Untukmu Yang Perlu Teman Bicara

Unsplash


Hidup tanpa masalah? Rasanya nggak mungkin lah ya. Masalah itu sudah jadi satu paket tak terpisahkan dalam kehidupan. Menolak masalah, sama juga menolak hidup.

Karena kita sudah sama-sama tahu kalau hidup itu pasti nggak bisa lepas dari masalah, jadi yang bisa kita lakukan adalah mencari cara untuk menangani masalah-masalah itu dengan sebaik-baiknya.

Ya mau gimana lagi? Menolak hidup juga tar ada kehidupan setelah kehidupan kita saat ini, yakin masalah di kehidupan berikutnya nggak akan lebih berat dari masalah yang kita hadapi sekarang?

Setiap masalah itu diciptakan bersama dengan solusi. Namun sayangnya, walaupun bikinnya sepaket, tapi ngirimnya terpisah.

Biasanya masalah dikirim duluan daripada solusinya. Nggak jarang, solusinya baru datang jauh setelah masalah dikirim, dan sampai masalah tersebut sudah beranak pinak, menjalar ke mana-mana.

Stres? Ya iya lah. 

Apalagi kalau masalahnya semakin berlarut tanpa ada titik terang. Seperti pandemi Covid-19 yang kita hadapi sekarang.

Gimana mau cari solusi kalau kitanya sudah sumpek, bludreg, sepet sama permasalahan yang menjalar ke berbagai aspek kehidupan ini.

Yang ada malah makin tertekan dan terpuruk.

Kita Perlu Teman Bicara

Punya seseorang yang bisa diajak berbagi tentang apa yang kita pikirkan dan rasakan, bisa sangat membantu. Minimal, meringankan isi pikiran dan perasaan yang campur aduk nggak karuan.

Jika kamu memiliki saudara, teman atau sahabat yang bisa diajak berbagi 'penderitaan', maka kamu patut bersyukur. Nggak semua orang punya sosok seperti itu dalam hidupnya.

Alih-alih meringankan beban, salah memilih teman bicara, bisa-bisa malah bikin tambah stres dan depresi.

Karena itulah, seruwet-ruwetnya dan sebludhreg-bludhregnya kita dengan masalah yang kita hadapi, kita perlu berusaha waras memilih dengan siapa kita perlu berbagi.

Bicara Dengan Profesional

Seperti saya sampaikan sebelumnya, tidak semua orang beruntung memiliki teman bicara yang mampu mengerti dan memahami apa yang kita rasakan. Ketakutan, kecemasan, kekhawatiran kita atas apa yang akan terjadi nanti.

Jika kamu termasuk yang tidak seberuntung itu, seperti saya, bagaimana kalau kita bertanya kepada seorang profesional, psikolog misalnya.

Ini yang saya lakukan beberapa waktu lalu, di tengah ketidakpastian dan ketakutan saya atas apa yang akan terjadi di kemudian hari. Saya bicara dengan psikolog profesional.

Ceritanya, ada beberapa hal terkait pekerjaan dan yang saya cemaskan karena terkait dengan keluarga saya. Saya nggak punya siapa pun untuk diajak berbagi tentang apa yang saya rasakan, nggak ke orang tua, nggak juga ke pasangan saya.

Akhirnya saya simpan sendiri. Act as if there's nothing happen.

Kemudian, beberapa waktu berlalu, sebuah WA Story dari seorang kawan menarik perhatian saya. Sebuah banner tentang layanan telekonseling gratis oleh sebuah biro konsultasi dan layanan psikologi di Surabaya.

Hmm...mungkin inilah yang saya cari-cari.

Saya teringat cerita mbak Rey yang pernah berkonsultasi dengan psikolog terkait permasalahan yang ia hadapi. Dan, itu salah satu hal yang membuat saya berpikir, bicara dengan psikolog maybe is the right move

Saya screen shot WA Story itu lalu saya pelajari dengan seksama program tersebut. 

Layanan telekonseling yang difasilitasi oleh psikolog profesional ini dilakukan dalam rangka membantu masyarakat, mengkomunikasikan kekhawatiran dan kegelisahan yang mereka rasakan sebagai imbas dari wabah pandemi Covid-19.

Kebetulan banget.

PKLP Ubaya

Booking Janji Konseling

Dari informasi yang saya pelajari tersebut, berikut adalah tata cara pendaftaran konseling yang saya lakukan.

Pertama, saya mengakses ke sebuah tautan yang mereka sediakan dan mengisi informasi-informasi yang diperlukan ke dalam e-form.

Lalu, saya mengaktifkan aplikasi Google Hangout yang selama ini saya atur ke mode disable, karena proses telekonseling akan dilakukan melalui chatting menggunakam Google Hangout.

Dan, saya tinggal menunggu respon dari biro psikologi itu, soal jadwal telekonseling.

Hari Konseling

Beberapa hari menunggu tanpa kabar, membuat saya berpikir negatif. Jangan-jangan programnya sudah selesai, jangan-jangan saya telat registernya, dan jangan-jangan lainnya.

Maklum, dari kecil udah biasa makan jangan (jangan asem, jangan lodeh, jangan bening). Makanya, udah besar jadi gampang jangan-janganan. #eh

Singkat cerita, pihak biro psikologi itu akhirnya menghubungi saya untuk mengkonfirmasi jadwal telekonseling.

