Nggak Usah Minder

minder


Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada yang lebih di satu hal, tapi kurang di hal lainnya, begitu pula sebaliknya. Tapi, nggak tahu kenapa, selalu ada hasrat dari dalam diri untuk membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. 

Celakanya, seringkali yang dibandingin itu adalah kelebihan orang lain dibandingkan kekurangan kita. 

Membandingkan betapa buruknya kualitas tulisan kita dengan kualitas tulisan orang lain yang jam terbangnya lebih tinggi, membandingkan ketidaksuksesan kita dengan kesuksesan orang lain yang bekerja lebih keras dan cerdas dari kita. 

Sehingga, ending-nya kalau nggak minder, ya nyinyir.

Kalau kamu termasuk orang seperti itu, mungkin beberapa ide berikut bisa kamu terapkan supaya kamu nggak perlu lagi 'menyiksa diri' setiap kali ada orang lain yang, kaya-kayanya, lebih hebat darimu.

1. Jadikan Mereka Teman Baikmu

Pergaulanmu membentuk siapa dirimu. Jika kamu bergaul dengan orang-orang baik, kecil kemungkinan kamu jadi tidak baik. Demikian pula sebaliknya.

Jika kamu berteman dengan orang-orang hebat, ya rasio kemungkinan kamu ketularan hebat pun akan meningkat. Karena value mereka akan memengaruhi value kamu, cara kamu berpikir, cara kamu bertindak dalam situasi sulit dll.

Oya, ngomong-ngomong soal berteman, please be sincere. Yang tulus kalau temenan, jangan ada hidden agenda. Kamu nggak suka kan kalau ada orang yang baik sama kamu tapi ujung-ujungnya pinjam duit.

Tulus tanpa tapi.

Udah, temenan ya temenan aja.

2. Lihat Dan Pelajari

Setiap orang punya personal value yang membentuk cara mereka berpikir, merasa dan bertindak. Kalau kamu termasuk yang beruntung, berada di lingkungan orang-orang hebat, jangan buang tenaga dan waktumu untuk  minder dengan segala kelebihan dan kekuatan mereka.

Kamu juga bisa kok sehebat mereka, asal kamu mau belajar. Perhatikan bagaimana orang-orang itu menyikapi sebuah situasi, pertimbangan-pertimbangan apa yang mereka jadikan dasar dalam mengambil keputusan.

Lalu, coba dan lihat hasilnya.

Jangan sungkan apalagi malu bertanya. Nggak apa-apa kok. Lebih baik dikira bodoh daripada dikira pintar. Setuju?

Saya bisa bilang seperti ini karena kebetulan I'm one of that lucky dude yang berada di tengah orang-orang hebat. Dari keluarga, rekan kerja, hingga tetangga.

Apakah saya pernah minder, nggak percaya diri? Every single damn day

Tapi saya pikir-pikir, kenapa saya harus merasa rendah diri. Bukan kah berada di tengah-tengah mereka merupakan anugerah yang harusnya saya syukuri. Kan saya jadi terpaksa improve tuh kalau lingkungannya seperti itu. Terus kalau saya sudah improve yang untung siapa kalau bukan saya sendiri.

Ya memang sih proses improvement, belajar dari pengalaman itu sakitnya ampun-ampun. Tapi it's worth kok.

3. Gunakan Mereka

Hmm...mungkin pemilihan katanya kurang tepat, tapi serius lho, kamu bisa kok menggunakan orang-orang hebat di sekitarmu itu untuk dirimu. Asalkan kamu tahu caranya.

Bayangin dirimu sebagai seorang event organizer. Nggak semua EO tuh punya bisnis katering, dekorasi, atau pun make up artist kan? Tapi somehow mereka bisa menggabungkan orang-orang dengan keahlian khusus ini menjadi satu, meng-organize mereka sehingga membawa keuntungan buat si EO. 

Kamu juga bisa kok. Misalnya nih, kamu punya kenalan orang yang jago main gitar. Di saat yang hampir bersamaan, kamu juga kenal beberapa pengamen jalanan yang keterampilan musiknya pas-pasan. 

Dengan konsep EO ini, kamu bisa lho 'menggunakan' temenmu yang jago main gitar itu untuk berkontribusi bagi orang lain dengan jalan coaching clinic ke para pengamen itu. 

Itu yang saya lakukan dulu ketika masih bekerja di HRD bagian Pelatihan & Pengembangan SDM.

Dengan anggaran pelatihan 'hanya' 100 juta untuk setahun, kami pun terpaksa memutar otak untuk tetap menyelenggarakan program-program pelatihan.  

FYI aja, biaya training itu harganya sekitar 3-5 jutaan per orang, per training. Dengan jumlah permintaan training sebanyak 2000-an orang.

Ajib nggak tuh.

Ya, akhirnya kami berupaya untuk memaksimalkan sumber daya yang ada. Kami buka-buka lagi tuh, data karyawan yang sudah pernah berangkat training. Kami minta mereka share knowledge ke rekan-rekan mereka dengan kami sebagai fasilitatornya.

Hasilnya not bad. Malah karena yang share itu rekannya sendiri jadinya lebih nyantol dan best practice.


***

Jadi, udah nggak perlu lagi merasa minder sama kelebihan orang lain. Siapa tahu, orang-orang yang kamu minderin itu sebenarnya adalah asetmu yang paling berharga. Kamu cuma perlu tahu bagaimana cara 'menggunakan'-nya dengan benar.