Gaji Nggak Seberapa, Kerjaan Nggak Kira-Kira


kerja


Beberapa hari lalu, salah seorang kawan sambat mengenai dampak perubahan organisasi yang ia alami di tempat kerjanya. 

Selain pekerjaannya saat ini, ia juga diserahi tanggung jawab atas fungsi lain yang PIC-nya dirumahkan sebagai dampak lanjutan pandemi #covid19. 

Sebagai kawan yang baik, tentu saja saya bersimpati terhadap apa yang ia alami, walau sempat terlintas di dalam hati, bukannya situasimu ini lebih baik daripada temanmu yang dirumahkan. 

Kemarin, saya ada janji temu dengan seorang kawan lain yang tampaknya nasibnya tak jauh beda dengan apa yang kawan saya alami ini. 

Wajahnya kusut penuh tekanan target dari sayap kiri dan kanan. Belum pula request-request dadakan yang sifatnya super urgent (ngasihnya pagi, deadline-nya kemarin). 

Di sela-sela obrolan kami, iseng saya nanya, gimana nih situasi saat ini dengan berbagai perubahan di sana sini. 

Sambil menarik nafas panjang, ia pun menceritakan tentang kondisi pekerjaannya, di mana ia harus mengambil alih fungsi yang ditinggal PIC sebelumnya. Ditambah beban kerjanya sendiri, tentu saja ini tidak mudah. 

Namun, di satu sisi ia mensyukuri situasi ini. Selain penambahan pekerjaan itu menunjukkan bahwa perusahaan masih membutuhkan dirinya, ia juga jadi tahu bagaimana dapur di fungsi yang ia ambil alih dan menyusun rencana-rencana perbaikan ke depan. 

Ia belajar banyak hal dari proses-proses di fungsi tersebut dan korelasinya dengan proses bisnis di departemennya. 

Hmm...bijak sekali Anda Pak. Ia hanya tersenyum dan kami pun kembali ke topik pertemuan kami. 

***

Lucu juga sih kalau dipikir-pikir, bagaimana sebuah situasi yang sama (atau kurang lebih mirip) ditanggapi berbeda. 

Yang satunya sambatan karena ketambahan kerjaan, satu lagi mensyukuri dan melihat peluang dari situasi tersebut. 

The problem is not what happen on you, it's what happen in you - Marie Forleo 

Cara kita melihat dan menyikapi sesuatu ternyata membawa perbedaan signifikan pada hasil kerja dan...hidup kita. 

Saat kita terlalu fokus dengan pahit getirnya jamu, kita jadi mudah sekali lupa khasiat yang kita dapat setelahnya. 

Kesempatan-kesempatan untuk belajar dan mencoba hal baru atau sekedar testing, sejauh mana sih kita bisa melar dan bertumbuh, secara profesional maupun personal. 

Jadi, kenapa nggak mulai aja mengubah cara pandang kita terhadap situasi-situasi yang kita hadapi? 

Nggak sulit kok. 

Mulai saja dengan mengganti kosa kata harian dari YA NGGAK BISA menjadi BISA NGGAK YA