop, aplikasi Ms Word sudah siap sedia dan yang saya perlu lakukan hanya mulai menulis.

Tapi, damn, saya nggak tahu mau nulis apaan!

Kenapa saya nggak tahu mau nulis apa? Simpel aja, saya nggak nyiapin bahan tulisan saya dengan baik. Saya kira nulis mah tinggal nyalain laptop, buka aplikasi nulis, nulis, publish, finish.

Well, nggak sesimpel itu juga Ferguso. Apalagi kalau yang sedang kamu tulis adalah masterpiece kamu.

Moral dari pengalaman ini buat saya adalah, jangan pernah berhadap-hadapan dengan laptop (atau gawai) kalau kita nggak tahu apa yang mau kita tulis.

Jangan mau dibodohi Google Images, Unsplash, atau Pixel yang banyak menampilkan sosok orang yang sedang duduk di depan laptop dengan ekspresi serius, saat kita memulai pencarian dengan kata kunci writer, writing, blogging.

Menulis itu sulit, jangan persulit dirimu dengan tidak tahu apa yang mau kamu tulis.

Make it simple.  Nggak perlu rumit-rumit, cukup dengan menuliskan apa tujuan yang mau kamu raih dengan tulisan itu. Tanyakan pada dirimu sendiri, kira-kira apa yang akan pembaca dapatkan atau rasakan setelah mereka selesai membaca tulisan ini ya?

Begin with the end in mind.

2. Eksekusi

Rencana terbaik sekali pun tak akan menjadi nyata tanpa ada tindakan.

Dalam mengeksekusi pembuatan konten, beberapa poin berikut yang biasanya saya perhatikan:

Minimalisir Gangguan

Menulis itu perlu waktu sendiri, just you and your PC. Tanpa distraksi dari notifikasi media sosial mau pun si kecil yang tiba-tiba nemplok minta gendong.

Termasuk, yang sering saya alami, ruwet sendiri dengan pengaturan aplikasi menulis. Ngeset font-nya lah, margin-nya lah dsb.

Ada satu masa di dalam menulis yang disebut flow stage, di mana tulisan kamu ngalir gitu aja.

Flow stage-nya setiap orang beda-beda. Ada yang muncul setelah 30 menit nulis, ada yang sejam, bisa lebih cepat atau lama. Tapi, kita nggak akan pernah bisa mencapai tahap itu, kalau setiap 5 menit sekali 'terganggu' ini-itu.

Karenanya, persiapan itu penting. Selain menyiapkan materi tulisan, kita juga perlu menyiapkan waktu dan lokasi terbaik untuk menulis. Termasuk juga, pengaturan aplikasi menulismu.

Kalau kamu menggunakan Ms Word untuk membuat draf, atur sedemikian rupa sehingga kamu tinggal buka dan pakai. Dan kalau sudah diatur, jangan sibuk gonta-ganti setelannya. Kreatifitasmu lebih diperlukan untuk menulis daripada memilih font. 

Jika dirasa fitur-fitur Ms Word terlalu menggoda untuk nggak diutak-atik, ganti aplikasimu menggunakan Notepad. Atau aplikasi minimalis untuk menulis online seperti Zenpen atau Calmly Writer

Tapi, kalau nulis online jangan buka media sosial dulu.

Less is more.

Gunakan Saya-Kamu

Menulis adalah salah satu media komunikasi, antara penulis (bloger) dan pembaca. 

Satu cara sederhana agar tulisanmu lebih komunikatif dan interaktif adalah dengan menggunakan saya-kamu. Ingat, kamu sedang berkomunikasi dengan pembacamu, bukan ngomong sendiri kan?

Gunakan Subheading

Kita mau pembaca membaca tulisan-tulisan kita secara berurutan dari awal sampai akhir. Maunya. Tapi, kenyataannya, bukan begitu cara sebagian besar pembaca (terutama online) membaca.

Biasanya mereka akan scrolling dengan cepat untuk mengetahui apakah tulisan tersebut layak dibaca. Kalau memang layak baca, baru mereka balik untuk baca pelan-pelan dari awal.

Subheading membuat pembaca mudah melakukan quick screening tehadap tulisan kita dan membantu mereka menentukan apakah mereka perlu meluangkan waktu dan perhatian mereka membaca seluruh isi tulisan itu. 

Kita mau tulisan kita mudah dibaca kan?

Maksimal 5 Baris

Hal lain yang biasa saya gunakan agar tulisan saya mudah dibaca adalah dengan membatasi jumlah baris per paragraf maksimal 5 baris. Ingat, 5 baris, bukan 5 kalimat.

Ya saya tahu, dulu guru Bahasa kita telah susah payah ngajarin kalau sebuah paragraf harus mengandung 5 kalimat. Namun, konteksnya berbeda saat menulis di media online. 

Terlalu banyak baris dalam satu paragraf bisa bikin horor buat pembaca. Apalagi yang baca itu, adalah pembaca pemula seperti saya.

Dengan membatasi jumlah baris dalam satu paragraf, tulisan kita berkesan lebih 'lega' dan readable.

Gunakan Gambar

Sebuah gambar dapat bercerita lebih banyak.

