Berdamai Dengan Masa Lalu

Berdamai Dengan Masa Lalu



Masa lalu menyimpan sejuta kenangan yang kadang, sulit untuk dilupakan. 


Kenangan manis bersama teman dan sahabat, pencapaian-pencapaian yang membanggakan, penuh suka cita, hingga momen-momen memalukan dan menyesakkan.

Sebagai orang yang by default berorientasi pada masa lalu, susah move on, tak jarang saya berandai-andai bisa kembali ke beberapa momen di masa lalu. Memperbaiki kesalahan dan kebodohan yang pernah saya lakukan, hingga sekedar mengulang suka cita yang pernah saya rasakan kala itu.

Kadang, begitu dalamnya saya tenggelam dalam lamunan untuk memutarbalikkan waktu, membuat saya melupakan betapa indahnya kehidupan yang saya jalani hari ini.

Tinggal di rumah yang sangat nyaman bersama istri dan anak, melakukan pekerjaan yang saya sukai, menjalin relasi dengan kawan-kawan dengan minat yang sama akan dunia penulisan, dan masih banyak lagi.

Di luar sana, mungkin ada orang yang memandang saya dengan iri dan berandai-andai untuk bisa bertukar posisi dengan saya.

Mungkin kalau mereka tahu betapa tidak menghargainya saya dengan hidup yang saya jalani, mereka akan dengan senang hati menggantikan saya dan menjalani hidup saya.

Lalu, masih pantaskah saya asyik dengan lamunan kembali ke masa lalu, berharap bisa memperbaiki kesalahan yang pernah saya perbuat?

Alangkah bodohnya saya yang tenggelam dalam angan semu hingga lupa untuk menjalani hari ini sepenuh hati. 

MENERIMA & BERDAMAI DENGAN MASA LALU


Tidak mudah menerima masa lalu dengan begitu banyak penyesalan atas apa yang telah terjadi.

Namun, sejujurnya tak sedikit dari kejadian-kejadian memalukan dan kegagalan-kegagalan itulah yang telah memaksa saya mengembangkan kapasitas saya. 

Tentu saja, rasanya tidak enak saat melihat ke belakang, mengingat momen-momen memalukan itu. Tapi, saya harus belajar dan memaksa diri saya untuk berkata, "ya sudahlah".

Lagi pula, andai pun saya dapat kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan-kesalahan saya. Bukankah itu artinya saya sedang membuat masa depan yang baru? Apakah di masa depan yang baru ini, ada jaminan saya tidak melakukan kesalahan serupa, atau lebih buruk lagi? Lalu, apa saya harus kembali lagi ke masa lalu dan mengubahnya lagi dan lagi?

Apa yang sudah terjadi, ya sudah terjadilah. Mau diapain lagi, toh sudah terjadi.

Daripada terjebak dalam putaran waktu, kenapa nggak mempersiapkan diri untuk hal-hal yang belum terjadi di masa depan, sembari menjalani hari ini dengan penuh rasa syukur.

Tak ada bedanya bukan?

KESIMPULAN


Kembali ke masa lalu dan mengubahnya tak jauh berbeda dengan melakukan hal berbeda hari ini untuk menyongsong hari esok yang penuh harapan.

Segala hal yang telah kita lalui di masa lalu, membentuk siapa kita hari ini. Terima itu.

Kalau kita kurang puas dengan kehidupan kita hari ini, bukan masa lalu yang harus diubah, melainkan tindakan kita hari ini. Supaya tak ada lagi penyesalan di masa yang akan datang.

Bagaimana denganmu? Apa kamu termasuk tipe orang yang susah move on? Bagaimana caramu berdamai dengan masa lalumu?