Mensyukuri Nikmat-Nya

racun


"Mbak, request-nya boss yang kemarin apa sudah dikerjakan?" tanya atasan saya ke Mbak Dina, rekan kerja yang duduk bersebelahan dengan saya.

"Oh belum hehehehe...," jawabnya enteng. Spontan saya menyela, "Lho katanya kemarin udah?" Karena saya ingat betul, kemarin Mbak Dina bilang kalau dia sudah selesai mengerjakan request tersebut.

"Buruan dikerjakan Mbak, nanti sewaktu-waktu diminta lho," tegur Mbak Rinda, atasan kami. 

"Ah nggak ngurus, ntar aja hehehe...," balasnya tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Saya melihat Mbak Rinda hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Mbak Dina itu. Saya pun cuma bisa tertegun melihatnya.

Sempat terlintas pertanyaan, kok bisa dia bersikap sedemikian tidak bertanggung jawab atas tugas yang ia terima. Namun urung saya tanyakan karena jawabannya sudah jelas, "Ya bisa aja."

Pemandangan ini bukan yang pertama kali saya lihat dari perilaku Mbak Dina. Beberapa kali ia juga terlihat ogah-ogahan mengerjakan tugas yang ia terima. Mulai nggak ngerti apa yang harus dikerjakan hingga enggan mendatangi PIC dari departemen terkait tugas tersebut.

Sebagai orang baru di departemen ini, kondisi ini cukup membuat saya shock. Kok bisa sih, perilaku semacam ini lestari hingga hari ini.

Kalau di departemen saya sebelumnya, sudah pasti tidak ada toleransi untuk sikap semacam ini. 

Melihat sikap Mbak Dina yang berbanding 180° dari dua rekan saya lainnya, Mbak Rinda dan Mbak Ana, saya jadi gemas sendiri. Dengan tuntutan dan tekanan tinggi dari boss, saya kerap melihat Mbak Rinda dan Mbak Ana pontang-panting, berusaha menyelesaikan tugas demi tugas hingga selesai. Sesulit apapun itu.

Pemandangan yang jauh berbeda saat melihat Mbak Dina. Pernah suatu hari ia menerima email penugasan dari boss kami. Alih-alih mencoba memahami tugas itu, ia dengan reaktif langsung mempertanyakan tugas itu dan bagaimana tugas tersebut merupakan tugas yang tidak mungkin bisa dikerjakan.

Mending kalau dibatin sendiri. Lah ini, kenceng banget ngomelnya.

Karena penasaran, saya tanya lah, apa sih tugas yang bikin dia kebakaran jenggot (padahal dia nggak berjenggot).

Ternyata, penugasan tersebut cukup sederhana. Ia hanya perlu membuat sebuah draf SOP berdasarkan informasi yang sebenarnya juga sudah ada di email tersebut.

Memang sih ada beberapa informasi yang kurang lengkap. Namun, solusinya simpel aja menurut saya, datangi pihak terkait, tanya, selesai.

Itu pun, tidak dikerjakan.

Marah sih sebenarnya. Kalau saya jadi atasan Mbak Dina, tentu saya sudah menerbitkan surat peringatan dengan alasan mangkir tugas. Gemes aja gitu lho melihat perangainya yang serba ogah-ogahan.

Kaya-kayanya, ia selalu bisa menemukan alasan sebuah tugas/pekerjaan tidak bisa diselesaikan daripada sebaliknya.

Walaupun sedih dan marah, plus bertanya-tanya "kok bisa", tapi diam-diam perilaku Mbak Dina ini mengingatkan saya pada diri saya sendiri beberapa tahun lalu.

Ogah-ogahan dalam bekerja, tanpa perencanaan dan target, bekerja sesuai mood, dan tergantung sekali dengan orang lain. Gambaran itulah yang saya miliki tentang Mbak Dina yang persis sekali dengan saya yang dulu.

Yang membuat saya memilih berubah adalah saya mulai melihat cara saya memperlakukan pekerjaan saya sebagaia bentuk syukur kepada-Nya. Kalau saya kerjanya nggak serius, saya tak ubahnya seperti sedang tidak mensyukuri nikmat-Nya dalam bentuk pekerjaan ini.

Selain itu, jika saya tidak mengerjakan tugas atau asal-asalan ngerjainnya, apakah gaji yang saya terima tiap bulan bisa jadi berkah dan halal? Padahal gaji itu saya gunakan untuk menafkahi keluarga saya.

Masa iya saya menafkahi keluarga, pelanggan setia saya dengan rejeki yang unberkah dan unhalal. Bisa gawat tuh.

Tapi ya, sepertinya setiap orang memiliki value sendiri dalam memaknai etos kerjanya. Sesuatu yang saya nggak bisa saya samakan dengan value saya kan.

Saya bukan atasannya, teman dekat juga nggak, jadi nggak banyak yang bisa saya lakukan untuk mengubah Mbak Dina. Apa yang bisa saya lakukan hanyalah memastikan perilakunya tidak mengganggu kerja saya dan mendoakannya, sambil berusaha tidak terpengaruh negatifitas yang ia sebarkan setiap hari dengan keluhan dan sambatannya itu.

Itu saja.