Buat saya, gambar berfungsi sebagai ilustrasi tentang tema/topik yang saya bahas. Selain itu, gambar juga berfungsi sebagai jeda, terutama untuk tulisan-tulisan panjang (lebih dari 300 kata) seperti postingan ini, biar pembaca nggak capek baca.

Ada banyak situs penyedia gambar yang bisa kamu gunakan untuk blog-mu. Saya pribadi biasanya menggunakan Unsplash atau gambar pribadi.

Oya, untuk gambar...saya lebih suka mengatur peletakannnya menjadi landscape dengan ukuran sama dengan lebar blog. Biasanya saya mengaturnya ke mode X-Large. Namun, jika setelah saya preview hasilnya tidak sesuai harapan, saya kembalikan ke ukuran normal-nya.

Jika template blog-mu memiliki fitur responsif, hal ini nggak akan jadi masalah karena secara otomatis gambarmu akan dipaksa menyesuaikan lebar layar.

Beri Penutup/Kesimpulan

Dan berikan subheading Penutup/Kesimpulan. 

Seperti halnya subheading dan gambar, bagian ini membantu pembaca pemula untuk lebih mudah memahami gambaran umum, tema yang kita bahas.

Jika mereka tertarik membaca lebih detil, mereka bisa kembali ke atas dan membaca dari awal.

3. Promosi

Nulis, publish, finish...kalau saja proses ngeblog bisa sesederhana itu. Sayangnya, atau malah menariknya, ngeblog itu nggak selesai ketika kamu nge-publish tulisanmu.

Masih ada satu lagi jurus pamungkas yang harus setiap bloger kuasai, yaitu promosi, promosi, promosi konten.

Kecuali kamu sudah punya basis pembaca setia yang selalu nambah tiap harinya, promosi konten itu wajib kamu lakukan. Kenapa? Ya, supaya seluruh dunia tahu kalau di blogmu ada konten baru.

That's it, titik.

Karena konten yang sudah kamu buat susah-susah itu, kecil kemungkinan dibaca orang kalau kamu nggak pernah promosiin. Caranya gimana buat promosi konten? Ini yang saya lakukan:
  • Update status di akun pribadi Facebook, Twitter atau WA story.
  • Share konten di komunitas bloger seperti Warung Blogger dan Blogger Crony atau 1minggu1cerita.
  • Blogwalking.
Terkait blogwalking (BW), saat ini saya sedang berusaha mendisiplinkan diri untuk BW minimal ke 3 blog setiap harinya. Kenapa tiga? Karena itu sudah angka paling realistis buat saya. 

Di samping itu, saya juga ingin menjaga kualitas komentar yang saya berikan, komentar yang melengkapi tulisan, berbagi pengalaman pribadi terkait topik tulisan. Bukan sekedar "Nice info Gan!"

Eh bukan berarti, komentar-komentar pendek itu nggak penting lho ya. Saya akan tetap menanggapi komentar di blog saya apa pun itu, panjang maupun pendek. Size doesn't matter.

Kesimpulan

Ada 3 elemen penting menurut saya dalam membuat konten yang baik yaitu:
  1. Persiapan
  2. Eksekusi
  3. Promosi
Namun, ini menurut saya lho ya. Cara saya mungkin nggak sesuai sama kamu. Apakah kamu punya cara lain yang bisa kamu tambahkan di sini?

10 comments

  1. Aku baru akan menulis di blog, kalo memang udh tau tema apa yg mau aku tulis :D. Tanpa itu, ga bakal jelas artikel apa yg mau diupdate ke blog :D.

    Sbnrnya ga jauh beda Ama kamu kok mas. Akupun ngelakuin jg yg namanya persiapan, eksekusi dan promosi. Walopun untuk promosi aku biasanya hanya di 2-3 komunitas blogger aja, dan ga sampe melalui wa ato Twitter . Sisanya aku coba dari BW sih.

    Cuma Krn BW buatku masuk dalam kegiatan membaca stiap hari yg hrs aku lakuin 3-4 jam sehari, jd mungkin jumlah BW ku bisa LBH banyak :p. 10-15 blog setiap hari. Jd kayak sekali dayung bisa 2-3 tujuan :p. Membacanya dapet, hobi tersalurkan, dan promosi blog sekalian hihihi...

    Semoga kalo aku udh resmi resign nanti, aku jd LBH punya banyak waktu utk update blog sih. Skr baru 2 Minggu sejali. Pgn juga kayak mas prima bisa seminggu sekali :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. 10 per hari? Banyak ya. Baiklah, let me try to catch up.

      Wish the best for you mbak.

      Delete
  2. Kadang saking seriusnya mau nulis. Lupa mau nulis apa.

    Ya kan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...iya, udah nunggu lamaaaa, nggak muncul2 juga idenya

      Delete
  3. Betul banget nih mas..

    ReplyDelete
  4. Aku nulis blog kalau ada yang ngejar-ngejar kak, maksudnya kalau ikut komunitas, challenge atau job dan target sendiri yang akhirnya menyemangati

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, nggak capek tuh kejar2an terus? 😅

      Whatever it is, tetep semangat ya.

      Delete

Post a Comment

Bagikan tanggapan, kritik maupun saran kamu tentang tulisan ini.

Jangan lupa klik subscribe sebelum pergi.