Cerita berlanjut ke hari telekonseling. 

Saya mulai menceritakan perihal masalah yang saya alami, kekhawatiran saya dan kecemasan saya. 

Di awal, tampaknya masalah yang saya hadapi, merupakan masalah komunikasi saya dengan pasangan. Saya yang enggan memulai komunikasi terbuka dengan pasangan karena takut menerima kritikan, sehingga masalah demi masalah berlarut-larut tanpa terselesaikan.

Namun, dari telekonseling itu saya menemukan sebuah titik terang yang mungkin, menjadi akar permasalahannya. Istilahnya itu work life balance.

Ketika psikolog itu menyebut istilah work life balance, saya terdiam. Dalam hati saya mulai mempertanyakan sejauh mana keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan saya. Dan, saya sampai pada kesimpulan bahwa, my life is not balance karena saya lebih mencintai kehidupan profesional saya dibandingkan keluarga saya.

I don't know ya, mungkin karena dalam lingkungan pekerjaan saya, everything is crystal clear. Benar dipuji, salah dicaci, lalu memperbaiki diri. 

Selain itu, saya juga merasa lebih bergairah di dalam pekerjaan karena saya merasakan iklim kompetisi di sana. Saya berada di tengah-tengah orang-orang hebat dan berpengalaman di pekerjaannya, sehingga memotivasi saya untuk bisa catch up as soon as possible dengan mereka.

Di rumah, bisa dibilang saya nggak ada siapa pun untuk dikalahkan atau dilampaui. No one but me and my self.

Tantangannya di rumah kan bukan bagaimana saya bisa menjadi lebih baik dibandingkan istri saya atau anak saya yang berusia 6 tahun. Tapi, bagaimana saya bisa menjadi lebih baik dari saya kemarin.

The thing is gimana caranya saya berkompetisi dengan orang yang tidak berada di hadapan saya. Mungkin itulah ada nasehat, bahwa musuh terbesar kita adalah diri sendiri. Ya karena ia berada di dalam diri kita, dan seringkali luput dari pengamatan kita.

Tampaknya, hal 'sesederhana' itu telah menjadi akar dari setiap permasalahan saya di keluarga. Dari komunikasi yang buruk, keengganan untuk ikut membantu melakukan pekerjaan rumah tangga, hingga temperamen buruk saya ke anak saya.

My work life is completely imbalance.

Sekarang, setelah muncul titik terang, PR saya adalah mencari beberapa alternatif tindakan untuk mengatasi permasalahan ini.

Knowledge is power, but only action change things.

Iya lah, tahu aja tapi nggak ngapa-ngapain ya sama aja bohong. 

Sesi telekonseling ini membantu saya untuk melihat sisi lain dari permasalahan yang saya hadapi, dan saya bersyukur karenanya.

PKLP Ubaya

Penutup

Masalah adalah bumbu kehidupan. Apabila takarannya sesuai, maka hidup akan menjadi lezat dan sedap. 

Kita tidak bisa mengubah masalah, tapi kita bisa kok, mengubah cara pandang kita terhadap masalah tersebut. 

Terkadang, kita perlu orang lain untuk membantu melihat sisi lain permasalahan kita. Mungkin karena kacamata kita sudah terlalu kotor, sehingga tak bisa digunakan untuk melihat dengan baik.

Semoga esai singkat ini bisa bermanfaat. Setiap orang perlu teman bicara, siapa tahu program teman bicara ini adalah yang kamu cari selama ini.

***

Sebelum kamu pergi, bisakah saya minta waktunya untuk mengisi form kritik & saran? Supaya saya bisa terus memperbaiki kualitas blog ini untukmu. Klik di sini untuk mulai mengisi.

4 comments:

  1. Tulisan yang menarik. Akhir-akhir ini saya lebih menyukai buku-buku tentang psikologi, pengembangan diri. Membaca beberapa postingan terkait heal yourself, yah membuat saya lebih lega. Atau malah sekarang berlatih untuk menulis agar sedikit merapikan pikiran.

    Teman bicara begitu penting, saya juga termasuk orang yang kurang beruntung, karena saya terlalu pemilih untuk membagikan cerita kepada orang lain. Ada rasa was-was di dada. Masalah memang selalu muncul di awal ya, dan solusi hadir belakangan😌

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak masalah sih kalau picky sama teman bicara, harus malah. Salah pilih bukannya malah menyelesaikan masalah, tapi bikin tambah runyam.

      Delete
  2. Aku jujurnya agak susah utk cerita dgn org yg aku ga kenal mas. Walopun memang profesinya sebagai psikolog ato psikiater gitu. Ntahlah, ngerasa ga nyaman gitu. Tapiiii aku msh bersyukur ada suami tempat aku curhat kalo memang udh kepaksaaa banget :D.

    So far sih masalah2 yg DTG kayaknya msh bisa kehandle Krn bantuan dr suami. Makanya aku blm menganggab bantuan dr para ahli itu perlu buatku. Tp bukan berarti underestimate keberadaan mereka yaa. Seperti mas bilang, utk org2 yg memang kurang beruntung untuk menemukan temen bicara, bisa jadi psikolog dan psikiater ini pasti sangat membantu :)

    ReplyDelete

Bagikan tanggapan, kritik maupun saran kamu tentang tulisan ini.

Jangan lupa klik subscribe sebelum pergi.
EmoticonEmoticon

Connected