Pelanggan Paling Setia Itu Bernama Keluarga

Harta yang paling berharga adalah keluarga

Pilih mana, punya pelanggan yang puas atau pelanggan yang bayar?

Hehehe...pertanyaan yang sulit bukan?

Puas tapi nggak bayar, atau bayarnya suka telat alias ngutang, nggak sehat buat bisnis. Ya kan?

Tapi, bayar kalau nggak puas, terus cuap-cuap ke mana-mana, bahaya juga.

Ya, memang seyogyanya jangan extreem to extreem gitu lah. Ya setiap pebisnis (koreksi kalau saya salah) mau memiliki pelanggan yang puas dan loyal pada produk atau jasa mereka. Karena puas itulah, mereka nggak keberatan membayar.

Pada dasarnya, bisnis kan aktivitas menolong orang yang dibayar. Maka, tolonglah dulu baru minta bayaran.

Memuaskan Pelanggan

Gimana sih caranya membuat pelanggan mau bayar?

Simpel aja, rebut hati mereka dengan memberikan produk, jasa dan pelayanan yang mereka butuhkan dan memuaskan.

Biar produk, jasa dan pelayanan kita sudah sesuai harapan, kita bisa bertanya dan mendengar mereka. Nggak sulit toh?

Tanyakan, apa masalah mereka selama ini, kendala-kendala mereka. Apakah produk dan jasa kita sudah cukup mampu memecahkan permasalahan mereka? 

Dari situlah kita bisa menentukan apa langkah selanjutnya yang perlu kita ambil. 

Apakah kita perlu berinovasi dengan fitur produk atau menawarkan promo-promo yang menarik perhatian dan meningkatkan loyalitas mereka akan brand kita.

Segitu amat ya sama pelanggan?

Ya iya lah, kan bisnis itu gimana-gimana butuh pelanggan toh.

Pelanggan Lain

Eh bentar, dari tadi ngomongin pelanggan dan pelanggan, kamu tahu nggak kalau yang namanya pelanggan itu nggak melulu pembeli lho. Atasan, bawahan, rekan kerja itu juga pelanggan kita.

Mereka, orang-orang yang proses kerjanya terhubung dengan proses kerja kita juga bisa disebut sebagai pelanggan. Kalau di tempat saya, kami menyebut mereka sebagai user.

Mantan bos saya dulu sering mengajarkan saya untuk memiliki mentalitas seorang pebisnis dalam menghadapi user atau pelanggan ini.

Artinya, kita harus proaktif bukan birokratif. Beri solusi bukan sekedar janji.

Memang memuaskan pelanggan itu effort-nya luar biasa berat. Namun, soon or later, kita juga kok yang akan menuai hasilnya. 

Jadi, penting sekali untuk memahami siapa pelanggan kita, apa masalah mereka, karakter mereka supaya kita bisa memberikan pelayanan yang terbaik. Mereka senang, kita pun gembira.

Namun, balik lagi. Jangan suka extreem to extreem kalau jadi orang. Memuaskan pelanggan itu nggak berarti kita harus selalu ada 24/7 di sisi mereka lho. 

Kita juga punya kehidupan lain kan, jadi jaga lah biar tetep seimbang.

Salah satu cara sederhana (tapi nggak mudah) adalah membangun sistem dan mengedukasi mereka untuk menggunakan sistem tersebut.

Perlu waktu, tenaga, pikiran dan biaya yang nggak sedikit untuk membangun sistem yang baik. Tapi, hasilnya sepadan.

Pelanggan Yang Sering Terlupakan

Dari tadi, kita sudah ngomong banyak tentang pelanggan. Jadi sudah sama-sama setuju dong kalau kepuasan pelanggan itu adalah mutlak bagi setiap bisnis.

Anyway, semoga kamu nggak lupa, ada lho pelanggan lain yang selama ini selalu setia sama kita walaupun pelayanan kita nggak bagus-bagus amat. Bolak-balik dikomplain, masih aja gitu-gitu mulu.

Tahu nggak, siapa mereka?



Yap, 100 buat kamu (dipotong pajak) jika kamu menjawab KELUARGA.

Sadar nggak, bahwa seburuk apapun service kita sebagai pasangan dan orang tua, mereka lho tetap setia nggak ke mana-mana. Mereka masih mau 'menggunakan' kita meskipun mungkin mereka ya...nggak puas-puas amat.

Bahkan mungkin, sebenarnya mereka bisa saja sih cari vendor lain. Tapi, ya nggak mereka lakukan toh.

Pertanyaannya buat kamu dan saya sekarang, sudah sejauh mana sih effort kita memuaskan pelanggan (baca: keluarga) setia kita itu? Jangan-jangan malah nggak pernah dipikirin. Kepedean kalau kesetiaan mereka takkan lekang oleh waktu, biar pun service kita gitu-gitu mulu.

Hmm...ya moga-moga aja mereka akan terus setia sekarang atau 50 tahun lagi sama kita.

Semoga saja kita semua segera tersadar bahwa kita ini pemilik bisnis dan keluarga sebagai pelanggan. Karena itulah, sudah seyogyanya kita terus-menerus bertanya, mendengar dan memperhatikan, sudah sebaik apa sih produk dan jasa kita itu menjadi solusi permasalahan yang mereka hadapi.

Jadi gimana kalau semua teori atau informasi tentang cara memuaskan pelanggan itu mulai kita terapkan untuk keluarga. Ya, setidaknya, setelah kamu selesai membaca esai ini deh.

Sebelum semuanya terlambat... .

7 comments:

  1. makasih sharingnya, saling ya, jangan hanay satu pihak saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyap, saling memperlakukan anggota keluarga sebagai pelanggan ya bun.

      Delete
  2. Merasa kesentil nih.

    Iya, sering banget kejadian apa2 share ke temen, minta bantuan ke temen, lalu kesel sama temen, lupa kalo ada yang bisa dengan sedikit kemungkinan membuat kita keselnya, ialah keluarga. thank for reminding me, Mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm...ya semoga bermanfaat ya mbak 😊

      Delete
  3. Wah, baru tahu juga kalau keluarga adalah pelanggan kita! Biasanya sih, ke orang lain atau pelanggan lain malah bagus, eh, ke keluarga sendiri atau pelanggan kita itu malah kurang bagus, sukanya marah-marahdan perilaku jelek lainnya. Semoga kita dihindarikan dari yang seperti itu!

    ReplyDelete
  4. Kalo melayani pelanggan yg juga sesama karyawan, itu aku sebutnya sebagai internal customer :). Tetep sama2 hrs diperhatikan, dilayani layaknya external customer.

    Malah kalo di tempatku, terkadang internal customer ini malah LBH resek dibanding yg external hahahaha. Apalagi kalo yg komplain selevel petinggi2 atas. Uwaaah bisa kemana2 mas yang ngurusin komplainnya :p. Aku prnh ngerasain sendiri soalnya.

    Tp memang keluarga lah sbnrnya yg jd pelanggan kita yg paling utama dan setia ya :D. Walo sering dilupain.cm buatku, gpp deh pak suami ksh service ke keluarga mungkin kurang maksimal, yg ptg uang bulanan dan gaji ttp lancar hahahaha...

    ReplyDelete

Bagikan tanggapan, kritik maupun saran kamu tentang tulisan ini.

Jangan lupa klik subscribe sebelum pergi.
EmoticonEmoticon

Connected